Sudah dibaca 681 kali

Salah satu cara belajar cepat membuat tulisan feature adalah menganalisis tulisan feature. Yuk kita analisis tulisan ini!

 

 

SIGMA TV, WHERE ARE YOU…?

“Lihat!” ujar Samsu Rizal pada saya seraya menunjuk pendopo depan gedung perpustakaan, “masak rapat di situ?” Lantas Ketua Sigma TV itu berjalan cepat menuju pendopo. Beberapa pengurus dan anggota baru telah menunggunya. Rapat rencana produksi video klip akan dimulai. Mentari terik menyengat, membuat mereka duduk merapat biar tidak kepanasan.

Ini memang masa-masa sulit bagi Samsu dan teman-temannya. Semenjak tidak lagi menempati kantor Humas di Gedung Rektorat, tempat kegiatan organisasi berpindah-pindah alias nomaden. Kadang di pendopo, perpustakaan lantai 4 atau koridor masjid Nuurul ‘Irfaan. Sebab, di tempat sebelumnya, kantor Humas, yang sejak 2002 mereka tumpangi, dirasa kurang kondusif lagi bagi kegiatan organisasi kemahasiswaan. “Humas kantor, bukan tempat mahasiswa. Kita tidak bisa sama sekali gaya kerja kantoran,” kata Samsu. Maka sejak itu ia dan teman-temannya mengadakan kegiatan di tempat-tempat terbuka sambil berusaha mencari sekretariat permanen.

Usaha mendapatkan sekretariat tak lepas dari sejarah berdirinya Sigma TV (untuk seterusnya ditulis Sigma saja). Unit kegiatan mahasiswa ini pertama kali dirintis oleh delapan mahasiswa dari beberapa fakultas pada 1998. Ide untuk membuat sebuah televisi kampus berbasis pendidikan sempat ditentang seorang dosen Jurusan Teknologi Pendidikan bergelar profesor. “Tak semudah itu membuat televisi pendidikan,” ucap dosen itu sebagaimana dikutip Indah Ayu Sulistiarini, salah satu pendiri Sigma yang kini sudah alumni. “Tapi kita jalan aja,” kenang Indah.

Tekad itu mereka tunjukkan saat melakukan liputan perubahan IKIP menjadi UNJ pada 1999. Antena pemancar dipasang di Gedung FIP. Sejumlah birokrat bisa langsung melihat tayangannya. Masyarakat sekitar Jalan Pemuda pun bisa menikmatinya.

Selain itu sejumlah kegiatan internal diadakan, seperti bedah film, belajar menulis skenario dan audio visual. Hubungan ke luar kampus dijalin dengan Institut Kesenian Jakarta, Universitas Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Akhirnya, setelah beberapa tahun memperjuangkan legalisasi organisasi, Sigma resmi menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa melalui SK Rektor No. 71/SP/2002. Meski begitu sekretariat tak kunjung didapat. Bersama PR III dan PR II para pengurus Sigma bergerilya mencari tempat; ke Jurusan Teknologi Pendidikan, Pusat Sumber Belajar, Gedung Percetakan lantai 2, Gedung G dan Gedung A. Karena selalu gagal, PR III Tjipto Sumadi menitipkan Sigma di kantor Humas.

Ternyata antara Sigma dan Humas terjalin hubungan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. “Humas menggunakan Sigma untuk liputan-liputan, Sigma bisa gunakan Humas untuk alamat surat masuk,” ujar Alfa Saputra, Pejabat Sementara Sigma 2002. Namun sayang, ruang yang perpendingin dan bersuasana kantoran itu sempat  melenakan. “Tapi ada sebagian kesadaran anggota untuk mencari tempat lain.”

Baru tiga tahun kemudian, tepatnya pada kepengurusan Samsu, Sigma tidak lagi “berkantor” di Humas. Mereka lebih memilih ruang-ruang terbuka untuk mengadakan kegiatan. Risikonya, suasana kondusif pertemuan tak pernah mereka rasakan. “Tapi kita tidak berputus asa dengan tidak kerja meski belum ada tempat,” tandas Djaeni, pengurus Sigma.

 

Tidak Realistis

Tjipto Sumadi berharap nantinya Sigma menjadi TV kampus yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan akademik. Perkuliahan antara Kampus A dan Kampus B, misalnya, dapat dihubungkan dengan jaringanTV kabel. “Sehingga kegiatan di fakultas satu bisa disiarkan dan didengar oleh fakultas lain,” angan Tjipto.

Namun rasanya untuk saat ini impian itu sebaiknya disimpan dalam laci. Sigma belum punya sekretariat. Kamera VHS dan tripot, dua inventaris barang yang mereka miliki, diletakkan di rumah seorang pengurus. Surat-surat administrasi ditaruh di salah satu rak ruang tata usaha PR III. “Kita seperti anak bawang oleh rektorat,” tutur Samsu, melihat keenambelas UKM lain sudah punya sekretariat.

“Kecacatan tidak punya ruangan ini membuat tidak bisa optimal, tidak bisa berkreasi secara leluasa,” keluh Alfa.

“Sekarang saya kasih di mana? Fakultas saja tidak ada yang mau beri,” tanggap PR II Ari Fadiati.

Dalam waktu dekat pun sepertinya sekretariat Sigma belum jelas tempatnya. Tjipto sudah angkat tangan. Terlebih masa jabatannya kini dalam kondisi transisi, menunggu penetapan rektor baru. Ia menjanjikan pengurus Sigma akan memasukkan memorandum akhir jabatan kepada penggantinya agar memprioritaskan pencarian sekretariat bagi Sigma. “Kita harus bercermin pada realitas sekarang. UNJ tiga bulan ini ’mati’ dengan tiadanya pelantikan rektor. Sangat tidak realistis jika mengejar sekarang,” tegas Alfa.

Kini rektor baru sudah dilantik. Harapan untuk segera mendapat sekretariat terbuka lebar. Sehingga Sigma bisa lebih leluasa menghasilkan karya, dan kita tidak perlu berucap “Sigma, where are you…?“ untuk mencari mereka.

[Dimuat di Tabloid Transformasi Universitas Negeri Jakarta Edisi 39]

 

 

ANALISIS TULISAN

Emosi apa yang bisa kita tangkap dari tulisan di atas? Yupz, kita dapat merasakan Samsu, Ketua Sigma TV, mengalami keputus-asaan. Ia sudah melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan sekretariat tapi hasilnya nihil. Tapi ketiadaan sekretariat tidak membuat dia dan teman-temannya berkecil hati. Mereka pantang menyerah dan terus menjalankan kegiatan. Kita juga dapat merasakan betapa Samsu masih memiliki harapan. Harapan yang digantungkan pada waktu.

Mari kita simak alur penceritaannya. Cerita dimulai saat saya berbincang dengan Samsu beberapa saat sebelum pertemuan Sigma TV dimulai. Saya tertarik mengutip kata-katanya yang mengandung keputus-asaan dan kekesalan, “’Lihat!’ ujar Samsu Rizal pada saya seraya menunjuk pendopo depan gedung perpustakaan, ‘masak rapat di situ?’” Singkatnya, mereka sedang ditimpa kemalangan.

Kemalangan yang langsung terlihat yaitu paparan suasana tidak mengenakkan yang mereka alami saat berkumpul di pendopo, “Mentari terik menyengat, membuat mereka duduk merapat biar tidak kepanasan.”

Kemudian cerita berlanjut pada alasan mereka menggunakan pendopo sebagai tempat pertemuan sementara (paragraf 2). Paragraf selanjutnya, mulai paragraf 3 hingga 7, pengungkapan sejarah pendirian Sigma dan kegiatan yang telah dilakukan. Cerita ini menggunakan alur mundur (kilas balik) lalu bergerak maju hingga masa kemudian—gaya penceritaan kronologis. Paragraf 8 mengajak kita kembali ke masa sekarang.

Harapan yang langsung dikalahkan dengan ketidakberdayaan untuk mengadakan sekretariat dapat kita baca di paragraf-paragraf selanjutnya. Terakhir, paragraf penutup berisi harapan dan optimisme. Penutup ini dipilih untuk membangun semangat untuk memperjuangkan harapan setelah sekian lama terpendam.

Secara umum, tulisan feature tersebut menyuguhkan warma-warna emosi berupa kesal, prihatin, cemas, gelisah, ragu-ragu, dan harap.

 

Tujuan utama feature adalah menarik minat orang untuk membaca berita hingga selesai. Untuk mencapainya paragraf pertama memegang peranan penting. Sebab, paragraf ini penentu apakah pembaca akan terus membaca cerita atau cukup sampai di situ.

Maka pilih dan pilahlah peristiwa yang menarik untuk dituliskan pada paragraf pertama. Usahakan detail peristiwa ditampilkan. Detail menimbulkan efek kedekatan pembaca pada peristiwa yang diceritakan. Paragraf pertama juga mesti mampu menimbulkan rasa penasaran pembaca.*

 

6 April 2011.