Sudah dibaca 470 kali

Di toko buku itu, di hari yang masih pagi, ada dua orang gila tersesat.

TIBA-TIBA aku merasa jadi gila. Suara-suara kecil yang sedari tadi menggelitik gendang telingaku berangsur membesar menjadi dengungan bah. Mereka seakan memenuhi dinding-dinding telingaku dan meninggalkan karat di tiap jejak yang mereka pijak.

”Akh!” Aku berteriak. Berusaha mengentaskan kekacauan anyar itu. Namun aku segera mengucak mata, berulang kali, demi menegaskan pandangan dan berharap bahwa itu hanya khayalan: buku-buku yang menumpuk tinggi berdiri. Keluar dari empat sudutnya sepasang kaki dan tangan. Sepotong kepala, hidung, dan mulut sekonyong-konyong keluar dari sampulnya.

Mereka berdiri, memandangku sebentar, lalu menyeringai. Sebentar aku bergidik. Aku membungkam mulut, menahan napas, dan mengandaikan mereka sebagai vampir yang tak mengenali makluk tak bernapas. Tapi aku gagal mewujudkan khayalan itu. Sebab, dari belakang tubuhku, tangan-tangan kecil menarik punggung, bahu, pantat, dan kakiku.

Aku menoleh mereka menyeringai. Tak berapa lama kemudian, dari depan, sebuah buku melompat dan menerjang dadaku.

”Buk!”

Pukulannya telak mengenai ulu hatiku. Aku jatuh tersungkur, menahan nyeri yang menggigit-gigit usus dan empedu. Sekuat tenaga aku mencoba berdiri, namun dua, tiga, empat, sepuluh, seratus buku menderap punggungku hingga aku kembali tersungkur.

Di atas punggungku mereka berlompat-lompatan, berteriak-teriak, seolah mengandaikan tubuhku kasur empuk penawar kantuk. Di antara upaya beratku mengangkat kelopak mata yang keras mengatup, kulihat buku-buku menepi membentuk sebuah koridor. Di ujung koridor, samar tampak sebuah buku tebal-besar berjalan penuh kesombongan. Perutnya buncit. Kedua tangannya terlipat di depan dada membusungnya. Dagunya terangkat sementara pandangnya membidik-bidik ke arahku dari ujung matanya yang menyipit. Bibir bawahnya maju sedikit membuat keseimbangan mimik. Aku terpana.

Kukira ia akan menghampiriku dan mengucapkan kata-kata penuh fitnah. Di pertigaan rak, ia membelok ke kanan sembari berkata pada khalayak buku, ”Bawa dia!”

Buku-buku sialan di atas punggungku kompak menyingkir, membuat dadaku sedikit bernapas lega. Belum sempat bangkit, tangan-tangan kuat menarik baju bagian bahuku.

Mereka menyeretku. Anehnya, bisa saja tubuhku terseret melewati lika-liku kelokan rak buku. Di bawah tangga, sebuah buku berbadan besar berkata, ”Kami yang menyeretmu ke atas, itu artinya kami tak menjamin keselamatanmu bila tiba-tiba kamu jatuh terpelanting, atau kamu ke atas dengan kakimu sendiri.”

”Tak ada pilihan lain?” Aku coba menawar.

”Tidak!”

”Benarkah?”

”Aku tak akan mengulang kalimatku untuk kedua kali!”

Suaranya tegas, menciutkan nyali. Aku merasa tak ada pilihan lain.

Di tengah hujaman ribuan pasang mata buku, aku menyeret kakiku menaiki anak tangga berkarpet merah. Akh, berkali-kali aku merintih menahan nyeri di sekujur tubuh. Ingin rasanya aku mengerjap dan di akhir kerjapan suasana berubah sama sekali: aku berada di tengah pesta dalam sebuah kapal pesiar mewah, di kelilingi perempuan-perempuan cantik yang menggugah selera makan.

Aku ragu apakah kerjapan ini berhasil mengubah keadaan. Namun tak ada salahnya kucoba. Dan…akh, kerjapan sialan! Ribuan pandang mata buku penuh kebencian tetap menusukku.

Di ujung anak tangga teratas, buku berperut buncit itu memberi isyarat agar aku jongkok. Aku menurut.

”Buk!”

Dari belakang buku-buku sialan itu kembali membokongku. ”Hei, adakah yang bisa sopan sedikit?!” hujatku.

Aku tersungkur. Kemudian tangan kekar Si Buku Buncit menarik kerah leherku. Ia baru menghentikan seretannya saat kami berada di ujung persimpangan rak berwarna krem.

”Kamu dengar saja dan jangan coba-coba bertingkah bodoh!” katanya, lirih. Suaranya tegas, dalam, penuh ancaman.

Dari balik rak aku dapat melihat sejumlah buku biografi sedang berkumpul.

”Negeri ini akan jadi bangsa pengemis! Para kapitalis dan kaum neo liberalis berfoya-foya tiap malam merayakan kesuksesannya.” Lelaki gemuk berjenggot berkata berapi-api. Tangannya mengepal kuat.

Lelaki tinggi tegap bertuksedo, sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang gelapnya, berkata, ”Sudahlah. Buat apa memikirkan orang-orang bodoh itu. Biarlah keringat dan kekayaan alam mereka disedot dalam-dalam. Toh mereka juga menikmatinya.”

”Ini ironis sekali!” Seorang berserban putih menghardik.  ”Kalian, yang dijuluki hantu yang gentayangan di tanah Eropa, tak lagi memikirkan nasib kaum tertindas! Pesimisme tak pernah mengalir di urat nadi kami. Enyahlah kalian sana dengan berbagai kebangkrutannya dan biarkan saya mengajak mereka menoleh Mekkah.”

”Hah, ini dia orang penyebar candu itu!” teriak si jenggot tebal. ”Lihat pengikutmu, kepayahan semua! Mereka bodoh dan tak berilmu.”

”Hei, hei, sabar, jangan melakukan kekonyolan. Kamu tahu sendiri menggeneralisasi bukanlah tindakan bijak. Kami punya saudara-saudara yang masih peduli pada kaum tertindas. Tunggu saja tanggal mainnya.” Si Pemilik Serban berkata sopan.

“Tuh, lihat, dia kembali sakau! Ha..ha..ha…!” Lelaki bertuksedo terbahak-bahak. Si jenggot tebal ikut-ikutan terbahak.

“Kalian ini, sudah mati masih saja penasaran. Tawa kalian hanya upaya menghibur diri. Sebenarnya kalianlah yang sedang sakau. Dan orang sakau hanya bisa tertawa melihat tarian para kapitalis dan neo liberalis. Sedangkan kami, yang kalian anggap bodoh, sudah banyak melakukan perubahan. Kalian saja yang tidak tahu dan pura-pura tahu.

“Kami terus belajar dari kesalahan. Memurnikan kembali ajaran dan mengamalkan keteladanan Nabi kami. Kalau kalian sedikit saja membuka pikiran, lalu menelaah sejarah hidup Nabi kami, akan kalian dapatkan pahlawan sejati bagi kaum tertindas. Ia seorang Nabi, panglima, bangsawan terhormat, namun rela hidup serba kekurangan demi kebaikan umatnya.

”Dia melawan segala bentuk kejahatan di zamannya yang dilanggengkan oleh penguasa. Ia menentang perbudakan, melarang riba, melarang pembunuhan terhadap bayi perempuan, peduli pada kaum papa, berperang menghadapi musuh, dan banyak lagi perilaku luhurnya. Dia meletakkan pondasi filosofis dan praktis bagaimana mencapai kehidupan yang sejahtera. Oleh penguasa ia dianggap teroris, ekstremis, pemberontak, tapi kami menganggapnya pahlawan.

”Ajaran yang dibawanya mengilhami miliaran manusia, jutaan kitab, dan aneka ragam tulisan. Menggerakkan orang-orang tertindas untuk bergerak melawan penindasan. Lha kalian, cuma bisa bicara dan buat tulisan sudah menganggap diri hebat. Sombong sekali! Otak kalian di mana, hah?”

Dua orang itu mengkerut. Kemudian wajahnya terlukis sedih. Lalu diam.

Namun tiba-tiba keduanya menoleh ke arahku. Aku terkejut. Mereka melangkah mendekatiku. Memasang wajah sangar. Mengeluarkan samurai dari balik jubahnya. Aku bergidik dan berdiri hendak berlari. Tetapi kakiku tak mau bergerak.

Keduanya mengangkat samurai tinggi-tinggi. Tubuhku seperti patung. Berat sekali.

”Akh!” teriakku sembari menyembunyikan kepala di balik tangkupan kedua tangan ketika dua samurai menghujam ke arahku.

”Ada apa, Mas?” Dari belakang sebuah suara merdu menggelitik gendang telingaku. Ia menarik buku yang digunakannya untuk mengusik bahuku.

”Itu…itu…ada hantu!” ucapku terbata-bata seraya menatap pemilik suara. Sebentar aku terpana. Empu suara seorang gadis berkerudung putih, kulitnya sawo matang, wajahnya ayu memesona. Pandangnya menumbuk lantai. ”Itu, ada han…” Aku kembali menoleh ke depan. Tak ada satu sosokpun.

”Jangan lebay ah, Mas!” Ucap gadis itu sembari ngeloyor meninggalkanku.

AKU memang berada di tengah tumpukan buku Senin pagi itu, pada 8 Februari 2010 yang panas di kota Paris Van Java. Buku-buku itu menjulang di antara rak-rak kayu bercat putih. Jarak antarrak hanya dua badan pengunjung. Tak seperti di toko buku pada umumnya, toko buku di Pasar Palasari itu tak ubahnya gudang buku; desain ruangan tak memberi keluasan pengunjung untuk menikmati keindahan tata letaknya.

Hal tak biasa itulah yang justru membuatku tergugah dan berlama-lama di dalamnya. Susunan buku tematis. Ada papan penunjuk yang tergantung di atas tumpukan buku. Lantai satu berisi buku-buku agama dan anak-anak. Lantai dua buku-buku akademis dan umum.

Aku benar-benar menikmatinya. Ruangan sepertinya sengaja didesain berbentuk perpustakaan. Atau barangkali memang begitu kondisi sebenarnya; banyak koleksi buku tapi ruangannya terlalu sempit untuk menampung.

Aku datang bersama dua teman. Satu dosen STKIP dan Universitas Terbuka di Garut, Jawa Barat. Namanya Nur Komarudin. Di STKIP Nur Komarudin mengajar materi-materi kuliah kependidikan dan di UT mengajar fisika. Satu lagi, Kholis Bakri namanya, wartawan Trans 7. Usai check out dari sebuah hotel bernuansa islami di pinggir Jalan Soekarno Hatta, kami menyambangi Palasari mencari buku.

Di tengah ribuan tumpukan buku itu aku berusaha menjangkau seluruh judul buku. Ada kesenangan tersendiri jika pandang mataku berlompat-lompatan lincah dari satu buku ke buku lain. Pada sejumlah buku yang menarik minatku, hatiku seperti mendengar sapaan halus, ”Beli aku, beli aku.” Kemudian terjadilah pertarungan batin yang berujung pada dua opsi: beli atau tidak.

Kejadian inilah yang kadang membuatku merasa sedang dihinggapi kegilaan. Aku merasa ingin memiliki semua judul buku. Aku meminati semua tema buku.

Persoalannya sebenarnya sederhana: finansial. Dengan memiliki sedikit bujet, aku ingin mendapatkan banyak buku. Masalahnya lagi, bujet yang ada tak tegas jumlahnya. Sehingga saat sejumlah Rupiah berhasil ditukar buku, aku mendapati diriku menghabiskan banyak uang. Ini terjadi sejak duduk di bangku kuliah hingga sekarang!

Di Palasari itu bertebaran kios buku, baik yang menjual buku baru maupun bekas. Pak Nur yang sudah terbiasa menyambangi Pasar Palasari segera membawa kami ke toko buku langganannya: Bandung Book Centre (BBC). Toko ini terletak di blok kedua agak ke tengah.

Baru masuk BBC aku terkagum-kagum. Tata ruangnya begitu berbeda. Pandangan pertama adalah suguhan tumpukan buku menjulang di antara rak-rak buku yang tinggi pula. Kasir berada di bagian depan sebelah kanan dan kiri.

Lantai dua dihubungkan dengan anak tangga yang di ujungnya terdapat meja penjaga. Tak kalah dengan lantai satu, lantai dua juga bertumpukan buku. Namun rak-raknya tak setinggi di lantai satu.

Pak Nur datang dengan satu tujuan: membeli buku tentang motivasi. Sebagai bahan mengajar mahasiswanya. Sementara aku datang tanpa tujuan: yang penting ada buku yang dibeli. Kata Pak Nur, sebelum tiba di Palasari, buku yang di jual di situ langsung dari penerbit dan didiskon hingga 30%. Aku jadi teringat dengan Book Shooping di belakang Pasar Malioboro, Yogyakarta, yang tak pernah lupa kukunjungi saat menyambangi Kota Gudeg itu.

Dan memang benar. Harga yang dibanderol di sampul belakang buku akan dikurangi 30%-nya oleh panjaga kasir. Inilah yang membuat tensi belanjaku makin tinggi.

Kata seorang penjaga, tokonya buka dari pukul 08.30 sampai 17.00. Artinya kami datang satu jam setelah toko buka. Pengunjung belum terlalu banyak dan ini memudahkanku untuk memuas-muaskan hasrat cuci mata.

Tak seperti biasanya aku membeli buku yang tebal-tebal—padahal aku paling malas membeli dan membaca buku tebal. Kuurutkan saja buku yang kubeli dari yang tertebal hingga yang agak tipis; Kado Pernikahan untuk Istriku karya Mohammad Fauzil Adhim (743 halaman), Shahih Bukhari Muslim (535 halaman), Intisari Psikologi Abnormal karya V. Mark Durand dan David H. Barlow, buku pertama (384 halaman), Ar-Risalah karya Imam Syafi’i (359 halaman), Stephen Hawking: Pencarian Teori Segala Hal karya Kitty Ferguson (218 halaman), dan Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire (214 halaman). Jika saja aku tak berhasil meyakinkan diri bahwa aku tak punya banyak uang, barangkali telah kuhabiskan isi dompet dan meminjam sejumlah Rupiah pada teman untuk ongkos pulang.

Di tengah rak buku lantai satu aku sempat berkata pada Pak Nur, “Pak, kalau begini saya jadi gila.” Tak kusangka Pak Nur berucap, “Sama, saya juga jadi gila.” Perkataannya ini agak meringankan beban di benakku: di toko buku itu, di hari yang masih pagi, ada dua orang gila tersesat.

Kulihat semua penjaga berpakaian seragam hitam-merah kirmizi. Di hiasi nama-nama penerbit besar. Mengesankan kebesaran pemilik toko yang punya hubungan langsung dengan penerbit.

Di luar, dekat pintu, dua petugas duduk dan sibuk dengan sampul plastik, cutter, dan selotip. Mereka membungkus buku-buku pembeli dengan sampul plastik. Pembeli tak dipungut bayaran alias gratis. Saya berpikir inilah nilai tambah sebuah toko-buku besar.

Kami keluar dari Pasar Palasari. Menenteng plastik berisi buku. Pulang ke rumah masing-masing; aku dan Kholis ke Jakarta sementara Pak Nur ke Garut. Dan siang itu aku beritikad: kapan-kapan, kalau aku ke Bandung lagi, aku akan mampir ke Palasari.

 

Duren Sawit, 9 Februari 2010.