Sudah dibaca 560 kali

Reportase berkaitan dengan kegiatan di lapangan untuk mendapatkan informasi yang berguna sebagai bahan tulisan. Informasi tersebut bisa didapat dari hasil wawancara nara sumber, koleksi buku dan arsip di perpustakaan, data-data di internet, dan pengamatan lapangan.

Lewat wawancara kita dapat menggali informasi dari nara sumber. Nara sumber dipilih berdasarkan dua hal, yaitu kapasitas dan kompetensinya. Kapasitas berkaitan dengan otoritas atau kewenangan. Misalnya, untuk mengetahui perkembangan sebuah sekolah, nara sumber yang memiliki otoritas dan banyak tahu soal itu adalah Kepala Sekolah.

Sedangkan kompetensi berkenaan dengan kemampuan atau keterampilan. Jika kita ingin mengetahui secara detail kerja sebuah mesin mobil, contohnya, yang punya kompetensi untuk diwawancara adalah montir/teknisi mobil. Bukan pemilik bengkel mobil yang biasanya hanya bergelut pada manajemen bengkel.

Buku dan arsip menjadi sumber informasi pelengkap yang cukup penting. Ketika mengangkat sejarah Jakarta, selain mewawancarai sejarawan dan pelaku sejarah, kita juga perlu membaca buku-buku ihwal Jakarta dan arsip sejarah.

Kadang referensi dari buku dan arsip menjadi terbatas bahkan sulit didapat, terutama buku dan arsip cetakan lama. Maka internet menjadi pilihan berikutnya yang patut diperhitungkan. Dengan browsing internet lewat berbagai mesin pencari (google, yahoo, dll), hanya sekali klik kita mendapatkan berbagai sumber informasi. Tinggal pilih dan pilah mana suka.

Satu hal penting yang juga patut dilakukan adalah pengamatan lapangan. Kadang informasi penting didapat lewat sebuah pengamatan intens dan memakan waktu relatif lama. Untuk mengetahui suasana sebuah konser musik yang berujung rusuh, kita perlu mengamati perilaku penonton, kondisi gedung tempat konser, atraksi penyanyi, dan reaksi aparat polisi atau penjaga keamanan. Dengan pengamatan lapangan, kita bisa menjadi saksi langsung kejadian sehingga tahu hal-hal penting yang memengaruhi validitas tulisan. Dalam hal ini, ketergantungan terhadap saksi dan pelaku sebagai nara sumber menjadi kecil.

Dalam kesempatan ini kita akan membahas sumber informasi dari nara sumber orang. Hal umum yang lazim dilakukan adalah melakukan wawancara.

Sebelum wawancara, kita harus sudah menguasai inti persoalan. Kita tahu informasi apa saja yang bisa didapat dari para nara sumber. Caranya, dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tepat kepada mereka. Umumnya, pertanyaan-pertanyaan untuk dilontarkan kepada nara sumber ditulis dalam sebuah catatan yang lazim disebut daftar acuan pertanyaan atau Term of Reference (TOR).

TOR berisi beberapa pertanyaan yang merangkum minimal enam unsur berita, yaitu what (apa), when (kapan), where (di mana), who (siapa), why (kenapa), dan how (bagaimana). Biasa disingkat 5W+1H.

What berkaitan dengan peristiwa/subjek berita yang diliput. When menginformasikan tentang waktu terjadinya peristiwa. Where ihwal lokasi kejadian. Who tentang orang-orang yang terlibat dalam kejadian. Why bicara mengenai alasan rasional sebuah peristiwa. Dan How berkaitan dengan cara kerja sebuah kejadian.

Misalnya, untuk menulis berita tentang pemotongan hewan kurban di Masjid Sunda Kelapa, informasi yang perlu didapat yaitu kapan pemotongan dilakukan, di mana lokasi pemotongan, siapa penyelenggara acara dan penerima daging kurban, mengapa digelar pemotongan hewan, dan bagaimana jalannya pemotongan hewan kurban secara keseluruhan.

Selain unsur 5W+1H, kita bisa melontarkan pertanyaan lain seperti latar belakang peristiwa, tujuan acara, hikmah suatu kejadian, dan hal lain yang berkaitan dengan angle (sudut pandang) tulisan.

Dalam aplikasi di lapangan, kita tidak mesti mengungkapkan pertanyaan sesuai urutan dalam TOR. Pertanyaan bisa saja dilontarkan secara melompat-lompat sesuai dengan alur pembicaraan. Bahkan kita bisa menambahkan dan memperdalam sebuah pertanyaan saat berdiskusi dengan nara sumber. Jadi TOR tidak dijadikan patokan utama dalam wawancara. Ia sebagai panduan agar wawancara berjalan sesuai dengan angle tulisan.

Wawancara pada dasarnya sebuah diskusi antara reporter (orang yang melakukan liputan/wawancara) dengan nara sumber. Jadi sebenarnya tak perlu trik-trik khusus untuk mengorek keterangan dari nara sumber. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah bagaimana nara sumber merasa nyaman saat diwawancara dan terbuka dalam memberikan informasi. Di sinilah kepiawaian reporter dalam menciptakan suasana wawancara yang nyaman.

Untuk wawancara, kita bisa membuat janji dulu sebelumnya atau langsung mendatangi nara sumber. Tak jarang kita sulit menemui nara sumber terlebih jika mereka enggan diwawancara.

Jika ingin membuat janji dulu, pastikan kita memiliki nomor teleponnya. Ini penting mengingat nara sumber bisa saja tak menepati janji. Bila ingin mendatanginya langsung, pastikan kita tahu keberadaannya dan yakin mereka mau memberikan informasi tanpa membuat janji sebelumnya.

Reportase merupakan kegiatan penting dalam sebuah aktivitas jurnalistik. Sebab dialah ujung tombak sebuah penerbitan media.