Sudah dibaca 452 kali

Kebanyakan penulis bergelut dalam beragam jenis tulisan, baik fiksi maupun non-fiksi. Bahkan tak sedikit penulis dunia yang menulis bermacam jenis tulisan. Misalnya mereka menulis cerpen, novel, drama, kolom, dan skenario film.

Selain menulis, mereka juga mengapresiasi atau mementaskan karya mereka dalam bentuk pembacaan karya, drama, atau memfilmkannya. Dalam pandangan saya, orang yang mengapresiasi karya dalam bentuk gerak, musik, dan elemen-elemen lain, baik karya sendiri maupun karya orang lain, adalah juga seorang seniman. Dalam konteks ini, banyak penulis yang juga seniman.

Penulis atau seniman terkenal selalu memiliki ruang untuk menunjukkan apresiasinya terhadap suatu karya. Gedung teater dan galeri pertunjukan di mana karya mereka dipamerkan/ditampilkan menabalkan mereka sebagai seniman hebat.

Sayangnya, di lain pihak, para penulis atau seniman pemula tak mendapat tempat memadai. Padahal bakat dan kemampuan mereka bisa jadi tak kalah dengan penulis/seniman terkenal. Berdasarkan pandangan ini, dulu saya pernah melontarkan wacana di sejumlah forum FLP DKI Jakarta agar para aktivis FLP DKI menciptakan “ruang” bagi mereka sendiri untuk menampilkan karya di hadapan masyarakat umum. Misalnya tampil dalam acara “Kenduri Cinta” yang digelar tiap Jumat minggu ke-2 tiap bulan di pelataran parkir Taman Ismail Marzuki atau acara-acara pernikahan aktivis FLP DKI.

Sebenarnya gagasan ini sudah dikonkretkan oleh teman-teman saat menggelar acara internal organisasi seperti acara pelantikan (inaugurasi), seminar, dan pelatihan. Dan, saya kira, ruang lain perlu dibuat agar semakin banyak media bagi ativis FLP untuk unjuk karya.

Pada akhirnya saya dihadapkan pada situasi bahwa saya memiliki kesempatan untuk “menciptakan” ruang itu. Ya, pada resepsi pernikahan saya yang insya Allah digelar pada 9 Mei 2010 mendatang, saya mengonsep acara hiburan resepsi berupa pertunjukan seni. Ada panggung yang disiapkan sebagai tempat pentas.

Pada acara ini penulis/seniman, atau teman yang belum mau diberi julukan, yang ingin unjuk karya dipersilakan tampil. Apresiasi karya bisa berupa pembacaan puisi, cerpen, nasyid, musikalisasi puisi, drama, atau menyanyi.

Alhamdulillah sejumlah teman sudah mengonfirmasi kesediaannya tampil di panggung pentas nanti berupa pembacaan puisi dan nasyid. Juga akan ada pertunjukan marawis. Agar acara berjalan tertib dan meriah, akan ada dua pembawa acara yang mengatur acara pementasan.

Maka bersamaan dengan tulisan ini saya mengundang segenap aktivis FLP, selain kondangan memberi doa dan restu kepada saya dan calon istri, juga tampil dalam acara pentas seni.

Saya dan calon istri memiliki pandangan sama dalam memandang sebuah acara: harus ada hal baru dan unik. Makanya ia setuju dengan konsep hiburan resepsi seperti ini. Dan kami sangat berterima kasih kepada teman-teman yang bersedia menyukseskan acara ini.

Bagi teman-teman yang ingin tampil saya persilakan mengisi namanya di daftar ini. Saya juga menambahkan beberapa teman yang sudah mengonfirmasi kesediaannya mengisi acara (hingga 27 April). Pembawa acara baru satu orang yang bersedia, yaitu Fariecha Hakim (Iecha).

  1. Divin Nahb (Baca puisi)
  2. Andi Tenri Dala (Musikalisasi puisi)
  3. Hasif Palajati (Nasyid)
  4. Dani Ardiansyah (Baca puisi)

 

28 April 2010