Sudah dibaca 566 kali

Jelang Lebaran, harga barang konsumsi dan produk jasa selalu naik. Seolah telah menjadi kelaziman, kenaikan tersebut luas didukung dalil ekonomi: jika permintaan besar sementara persediaan terbatas, harga pastilah naik. Keluhan dianggap angin lalu saja sebab banyaklah orang yang menganggap kenaikan itu wajar.

Seperti langganan setia, harga barang konsumsi sembilan bahan pokok menjulang. Ongkos transportasi macam bus, pesawat, kereta api, dan kapal melambung berlipat-lipat. Teriakan masyarakat kemudian bervariasi. Orang kaya samar berteriak karena Tunjangan Hari Raya-nya (THR) masih cukup tebal. Kalangan menengah agak keras teriakannya karena THR-nya berkurang banyak. Cuma si miskin yang paling keras hingga tak terdengar teriakannya lantaran tak punya THR dan kalaupun ada sudah tenggelam ditelan biaya tinggi kebutuhan.

Dalam rutinitas khas Indonesia yaitu pulang kampung alias mudik, si kaya mudik dengan pesawat atau mobil mewahnya. Walau terpaksa menelan kemacetan dan ikut berdesakan, mereka tak perlu khawatir dengan ongkos perjalanan di luar transportasi seperti oleh-oleh buat orang kampung, makan-minum di jalan, bahan bakar kendaraan, hingga bagi-bagi angpao. Kantong tetap tebal karena THR cuma berkurang sedikit.

Kalangan menengah harus putar otak agar semua tercukupi. Jika bujet anggaran nge-pas, naik sepeda motor pun jadi. Meskipun bahaya di perjalanan mengintai di sepanjang jalan, asal ditemani anak-istri, semua terasa ringan.

Yang sangat memprihatinkan adalah kaum miskin apalagi yang di bawah garis kemiskinan. Mereka sama sekali tidak bisa merasakan enaknya mudik, bertemu keluarga di kampung, dan bersenang-senang dengan orang terkasih. Mereka memilih tetap berada di rumah masing-masing atau berjualan jika punya usaha dagang. Setahun uang terkumpul tak membuat mereka layak mudik. Hal ini terjadi lantaran tirani dalil ekonomi tadi.

Kenapa tiap menjelang Lebaran semua harga harus naik? Jika penjualan tiket pesawat, kereta, bus, dan kapal, yang pada hari biasa mencapai 60%, harganya dinaikkan berlipat-lipat ketika penjualan menjelang Lebaran menyentuh angka 100% bahkan lebih? Keuntungan dari penambahan kapasitas penumpang sudah bertambah, tapi mengapa harus dimahalkan lagi? Jawabannya satu: bagaimana meraup keuntungan sebesar-besarnya mumpung orang-orang tak punya pilihan lain untuk menghindari kebutuhannya. Paradigma kapitalis merajalela di otak para pemilik modal.

Harga tinggi di sektor transportasi itu merembet ke sektor lain, yaitu tempat hiburan, penginapan, hingga makanan dan jasa di kalangan rakyat jelata. Semua harga sengaja dinaikkan! Momen Lebaran bagi pemilik layanan digunakan untuk menguras duit orang sebanyak-banyaknya. Sepertinya tak ada yang berniat dan berpikir agar semua menikmati Lebaran dengan harga serba terjangkau. Di sini hati serigala menjadi endemik.

Pemerintah selaku regulator tak bisa berbuat banyak. Regulasi yang dibuat pun sekadar berputar di permainan kenaikan harga. Penurunan harga atau biaya terjangkau bagi rakyat miskin tak jadi opsi terpikirkan.

Di sinilah kesenjangan ekonomi kembali menyeruak. Jurang perbedaan antara kaya dan miskin menganga makin lebar. Ketidakadilan ekonomi betul-betul dirasakan kaum papa.

Tiadakah orang atau sekelompok orang, dengan usaha yang telah dan sedang berjalan, mengupayakan keterjangkauan harga bagi semua status ekonomi dalam menikmati Lebaran? Apakah mudik hanya milik orang berduit?

Dalam wajah agungnya, Lebaran masih didominasi dengan perilaku ekonomi yang tak mempedulikan kaum papa. Berbeda sekali dengan ajaran Islam yang sangat memerhatikan keberadaan orang-orang miskin dan terlantar. Lalu, di Lebaran mendatang, pada Ramadhan Agung 1432 Hijriyah, apakah hati serigala masih dominan menguasai penghuni negeri ini? Wallahu a’lam.

 

Kunciran, Tangerang, Banten, 22 September 2010.