Sudah dibaca 490 kali

Apa yang menghalangi orang berbuat keburukan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sama dengan pertanyaan “Apa yang mendorong orang berbuat kebaikan?” Dua pertanyaan ini sangat penting untuk mengetahui tujuan kita berproses dalam kehidupan, mengikuti fase-fase perkembangan dari bayi hingga tua.

Satu hal penting yang membedakan manusia dengan malaikat dan iblis adalah pengetahuan. Pengetahuan akan sesuatu adalah terberi (given) oleh Tuhan. Melalui metode sesulit apapun untuk mengetahui rahasia tersembunyi, pada akhirnya pengetahuan itu diberikan oleh Tuhan. Manusia hanya berusaha menjangkau.

Adam diberi pengetahuan (ilmu) tentang benda-benda di bumi bukan untuk sekadar tahu. Ada sesuatu yang menyertainya dan ini adalah hakikat dari tahu: rasa syukur atas pemberian tersebut dan pemanfaatan pengetahuan itu agar selalu ingat dan dekat pada-Nya.

Dulu satu orang menguasai ilmu tak hanya satu bidang. Berbagai bidang dikuasai. Itulah ilmuwan sesungguhnya. Filsafat menjadi bidang ilmu inhern yang mereka miliki. Melalui filsafat, mereka memahami hakikat sebuah fenomena, makna di balik pengetahuan. Melalui filsafat itulah mereka memahami etika dan estetika, baik dan buruk. Sehingga kebanyakan filosof adalah orang-orang bijaksana yang hanya berpikir dan ingin mewujudkan kebaikan di muka bumi.

Ilmu kemudian berkembang menjadi lebih kompleks dan mendalam. Orang berpikir tak mungkin menguasai banyak bidang ilmu dengan rentang hidup yang terbatas. Maka dibuatlah cabang-cabang ilmu. Spesialisasi menjadi pilihan. Satu orang mendalami satu bidang ilmu dan disebut ahli setelah mencapai puncak pengetahuan tertentu. Gelar ilmuwan bergeser menjadi orang yang ahli di satu bidang.

Persoalannya, proses keilmuan tersebut lepas dari ruh yang menjadi hakikat tahu: rasa syukur dan semangat pemanfaatan pengetahuan agar selalu ingat dan dekat pada-Nya. Munculah dikotomi antara rasionalitas yang menjadi lokomotif penggalian ilmu dan agama. Agama dipandang mengekang rasionalitas. Ide ini kemudian disokong dengan munculnya filosof-filosof yang memuja rasionalitas. Orang beragama dipandang primitif dan anti ilmu pengetahuan, senang berpegang pada hal-hal yang sulit dijamah rasionalitas.

Dua “kubu” ini kemudian bergulat: agama versus rasionalitas. Kubu rasionalitas memandang sebuah peradaban bisa maju jika ilmu terpisah dari ajaran agama. Kubu agama memandang ini adalah bentuk sekularisme. Kini yang berjaya, harus diakui, adalah kubu rasionalitas.

Semangat sekularisme inilah yang kemudian menjalar ke kampus-kampus dan sekolah di mana ilmu pengetahuan digali. Mediumnya adalah guru dan dosen. Mereka berganti-ganti menciptakan generasi.

 

Jauh dari agama

Kendati ilmu pengetahuan beranjak dari realitas keseharian dan pengalaman empirik, namun dalam proses transfer ilmu, kaidah-kaidah moral dan etika disingkirkan. Ilmu adalah ilmu, tak berkaitan dengan moral dan etika.

Ironisnya, semangat sekularisme ini menjalar pula pada ilmu agama. Ilmu agama dipandang sebagai pengetahuan belaka, lepas dari tujuan utama belajar ilmu agama yaitu menjadi insan manusia yang memiliki moral dan etika. Dekat dengan Tuhan Yang Maha Menciptakan. Maka jangan heran keluaran kampus-kampus agama tak sedikit yang berpikiran sekuler dan menyimpang dari ajaran agama, tak ubahnya keluaran kampus tak berbasis agama.

Keluaran dari orang-orang yang dididik dengan semangat sekularisme itu menerangkan fenomena yang kini terjadi: rata-rata pelaku kejahatan adalah orang yang telah mengenyam bangku pendidikan tinggi. Proses belajar dan memahami ilmu selama bertahun-tahun, dari jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi tak menelurkan generasi yang berpihak pada nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Mereka pintar, tapi tak bermoral dan beretika. Rajin ibadah namun rajin pula melanggar akidah.