Sudah dibaca 491 kali

Sabtu pagi 25 September 2010 di halaman Pendidikan Anak Usia Dini Nusa Indah, di bawah terik mentari yang tak panas-panas amat. Siswa-siswi berseragam kaus putih dan celana training biru berbaris tak rapi empat banjar. Mereka siap senam. Ibu-ibu berdiri di sekeliling mereka.

Usai libur panjang Idul Fitri 1431 Hijriyah, warga belajar PAUD Nusa Indah memasuki Sabtu pertamanya. Seperti biasa, pada Sabtu, siswa kelas pagi dan siang digabung. Bisa dipastikan ruang belajar padat.

Hari itu waktu makan bareng. Menunya lontong dan opor ayam. Siswa, wali murid, dan guru makan bersama. Momen Lebaran belum basi terasa. Ruang belajar sesak dipadati siswa-siswi dan orangtua.

Bagi PAUD Nusa Indah, tahun ajaran 2010-2011 merupakan ujian bagi eksistensinya di masyarakat RW 01 Kelurahan/Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur. Wisuda angkatan ketiga lalu meluluskan 30 siswa yang kemudian meneruskan pendidikan ke jenjang Sekolah Dasar maupun Taman Kanak-kanak. Tersisa sekitar 30 siswa, pendaftaran siswa baru merekrut sekitar 50 siswa sehingga jumlah warga belajar sekarang sekitar 80 orang. Jika tak dibendung, artinya pendaftaran ditutup, jumlah tersebut akan terus meroket.

Sebelumnya tak ada pembatasan jumlah murid. Orangtua yang mendaftarkan anaknya setelah proses pembelajaran dimulai diterima. Namun, melihat kapasitas ruang belajar tak memungkinkan, terpaksa jumlah murid dibatasi.

Sebenarnya pengelola Nusa Indah sudah bisa bernapas lega. Kini PAUD Nusa Indah sudah punya ruang belajar mandiri—sebelumnya menumpang di Balai Warga dan garasi mobil. Ruangnya pun lebih luas ketimbang Balai Warga. Namun, karena jumlah murid membeludak, ruang kelas terasa begitu sesak.

Bangunan PAUD Nusa Indah berdiri di atas taman PKK RW 01. Atapnya asbes dan dinding sebelah kanan menyatu dengan dinding rumah Pak Rasikin, anggota Dewan Kelurahan Duren Sawit. Maklum, dana pembangunan yang terkumpul pas-pasan. Cukup buat bayar sewa tanah selama tiga tahun dengan harga murah, lantai keramik, dinding batako, dan atap asbes yang sebagian merupakan donatur warga. Pemerintah sekali lagi nihil berpartisipasi dalam pembangunan sekolah bagi calon pemimpin bangsa ini.

Kondisi bangunan Nusa Indah bisa dibilang tak bagus-bagus amat. Atapnya belum berplafon. Kamar mandi di sebelah kiri tak berpintu. Pintu utama juga belum terpasang. Jendela pun lalai teralis atau kaca. Namun, dibandingkan dengan tempat belajar sebelumnya, warga Nusa Indah sudah sangat bersyukur.

Dulu, saat pemilihan calon legisatif (caleg) tahun 2009, dua caleg dari dua partai besar berkampanye di Nusa Indah. Satu caleg sumbang psikolog yang memberi penyuluhan bagi ibu-ibu wali murid, satu caleg lagi sumbang beberapa kursi-meja dan sejumlah rupiah. Kini keduanya menjadi anggota legislatif.

Setelah mereka, beberapa anggota DPRD DKI Jakarta dari partai nomor satu negeri ini berkunjung juga ke Nusa Indah pada 11 April 2010. Saat meninjau bangunan Nusa Indah yang belum jadi, mereka berjanji akan memberikan bantuan. Hingga kini janji itu omong kosong belaka.

 

Datang dan pergi

Komposisi guru/tutor berubah. Guru pertama yang mengundurkan diri lantaran pindah tempat tinggal usai menikah adalah saya. Sejak Mei 2010 saya tak lagi mengajar Bahasa Inggris.

Guru kedua yang hengkang adalah Bu Ani. Ia mengajar TK di kampung sebelah. Guru tersisa Bu Sri Suwarsini dan Bu Jamilah. Tutor, semacam asisten guru, tetap Bu Nurhayati (Kepala Sekolah), Bu Sundari (Bendahara), dan Bu Nina.

Beruntung seorang perempuan, Dyah namanya, mengajukan diri sebagai guru di Nusa Indah. Tadi pagi ia datang ke Nusa Indah dan diterima menjadi guru Bahasa Inggris.

Awalnya Dyah melihat situs milik PAUD Nusa Indah (www.paudnusaindah.multiply.com). Lalu ia menghubungi saya dan mengajukan diri menjadi relawan. Domisili di Slipi, Jakarta Barat, sekitar 20 kilometer dari Duren Sawit, tak membuatnya gentar. Ia tadi pagi datang dan diterima menjadi guru baru.

Dyah pekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pelayanan air, bekerja penuh Senin-Jumat, dan ingin mengisi Sabtu dengan kegiatan sosial. Ia cinta anak dan pernah jadi guru Sekolah Dasar di sebuah sekolah swasta. Dengan berbagai pertimbangan, ia menjatuhkan pilihan ke Nusa Indah, bergabung dengan pengabdi masyarakat lainnya.

Saat mengambil keputusan untuk tak lagi mengajar di Nusa Indah, hati saya dicekam sedih. Ini sebuah pilihan sulit. Dua tahun lebih turut mengelola PAUD dan bergelut dengan balita tak mudah melupakan beragam kenangan. Idealisme pun belum tersalur banyak. Hidup bersama istri di Tangerang tetaplah jadi pilihan.

Di tahun ajaran baru ini, berkat dukungan istri tercinta, saya mengajukan diri sebagai pendongeng. Sebulan sekali tiap Sabtu. Saya belum siap menghabiskan waktu untuk bekerja semata untuk kepentingan keluarga. Saya merasa punya banyak utang tak terbayar kepada lingkungan masyarakat yang membesarkan saya.

Nusa Indah kini tampak lebih indah di mata saya. Ruang belajar yang mandiri, perhatian luas masyarakat yang dibuktikan dengan pendaftaran yang membeludak, serta semangat pengelolanya yang tak surut, merupakan pupuk bagi tunas harapan yang diemban PAUD Nusa Indah.

Dengan penuh optimisme saya meyakini, merujuk sejarah Nusa Indah yang penuh keprihatinan dan perjuangan tak kenal lelah, lembaga pendidikan ini akan menelurkan para pemimpin bangsa yang akan membawa perubahan bagi negeri ini. Mereka, siswa-siswi yang sedang tumbuh dan belajar, suatu saat akan menempati posisi-posisi penting bagi perubahan negeri ini. Saya sangat meyakininya dan bangga menjadi pelayan mereka.

Duren Sawit, Jakarta Timur. 25 September 2010.