Sudah dibaca 554 kali

Dan burung wiwik bernyayi untukku. Tentang kesepian hati anak manusia. Yang mencari kekasih dambaan hatinya. Kepada pohon ia bercerita. Kepada ranting ia bicara. Kepada angin ia berbisik. Kepada daun ia bersuara.

Wahai pemilik sunyi. Beri aku sekuntum asa. Yang membuat hari-hariku terasa indah.

Lalu burung wiwik itu seperti mendengar pemilik sunyi bicara. Sebuah rahasia dari Raja Penguasa Sunyi. Tentang anak manusia yang lahir ke dunia. Untuk jadi pemikul bumi dan seluruh isinya.

Anak itu lahir ke dunia dengan sinar yang kemilau. Diramalkan oleh manusia suci yang bersembunyi di gua-gua. Disebutkan dalam kitab-kitab langit. Dinujumkan dari lidah-lidah yang benar.

Anak itu lahir di tengah dunia berselimut gelap. Ia disambut bahagia orang-orang di sekitarnya. Jadi permata di mata ibunya. Jadi pewaris di hati ayahnya.

Lidahnya dipercaya semua orang. Kaki-tangannya disukai semua insan. Matanya teduh wajahnya meruap keceriaan. Jadi kebanggaan kabilah-kabilah.

Datanglah bidadari mengucapkan harapan. Bidadari surga nan bijaksana. Pemilik hati bersih tiada dua. Dan pemuda itu menerima pinangannya. Semua bersuka cita.

Mereka hidup bahagia. Walau derita tiada henti menerpa. Setelah pemuda gemakan suara: buang tuhan-tuhanmu!

Datang-pergi derita, suka-cita menggema. Rintih, tangis, darah, menoreh-noreh luka. Cemas, harap, gembira, menari-nari berganti hari. Saudara mencaci, handai taulan memaki. Tak pantang menyerah pemudia mulia.

Pergilah ia tunaikan amanah. Disambut bahagia kaum surga. Dirikan kubah pemandu takbir. Kenakan baju besi usir durjana. Dan hajar aswad mengusap keningnya.

Ia sunyi dalam derita. Ia ramai dalam umatnya. Ia kekasih bagi penciptanya. Ia kekasih bagi sesamanya.

Dan burung wiwik itu menyanyi untukku. Yang mencari kedamaian dalam dirinya. Dan aku kembali sepi dalam nyanyian. Dan aku bershalawat bagi pemuda suci di haribaan-Nya.

 

Kepada baginda pemeluk surga

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 26 Februari 2010.