Sudah dibaca 488 kali

Alkisah di sebuah negeri, lahir seorang putri yang cantik jelita. Gilang Rukmini namanya. Kecantikannya luar biasa, membuat Raja dan Ratu selalu memanjakannya, membuat rakyat bergelimang gembira.

Semakin meningkat usia, kecantikan putri itu bertambah-tambah. Rakyatnya memuja kecantikan putri dengan memberikan berbagai perhiasan dan hasil bumi kepadanya.

Namun perilaku Sang Putri membuat Raja dan Ratu mengurut dada. Dimanja-manja sejak balita membuatnya bertingkah semaunya. Tapi rakyat yang memuja kecantikan Putri tetap mengirimkan perhiasan dan hasil bumi terbaiknya.

Menjelang ulang tahunnya ke-17, Sang Raja membawa sebagian perhiasan ke pembuat kalung. Kalung terindah diberikan saat pesta ulang tahun Sang Putri. Tapi semua terpana. Sang Putri tak suka pemberian Raja, lalu mencampakannya begitu saja.

Raja dan Ratu sedih lalu menangis. Rakyat ikut menangis. Air mata mereka tumpah ruah, menggenang menjadi danau. Danau Telaga warna.

Kira-kira begitulah isi dongeng yang dibawakan seorang pendongeng di sebuah stasiun televisi swasta tadi pagi, 8 Maret 2011. Pendongeng menceritakan ketakjuban pada kecantikan Putri berulang kali dan inilah yang membuat penulis bertanya-tanya.

Pesan apa yang hendak disampaikan dari dongeng itu? Di akhir cerita pendongeng berkata: hikmahnya adalah kita harus mensyukuri pemberian orang lain.

Sepertinya pesan terakhir si pendongeng mengundang lagi koreksi terhadap dongeng yang disampaikannya. Pertama, hikmah yang dipaksakan. Tak ada dalam narasi cerita bahwa tokoh mensyukuri pemberian yang diterimanya. Sebaliknya, sang tokoh (Putri) menyia-nyiakan pemberian Raja. Bukannya Sang Putri dapat celaka, sebaliknya orang-orang menerima derita. Dalam cerita anak-anak, termasuk dongeng, setahu penulis, diakhiri dengan situasi di mana orang jahat mendapat hukuman dan orang baik diganjar kegembiraan.

Kedua, pembalikan logika. Dalam cerita anak, berlaku pakem sebab-akibat: yang baik berakhir gembira, yang jahat berakhir celaka. Beda dengan cerita dewasa: orang baik tak selalu berakhir gembira.

Dongeng itu tak mengganjar Putri dengan akhir yang buruk. Sebaliknya, tokoh antagonis ini “berhasil” membuat orang-orang baik menderita.

Penulis tak tahu cerita sebenarnya ihwal Danau Telaga Warna. Apakah sejak awal diceritakan memang Sang Putri tokoh jahat yang berakhir “gembira”. Namun, alangkah bijaknya jika pendongeng melakukan rekonstruksi cerita sehingga cerita benar-benar mengandung hikmah yang bisa diteladani anak.

 

Rekonstruksi Cerita, Membentuk Citra

Rekonstruksi cerita perlu dilakukan sebab tak semua dongeng yang diceritakan dari generasi ke generasi baik dikonsumsi anak. Misalnya cerita Sangkuriang. Bagaimana bisa seorang anak ingin menikahi ibunya dan membunuh ayahnya?

Ditilik lebih dalam, dongeng Danau Telaga Warna yang diceritakan pendongeng di atas, secara tak disadari, hendak membentuk citra ketubuhan dalam paradigma anak-anak: jika engkau cantik, maka semua orang akan memujamu. Perilaku burukmu tak akan mengubah keadaan itu. Maka berusahalah menjadi gadis yang cantik jelita seperti seorang putri raja.

Jika dikaitkan lebih jauh, pencitraan ketubuhan perempuan terus direproduksi dalam beragam sarana: iklan, film, dan berita. Keluarannya adalah stereotip: perempuan yang cantik bertubuh langsing, berparas elok, kulitnya putih, rambutnya panjang lurus. Konstruksi seperti ini dengan sangat mudah ditemui pada sosok boneka Barbie.

Ironisnya, hal demikian disokong lewat cerita dongeng yang disukai anak-anak. Apa jadinya anak-anak perempuan dikemudian hari jika sejak kecil ditanamkan paradigma untuk mengutamakan kecantikan tubuh ketimbang kebaikan perilaku?

Memang diperlukan kejelian pendongeng dalam menyampaikan dongeng-dongeng masa lalu. Pun dalam menyampaikan dongeng-dongeng yang baru. Bagaimanapun, rekonstruksi cerita diperlukan guna memberi hikmah yang patut diteladani oleh anak-anak. Betapapun sulitnya.

 

Kunciran, Tangerang, Banten. 8 Maret 2011.