Sudah dibaca 431 kali

Dua tetangga berusia balita kompak mendekati saya lalu berkata, “Om, lihat setan, dong!” Mereka merujuk pada notebook yang saya pakai.

“Om nggak punya setan. Takut!”

“Ah, Om bohong!”

Barangkali ini salah saya bahwa suatu hari saya menunjukkan gambar setan lewat tayangan internet kepada mereka. Bukannya takut, mereka malah senang. Padahal saya pikir buat apa melihat gambar setan kalau sekadar untuk bersenang-senang.

Tapi saya kemudian tak memenuhi permintaan mereka. Saya sedang sebal dengan film-film Indonesia yang sedang beredar di tengah isu penarikan film Holywood dari gedung bioskop negeri ini.

Seorang reporter televisi swasta menyampaikan isu tersebut dengan latar belakang dua layar besar bergambar film bertema setan di halaman sebuah bioskop terkenal di bilangan Cikini, Jakarta Pusat. Tayangan ini seolah menyindir film produksi dalam negeri, seakan tayangan itu ingin berkata, “Jika film Holwood tak lagi beredar, maka film-film setan lokal akan makin leluasa bergentayangan. Masyarakat tak punya banyak pilihan tontonan.”

Memang ini semacam peringatan. Film tentang beragam jenis setan (pocong, kuntil anak, genderuwo, dll) kembali marak menyambangi bioskop-bioskop lokal. Tetapi saya menyebut film tersebut bukan bergenre horor, melainkan seks. Ya, film seks dibalut horor. Tak ketinggalan disusupi humor.

Kenapa film seks? Sebab rata-rata adegan dan gambar yang disajikan didominasi oleh unsur-unsur seks, seperti adegan yang mengarah pada kegiatan seks, perempuan-perempuan dengan pakaian minim, dan dialog-dialog picisan yang mengarah pada wacana seksualitas.

Kombinasi lainnya yaitu seks, horor, dan sadisme. Ini merupakan tipikal film Holywood. Pada ranah inilah eksplorasi terhadap perilaku binatang yang dilakukan manusia diumbar habis-habisan. Bagaimana kegiatan membunuh, menyiksa, dan bentuk kesadisan lainnya dieksplorasi sedemikian detail. Tak ada ruang moral di sini, malah diharamkan.

Apakah ada imbas dalam paradigma orang-orang yang menggemari film seperti itu? Pastilah ada. Itu tercermin dari sikap dan cara berpikir mereka. Memang belum ada penelitian yang menyatakan penggemar film seks plus horor plus sadisme akan berperangai merusak. Tapi, perilaku salah dalam tayangan yang sering dilihat akan mengubah cara pandang seseorang dalam meninjau ulang kebenaran yang dipegangnya.

Kendati tak pernah nonton bioskop, dua balita tetangga saya seolah telah menganggap setan bukan lagi makhluk yang menakutkan—ini sangat berbeda waktu zaman saya dulu yang takut dengan setan walau tak pernah melihatnya. Ah, barangkali mereka sudah menonton banyak film tentang setan yang juga marak di televisi.

Saya tak sedang mengajak untuk menakuti setan. Saya cuma khawatir, perilaku setan berupa sadisme yang ditayangkan dalam film seks berbau horor perlahan menyusup ke otak bawah sadar generasi penerus bangsa.

Film seks berbalut horor dan humor plus sadisme akan terus bergentayangan lantaran tetap diminati banyak orang. Inilah ironisme masyarakat Indonesia yang ingin modern tapi masih menyenangi klenik dan hal gaib.

 

Kunciran, Tangerang, Banten. 9 Maret 2011.