Sudah dibaca 473 kali

Bagaimana Gol A Gong mendirikan Rumah Dunia untuk membangun generasi bangsa yang berkarakter.

 

Cuaca di sekitar Rumah Dunia pada Ahad siang 13 Februari 2011 begitu panas. Mentari menggantung tepat di tengah langit. Tak ada tanda-tanda hujan akan turun.

Sejak awal berdiri pada Maret 2002, Rumah Dunia yang beralamat di Kompleks Hegar Alam No. 40 Ciloang, Serang, Banten,  identik dengan buku, perpustakaan, dan aktivitas baca-tulis. Dan, siang itu, dari pinggir jalan di Kampung Ciloang, Serang, Banten, tampak beberapa kendaraan ‘aneh’ terpaku ditempatnya.

Di pinggir sebelah kanan pintu masuk, sebuah bajaj berdiri gagah. Di badan kendaraan beroda tiga asal India itu terlukis dua anak sedang membaca buku. Dekat lapangan sepak bola teronggok badan kendaraan bertulis ‘Mobile Library’. Ada pula ‘Perpustakaan Motor’ dekat situ.

Yang mencolok adalah kumpulan buku dan majalah yang terserak begitu saja di atas rak buku yang ternaungi tenda hitam. Barangkali anak-anak kampung telah menikmati aneka bacaan itu dan ‘lupa’ membereskannya.

Sebuah rumah beratap rumbia dengan dinding penuh tempelan lukisan anak-anak tak kalah mencoloknya. Plang di bagian atas rumah itu tertera ‘Balai Belajar Bersama Rumah Dunia’.

Di depan rumah itu terbentang lapangan berlantai ubin hitam, agak luas, dilengkapi dipan panjang dari jalinan batang bambu. Inilah Teater Terbuka yang digunakan pegiat seni Rumah Dunia untuk unjuk kemampuan. Semuanya berada dalam kawasan Taman Budaya Rumah Dunia, sebuah areal seluas 3.000 m2 yang letaknya di luar kompleks Rumah Dunia—letak keduanya berdekatan.

 

Pembebasan lahan

Pengadaan Taman Budaya Rumah Dunia (TBRD) melalui pembebasan tanah melibatkan banyak orang. Rumah Dunia membuka diri bagi donatur yang ingin turut menyumbang. Pengumuman salah satunya disiarkan lewat situs jejaring sosial Facebook. Kini tinggal tanah seluas 1.800 m2 yang hendak dibebaskan.

Pendiri Rumah Dunia Gol A Gong berharap tanah tersebut bisa dibebaskan sebelum akhir tahun ini. Sebab, ke depan, TBRD akan menjadi role model, proyek percontohan, bagi pusat budaya dan taman bacaan di nusantara. “Kalau kita bersatu padu membebaskan ini, saya berani menjadi duta untuk membebaskan tanah di tempat lain,” kata Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat ini.

Harga per meter tanah tersebut Rp 200 ribu. Total harga Rp 370 jutaan. Pembayaran dilakukan secara bertahap. Uang muka yang sudah dibayarkan Rp 74.800.000. Pembayaran tahap kedua pada Juli mendatang Rp 149 juta. Pembayaran berikutnya pada Desember Rp 149 juta. Dana baru terkumpul Rp 26 juta. “Saya selalu optimis kalau ada jalan, tapi jalannya yang mana nih,” ujar Gong di kedai depan TBRD.

 

Pendidikan karakter

Gong yakin ‘revolusi’ dimulai dari kampung. “Karena Indonesia hanya bisa diselamatkan dari kampung,” tegasnya. Orang-orang kampung ke kota (urbanisasi) lantaran masyarakat kota melakukan ‘provokasi’; fasilitas umum serba wah, pusat perbelanjaan menjamur, tempat hiburan di mana-mana.

Sayangnya, saat di kota, mereka hanya menjadi warga marjinal lantaran tak punya cukup kecakapan untuk bekerja. Sebagian menggelandang dan menjalani pekerjaan tak manusiawi; penjahat, bodyguard, copet, dan lain-lain. “Orang-orang kota sebagai simbol modernisasi membiarkan orang-orang kampung. Itu proyek mereka,” ungkap Gong. “Anak jalanan dibiarkan tumbuh.”

Maka Gong berusaha membangun kampung. Caranya lewat kegiatan seni dan sastra. Ia mendirikan panggung sebagai sarana pembentukan karakter. “Karena panggung bisa membuat orang berbeda,” katanya. “Tidak semua orang berani berdiri di panggung kalau dia tidak luar biasa.”

Selalu Gong katakan pada anak-anak pegiat Rumah Dunia, bahwa hanya orang hebat yang ada di panggung, berdiri dan berbicara pada banyak orang. “Untuk bisa hebat dia harus membaca, dengan membaca otak terisi penuh. Itu wawasan,” katanya. “Dengan wawasan dia lebih dari yang lain. Itu karakter calon pemimpin; percaya diri, bicara tidak tong kosong nyaring bunyinya, terstruktur, dan ada manfaatnya.”

Di panggung anak langsung tampil, bercerita apa saja termasuk tentang keluarganya. “Tidak malu bicara bapaknya tukang ojek, dan sebagainya. Itu karakter,” ujar Gong. Beda dengan para pemimpin sekarang yang tidak dilatih karakter sehingga orientasi hidupnya hanya materi. “Dia malu menyebut dirinya tidak sarjana. Sekarang yang terjadi memalsukan ijazah,” tambahnya.

 

Nakal kreatif

Gong melihat pendidikan karakter kurang ditanamkan di sekolah-sekolah. Guru tak bisa memahami karakter siswa yang dinamis. Mestinya guru memberi keleluasan pada siswa untuk berekspresi dan menyampaikan pendapat. “Berikan pelajaran berbicara satu jam saja satu minggu,” ujarnya. “Mereka disuruh bicara di depan teman-temannya, berbicara apa saja.”

Gong berharap siswa kreatif, lebih jauh lagi ‘nakal’. Nakal kreatif. Misalnya saat guru menerangkan pelajaran, siswa berani memprotes.

Satu lagi yang ia tekankan adalah budaya membaca di kalangan siswa. “Baca buku dan beli buku. Ramaikan perpustakaan!” pesannya.

 

30 Mei 2011