Sudah dibaca 516 kali

Dalam acara Mario Teguh Golden Ways yang ditayangkan stasiun televisi Metro TV pada Ahad malam, 2 Januari 2011, seorang peserta bertanya ihwal nilai yang mesti ditanamkan kepada anak: pandai atau jujur. Sebelum menjawab, Mario Teguh minta beberapa peserta lain menjawabnya. Semua menjawab, sesuai tema yang diangkat, jujur.

Kemudian Mario Teguh bertanya pada para peserta, apa yang akan dijawabnya jika ia ditanya demikian. Jawaban harus dipilih salah satu, tak boleh keduanya. Peserta menjawab: jujur.

Secara tak terduga, Mario Teguh memilih jawaban yang lain: pandai. Ia mengemukakan alasannya. Jika anak dididik untuk jujur saja, banyak sekali orang yang terperosok dalam kejujurannya. Ia tak bisa menempatkan kejujuran dalam porsi yang seharusnya. Maka banyak sekali orang jujur namun lugu mudah ditipu dan dikalahkan.

Sementara jika anak dididik untuk pandai, maka ia akan pandai menempatkan kejujuran dalam porsinya, yaitu memahami kebaikan akan nilai-nilai kejujuran sehingga ia berlaku jujur lantaran paham akan manfaatnya.

Lalu apa beda keduanya? Letaknya pada pemahaman.

Saya ingat cerita ketika Nabi Muhammad SAW dikejar oleh orang kafir. Saat itu orang-orang kafir tak mengenali parasnya. Muhammad al-amin yang tak pernah berbohong itu menjawab setelah menggeser tubuhnya ke samping, “Sejak saya berdiri di sini, saya tak pernah melihat orang yang kalian cari lewat sini.’

Ini jawaban yang sangat cerdas! Ia tidak berbohong. Dan ia tidak menggadaikan kejujuran! Jika Muhammad SAW menjawab, “Muhammad adalah orang yang sekarang berdiri di hadapan kalian,” pastilah saat itu juga dia akan dibunuh. Kendati kita tahu itu jawaban jujur. Namun ia menempatkan kejujuran dalam porsi yang seharusnya. Dan ia menjawab pertanyaan mereka dengan jujur tanpa menyebabkan dirinya terancam.

Cerita ini mengajarkan agar kita menempatkan kejujuran secara cerdas dan pandai. Banyak orang bilang secara ironis, “Kalau kita kerja jujur, maka kita akan jadi orang miskin.” Kalimat ini seolah mengajak kita agar tidak berbuat jujur. Saya pikir, orang yang kerja jujur namun miskin belum bisa menempatkan porsi kejujuran secara tepat.

Mario Teguh bercerita ihwal teman-temannya saat kuliah di Amerika Serikat. Banyak sekali dari mereka yang mengaku tak beragama dan tak bertuhan (ateis). Namun, ternyata mereka terkenal jujur dan santun.

Mengapa mereka memilih berperilaku jujur dan santun sebagaimana ajaran agama? Sebab mereka paham dengan hidup jujur dan santun, mereka akan hidup mulia, dihormati, dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka mengerti fungsi dari berbuat jujur.

Sebaliknya, kenapa banyak orang yang mengaku beragama tetapi tidak jujur dalam perilaku dan secara sadar memungkiri ajaran-ajaran agamanya? Sebab mereka tidak paham fungsi kejujuran! Mereka tidak paham bahwa kejujuran akan membawanya pada kemuliaan hidup dan penghormatan manusia lain sebagaimana telah diajarkan dalam kitab-kitab agama. Sebaliknya, dengan bertindak tak jujur, mereka yakin akan bisa hidup mulia dan dihormati manusia.

Ini juga yang menjelaskan mengapa di negara-negara sekuler dan kapitalistik seperti Amerika Serikat dan Inggris, sejumlah prinsip ekonomi syariah diterapkan dan dibangga-banggakan sebagai instrumen yang mengangkat pertumbuhan ekonomi dan perbankan. Mereka sudah melewati fase buruk dalam penerapan secara mutlak ekonomi pasar (neo liberal). Ketika keterpurukan ekonomi dan perbankan mencengkeram mereka, ekonomi syariah diterapkan dan terbukti ampuh. Tragisnya, di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, ekonomi pasar diterapkan dengan kebanggaan besar bahwa hal itu akan menuntun ke arah kemajuan.

Sebagai orang berakal, manusia dituntut untuk memahami apa yang dilakukannya. Bahkan, kendati iman harus lebih dulu diyakini, bukankah Tuhan juga mewajibkan hamba-Nya untuk memahami tentang apa yang diimaninya?

Tak cuma harus melakukan ibadah, Ia juga mewajibkan hamba-Nya mengetahui dan memahami ibadah yang dilakukan. Jika ini dilakukan, Ia sudah menyiapkan ganjaran yaitu pemuliaan hidup melebihi orang-orang yang sekadar beribadah.

Paradigma di masyarakat, pandai dan jujur didikotomikan, dipisahkan. Ironisnya, orang pandai dikorelasikan dengan orang yang licik dan pendusta. Pandangan ini selaras dengan fenomena bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin pandai ia membohongi banyak orang.

Dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini besutan Dedy Mizwar, kondisi ironis itu dipotret dan dikritik dengan sangat cerdas. Pendidikan hanya melahirkan orang-orang yang pintar menipu banyak orang. Contoh riilnya para koruptor yang rata-rata berpendidikan tinggi dan sebagian lulusan luar negeri. Sebaliknya, orang-orang berpendidikan rendah bahkan tak pernah mengenyam bangku sekolah, hanya bisa jadi pencopet, maling kecil-kecilan. Ini kritik terhadap dunia pendidikan yang mesti disikapi dengan cerdas.

Semestinya pendikotomian itu tak terjadi. Pandai dan jujur adalah keselarasan perilaku yang mestinya ditanamkan tak hanya di ruang-ruang kelas, melainkan juga di rumah dan masyarakat. Dengan begitu, orang akan hidup lebih nyaman dan menghargai kejujuran sebagai bagian kepandaian yang memuliakan manusia.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 3 Januari 2011.