Sudah dibaca 587 kali

Dalam sebuah perbincangan yang hangat di Rumah Puisi[1], pada awal Agustus 2009 yang dingin, Taufiq Ismail berkisah tentang kegelisahannya pada suatu masa terhadap masyarakat Indonesia yang masih bangga dengan “kepincangan” dalam mengarang/menulis. Sastrawan bergelar dokter hewan itu, bersama sejumlah sastrawan lain, mencari ruh yang akan melandasi gerakannya dalam mengubah kondisi tersebut. Akhirnya ketemulah ungkapan sederhana dari kitab suci al-Qur’an yang mulia: “Nuun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam [68]: 1)

Lalu mereka mulai bergerilya. Agar bisa bergerak massif, Pemerintah digandeng. Maka munculah program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya dan Lokakarya Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra. Hingga kini ratusan sekolah di seluruh Indonesia telah disambangi, melibatkan puluhan sastrawan dan ratusan ribu guru dan siswa. Kampanyenya cuma satu: Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang Mengarang[2].

Kendati demikian, Taufik Ismail akui, gerakan ini masih jauh dari harapan. Survey sejumlah lembaga Internasional menyebutkan kegiatan membaca masyarakat Indonesia, terutama di kalangan pelajar, dibanding negara Asia lainnya, masih rendah. Orang yang tidak membaca pastilah tidak menulis (kecuali menulis di buku pelajaran sekolah/kuliah). Kemalasan dalam membaca dan menulis dipengaruhi pula oleh motivasi yang kurang.

Membaca dan menulis merupakan aktivitas yang saling mendukung. Persoalannya, orang yang menulis pasti gemar membaca namun orang yang membaca tak selalu mau menulis.

Secara pragmatis, orang tak memiliki motivasi untuk menulis lantaran tidak mengetahui dan merasakan keuntungan menulis. Kondisi ini didukung dua hal: lingkungan sekitar dan apresiasi terhadap kemampuannya dalam menulis.

Lingkungan berkaitan dengan akses yang kurang terhadap buku/informasi dan pengaruh orang-orang sekitar yang malas membaca apalagi menulis. Di kota-kota kecil atau daerah terpencil di Indonesia, akses terhadap buku memang masih kurang. Perpustakaan dan toko buku sulit ditemukan. Namun hal ini bisa diatasi dengan akses internet baik melalui jaringan reguler maupun telepon genggam. Media massa elektronik (e-paper) dan laman berita dapat dibaca tiap hari. Buku elektronik (e-book) dapat diunduh gratis.

Yang sulit adalah jika orang-orang sekitar malas membaca dan menulis. Malah kadang, orang yang membaca dan menulis dipandang aneh oleh mereka. Namun, selama kegiatan membaca dan menulis tidak dianggap sebagai aksi kejahatan terorisme, dengan niat yang kuat kedua aktivitas tersebut dapat dilakukan. Kuncinya terletak pada motivasi yang terbangun.

Hambatan lain dalam menulis adalah kurangnya apresiasi terhadap kemampuan sendiri. Hal negatif ini secara tak sadar terbangun di dalam pikiran dan benak menjadi dinding tebal yang menghambat kemampuan menulisnya. Tulisan yang telah tersusun menjadi paragraf bahkan satu cerita utuh dibuang padahal banyak orang untuk membuat satu kalimatpun butuh kerja keras berjam-jam. Tulisan sendiri dianggap jelek, tak terstruktur rapi, dan layak dimuseumkan di tempat sampah.

Lalu disusunlah secara sistematis berbagai pembelaan: tidak menguasai tata bahasa dan Ejaan yang Disempurnakan (EYD), sibuk kerja, tak ada bahan tulisan, tak ada yang mau membaca dan kalaupun ada yang mau baca pasti akan mencacinya, waktu menulis hanya sedikit, komputer rusak, menghemat listrik, dll.

Motivasi menulis semestinya dibangun di atas pondasi kesadaran dan niat yang kuat. Pondasi itu kali pertama dibangun oleh Firman Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Alaq ayat 1: “Bacalah” dilengkapi dengan surat al-Qalam ayat 1: “Demi pena”. Dua surat ini pula yang menjadi penjelas bagaimana Tuhan membekali umatnya dengan dua aktivitas agar selamat dunia-akhirat: bacaan dan tulisan.

“Jika Tuhan menghendaki untuk berfirman kepada makhluk-Nya dalam bentuk juklak-juknis formal terjadwal gaya kerani kantoran, mustahil Tuhan tidak bisa,” tulis sastrawan Agus R. Sardjono. “Tapi, Tuhan memang memilih untuk berfirman dan bersapaan dari hati ke hati dengan makhluk-Nya dalam bentuk sastra. Bentuk yang sekaligus menyentuh dan menyapa akal, rasa, jiwa, dan batin manusia secara personal, secara orang-perorang.[3]” Jadi Tuhan sudah menunjukkan contoh kepada manusia, tinggal manusia sadar atau tidak telah diberi perintah.

Dakwah, sebagai kegiatan sentral agama rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana ditunjukkan oleh para Sahabat dan ulama, berbasis pada kegiatan membaca dan menulis. Imam mazhab (Hambali, Hanafi, Maliki, Syafi’i) menjelaskan aturan agama melalui tulisan. Imam Al Ghazali menguraikan persoalan-persoalan agama lewat kitabnya Ihya ‘Ulumuddin. Jalaluddin Rumi menerangkan ajakan kepada umat untuk mencintai Tuhan juga lewat bait-bait syair.

Jadi, tidaklah berlebihan bila dikatakan tidak afdhol orang beriman jika dalam hidupnya tidak pernah membaca dan menulis. Bukankah Allah SWT mewajibkan umat-Nya membaca al-Qur’an?

Motivasi lain pentingnya menulis yaitu membuat perubahan baik pada diri maupun lingkungan. Banyak sekali buku yang pernah terbit membuat perubahan besar pada masyarakat dunia, baik skala global maupun lokal, di antaranya kitab imam empat mazhab, Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Ghazali, Das Kapital karya Karl Marx, Mein Kampf karya Adolf Hitler, dan Habis Gelap Terbitlah Terang karya R.A Kartini. Jika Anda ingin mengubah masyarakat dan dibilang orang besar, maka menulislah!

Lebih ke konteks kekinian, sejumlah buku penulis Indonesia juga berhasil membuat perubahan pada sebagian masyarakat. Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman Elshirazy merupakan contoh kecilnya, meskipun telah berkolaborasi dengan industri perfilman.

Ada beberapa keuntungan lain jika Anda menulis. Pertama, mengurangi stres. Menulis merupakan aktivitas menyalurkan isi kepala yang dipenuhi beragam informasi dan khayali. Jika “isi” kepala dikeluarkan akan terasa enak dan segar. Ini seperti Anda membuang kotoran dalam tubuh. Jika isi perut terus disimpan dan tidak dikeluarkan, tubuh Anda akan sakit.

Kedua, menata pikiran. Menulis pada dasarnya menguraikan isi kepala dengan pola yang teratur. Kata dan kalimat dipilih melalui proses berpikir yang, jika terus dilatih, akan membangun pola yang tertata dan sistematis. Maka orang yang menulis hidupnya lebih teratur dan dinamis ketimbang orang yang tidak menulis.

Ketiga, memberi nafkah. Kini banyak sekali lapangan kerja di bidang penulisan, di antaranya penerbitan buku (puisi, cerpen, novel, nonfiksi), penulis skenario, penulis iklan, penulis bayangan (ghost writer), dan penulis naskah pidato. Tak sedikit penulis yang beralih dari profesi sebelumnya dan kaya dari profesi menulis.

Keempat, ibadah. Materi apapun yang Anda tulis, jika itu membawa kebaikan pada orang lain dan diniatkan semata untuk mengharap ridha Tuhan, insya Allah itu bernilai ibadah di sisi-Nya. Meskipun itu hanya sederet kalimat status di akun Facebook atau Twitter Anda.

Setelah niat menulis terpancang di hati, rawatlah ia dengan sering menulis. Sebab, menulis adalah sebuah keterampilan, bukan bakat! Semakin sering menulis, kian baik tulisan. Tapi penulis akan kehilangan kemampuannya jika tak lagi menulis.

Lalu apa yang mau ditulis? Pertama, tulis yang dekat dengan kita. Sering orang bingung dan tidak tahu apa yang akan ditulis karena apa yang ingin ditulisnya jauh dari dirinya. Jika Anda guru atau dosen, tulislah hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas mengajar di kelas. Atau berbagai hal yang berkaitan dengan profesi Anda. Misalnya Anda menulis tentang metode mengajar yang buat siswa/mahasiswa senang. Atau opini seputar kesejahteraan guru/dosen yang perlu diperhatikan Pemerintah.

Kedua, tulis yang banyak kita tahu. Jangan tulis sesuatu yang tidak atau sedikit kita tahu. Kalau nekad, tulisan itu akan rawan kesalahan dan kebohongan. Jika Anda guru/dosen fisika, tulislah buku, diktat, atau materi pengayaan tentang materi ilmu fisika. Orang lebih percaya isi buku jika sang penulis sesuai dengan kapasitas/kapabilitasnya.

Ketiga, tulis yang menarik minat kita. Jika tertarik sesuatu, kita akan mencari informasi selengkap mungkin tentangnya, walaupun banyak korban waktu, tenaga, bahkan uang. Hal itu kita lakukan berdasarkan kerelaan, bukan paksaan. Maka munculah istilah hobi. Jika Anda hobi mancing dan ingin menulis tentangnya, maka Anda akan mencari informasi ihwal mancing di buku, internet, perpustakaan, atau mewawancarai para pemancing profesional.

Keempat, tulis yang buat kita tertantang. Kadang kita ingin melakukan sesuatu yang sulit dijangkau oleh orang lain, atau hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang. Ada keasyikan tersendiri jika berhasil mencapainya. Misalnya mengelilingi dunia dengan berjalan kaki pakai bakiak, keliling Pulau Jawa dengan merangkak, menyelam di danau-danau terdalam Indonesia, atau berburu ular di 33 provinsi se-Indonesia. Tulis pengalaman Anda saat menjalaninya. Banyak sekali hal menantang di luar sana, maka sesuaikan dengan kemampuan Anda.

Penulis pemula biasanya berupaya mencari pola tulisan khasnya. Pola ini akan ketemu dengan sendirinya seiring aktivitas menulis yang terus digeluti. Setelah ketemu pola menulis, pada gilirannya akan muncul keinginan untuk mencoba hal-hal baru genre penulisan. Yang diperlukan adalah semangat untuk belajar. Dan cara termudah untuk mempelajari suatu tulisan adalah dengan membaca contoh yang sudah ada.

Untuk merawat semangat dan mengasah keterampilan menulis, lakukan aktivitas berikut ini. Pertama, baca buku. Baca apa saja, baik fiksi maupun non-fiksi. Jangan batasi pengetahuan yang masuk ke otak kita. Buku bacaan akan menjadi bahan penulisan kita yang sangat berharga. Makin sering membaca, makin kaya perbendaharaan kata kita, dan makin banyak pula bahan yang menunggu ditulis.

Kedua, berkumpul dengan penulis atau bergabung dalam organisasi kepenulisan. Lingkungan memberi pengaruh besar pada motivasi menulis. Motivasi mengalami fluktuasi. Jika motivasi sedang turun, kita dapat menaikkan tensinya dengan bertemu penulis lain. Sebab kita dapat belajar dan berbagi pengalaman menulis dengan mereka. Atau mengerjakan proyek kepenulisan bersama-sama.

Ketiga, ikuti lomba menulis. Tiap tahun kuantitas lomba menulis mengalami peningkatan. Selain uang jutaan, seringkali hadiah dilengkapi dengan bonus menggiurkan seperti diterbitkan, dapat tiket tamasya, dapat hadiah elektronik, atau difilmkan. Dengan mengikuti lomba, kita tertantang untuk membuat tulisan bagus, unik, dan menarik. Hal ini mendorong kita untuk semakin meningkatkan kualitas tulisan.

Keempat, bersyukur. Kemampuan menulis adalah sebuah anugerah Tuhan. Tak semua orang bisa menulis, dan tak semua orang yang bisa menulis menjadi penulis. Maka kalau Anda sudah jadi penulis, syukuri dengan membuat tulisan yang mencerahkan banyak orang. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak orang.

Kini, di internet, tempat berlatih mengasah tulisan semakin banyak. Anda bisa memampang tulisan apapun di blog (blogspot, wordpress, multiply). Atau jika ingin dilihat lebih luas, Anda bisa bergabung menjadi citizen journalist di laman berita. Rata-rata media nasional menawarkan fasilitas ini. Anda pun bisa melamar menjadi kontributornya.

Menulis, sekali lagi, bukan sebuah bakat. Ia keterampilan yang bisa dipelajari. Selamat menulis dan menikmati hidup!

 

* Makalah disampaikan pada Workshop Jurnalistik yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta, Sabtu 17 November 2012.

 



[1] Rumah Puisi dipenuhi lebih dari 7.000 judul buku koleksi Taufik Ismail. Rumah ini terletak di kaki Gunung Marapi dan Gunung Singgalang di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Rumah Puisi dijadikan pusat pembelajaran sastra untuk siswa dan guru.

[2] Judul pidato penganugerahan gelar kehormatan Doctor Honoris Causa di bidang pendidikan sastra yang dibacakan Taufik Ismail di depan rapat terbuka Senat Universitas Negeri Yogyakarta pada Sabtu, 8 Februari 2003.

[3] Kutipan ini termuat dalam essai bertajuk “Agama Keberaksaraan, Agama Kelisanan” halaman 4 dalam Majalah Sastra Horison edisi November 2012.