Sudah dibaca 530 kali

Rapat Kerja Lembaga Pers Mahasiswa DIDAKTIKA Universitas Negeri Jakarta, pertengahan 2002.

“Tidak mungkin, Bil. Anggota kita tidak banyak. Kita harus realistis.”

“Rencana itu bisa dilakukan jika anggota kita banyak.”

“Untuk mengerjakan majalah saja kita keteter dengan jumlah anggota yang ada.”

Berkali-kali peserta Raker meyakinkan saya bahwa salah satu program kerja saya sebaiknya dibatalkan saja.

“Tapi kita harus optimis. Kita harus memaksimalkan potensi yang ada. Lagi pula kita belum tahu berapa jumlah anggota baru kita nanti.” Berulangkali saya meyakinkan teman-teman tapi sepertinya dinding tebal itu tetap kokoh untuk ditembus. Saya kemudian menoleh pada Bagas, Sekretaris Redaksi.

“Tidak mungkin, Bil. Kita harus realistis,” kata Bagas dengan suara tertatih sambil menggelengkan kepala.

Sejenak saya terdiam. Tidak tahu harus berkata apalagi untuk meyakinkan mereka. Tiba-tiba mata saya berkaca-kaca namun saya bisa mengendalikan diri. Rencana yang telah disusun dengan penuh optimisme itu terpaksa harus luruh.

Selang dua bulan kemudian, usai penerimaan mahasiswa baru, Didaktika membuka rekrutmen anggota baru. Tak dinyana, pendaftarnya relatif banyak. Lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya: 92 orang. Tak disangka lagi, peserta yang ikut Orientasi Didaktika di kawasan Pondok Labu Jakarta Selatan itu membeludak. Jumlahnya 41 orang. Untung saja tempat orientasi adalah sebuah rumah bekas madrasah sehingga ruangan yang dipakai untuk acara orientasi mencukupi.

Saya masih ingat, hajatan Divisi Kaderisasi kali ini berjalan cukup khidmat. Acara dua hari itu banyak diisi dengan diskusi pada pagi hingga sore. Malamnya, untuk kali kedua sebagaimana dilakukan pada Orientasi Didaktika tahun sebelumnya, digelar semacam Jurig Malam. Peserta dikumpulkan dalam beberapa kelompok, berjalan menyusuri jalanan yang gelap dan berliku, menyinggahi beberapa pos.

Pos dijaga oleh beberapa panitia. Mereka ditanya seputar pengetahuan mengenai organisasi Didaktika, penulisan jurnalistik, dan wawasan umum. Di akhir acara, mereka dikumpulkan di satu lapangan luas di seberang pekuburan. Di tempat itu mereka diajak refleksi diri. Usai mendengar kumandang azan Subuh yang terdengar sayup dari kejauhan, saya membacakan puisi panjang diiringi suara sendu seruling yang ditiup Maoly. Beberapa peserta mengisak tangis.

Proses pengkaderan terus berlanjut. Dalam pandangan saya, ujung tombak pengkaderan organisasi jurnalistik adalah Divisi Kaderisasi dan Divisi Penerbitan. Kedua Divisi Kaderisasi dipegang Rahmat Sulaiman alias Ugay. Tapi sayang, pernikahannya membuatnya tak lagi aktif di Didaktika. Jadilah pengkaderan pincang.

 

Haluan dan Selip Kampus

Yang menjadi fenomena menarik saat itu adalah, setelah acara orientasi, anggota baru Didaktika lumayan banyak yang aktif datang ke sekretariat di Gedung G ruang 304. Mereka mengikuti Kursus Jurnalistik Singkat (Kupikat) dan acara-acara diskusi yang digelar Divisi Kaderisasi. Potensi ini memicu saya menjalankan rencana yang kandas saat Raker: membuat buletin Haluan edisi cetak dan membuat buletin baru pengganti Haluan yang ditempel di mading-mading kampus.

Ada beberapa pertimbangan kenapa buletin Haluan harus tampil cetak. Pertama, semakin banyak media, semakin banyak wadah pembelajaran bagi anggota Didaktika. Kedua, tampilan cetak mengharuskan pengelolanya bekerja serius ketimbang mengerjakan media yang cuma difotokopi lalu ditempel di mading kampus. Ketiga, Haluan edisi cetak dijual dan memuat iklan. Ini bisa jadi pembelajaran bagi Divisi Perusahaan.

Pembuatan Haluan edisi cetak tak dihalangi teman-teman. Persyaratan yang mereka ajukan sudah terpenuhi: anggota baru banyak. Maka saya dibantu Bagas membuat dummy haluan edisi cetak yang tampil beberapa halaman—sekitar 12 halaman. Haluan cetak perdana berwarna biru, dijual Rp 300, headline-nya tentang kisruh pelaksanaan bakti sosial di Fakultas Teknik. Haluan cetak diterbitkan mulai edisi ketiga—edisi satu dan dua yang dikelola anggota baru dalam versi fotokopi-tempel.

Pemilihan Pemimpin Redaksi Haluan tidak pakai sistem tunjuk sebagaimana dilakukan Pemred majalah sebelumnya. Pemred Haluan pertama dipilih lewat proses pemilihan mandiri. Anggota baru dipersilakan mencalonkan diri. Kandidat yang maju diadu. Mereka mempresentasikan visi-misi dan hal apa saja yang akan dilakukan ketika menjadi Pemred. Pemred pertama Haluan edisi cetak adalah Fitara, mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Pengganti Haluan adalah buletin Selip Kampus. Pemred pertamanya, yang dipilih lewat pemilihan mandiri, adalah Edy Dwinanto, mahasiswa Jurusan Ekonomi.

Secara konsep, Selip Kampus adalah versi fotokopi Haluan; empat halaman, fotokopi hitam putih, ditempel di mading kampus. Namun gaya bahasa yang dipakai lebih ringan, mengakomodasi bahasa gaul, dan bersifat naratif—beda dengan Haluan yang memakai bahasa formal dan bergaya hardnews walau semestinya feature. Pemilihan judul dan tema juga mengedepankan hal yang sensasional.

Konsep Selip Kampus didasarkan pada kondisi mahasiswa yang malas membaca—senang baca bacaan yang ringan—suka pada hal baru dan pragmatis, dan tertarik pada hal-hal yang sensasional. Dua tema unik yang pernah diangkat buletin ini adalah kasus hipnotis dan ekshibisionis yang berkeliaran di kampus.

Jurnalis yang mengisi Haluan dan Selip Kampus adalah anggota baru. Mereka diperkenalkan dengan kehidupan di ruang redaksi sebelum dilibatkan dalam pembuatan majalah Didaktika. Pengurus bertindak sebagai fasilitator dan pengawas saat mereka melakukan rapat proyeksi, rapat redaksi, peliputan, dan penulisan. Sementara posisi editor tetap dipegang pengurus.

Kendati media baru bertambah satu, saya masih memandang media pembelajaran bagi anggota dan pengurus Didaktika masih kurang. Tidak semua anggota baru terakomodasi dalam penerbitan Selip Kampus dan Haluan yang terbit saling mengisi dwimingguan. Sementara pengurus hanya mengerjakan majalah yang terbit beberapa bulan sekali. Siklus atau alur kerja redaksi seperti birokrasi yang tidak bisa mengakomodasi semua anggota untuk mengasah kemampuan menulis dan menampilkannya ke publik UNJ.

Berdasarkan kenyataan di atas, saya mencoba merevitalisasi keberadaan Haluan Newsletter. Media satu lembar yang terbit mingguan dan ditempel di mading-mading kampus ini harus ditulis oleh semua pengurus secara bergantian. Tiap pengurus diberi jadwal penulisan. Haluan Newsletter mengulas isu-isu penting seputar kampus, nasional, dan internasional. Ditulis dalam bentuk opini.

Selain Haluan Newsletter, dibuat pula majalah dinding (mading) Didaktika. Ditempel di dinding sekretariat Didaktika. Isi mading bebas. Bisa ditulis dan ditempel kapan saja. Penempelannya bisa dikreasikan sebagaimana isi mading di sekolah-sekolah.

Tak puas dengan lima media yang ada (Majalah Didaktika, Buletin Haluan, Buletin Selip Kampus, Haluan Newsletter, dan mading), Didaktika mempelopori pembuatan mading Gedung G. Mading ini berdiri kokoh di depan Gedung G. Mading berisi info seputar kegiatan kampus, kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa, dan opini.

Penerbitan Majalah Didaktika relatif tidak jauh beda dengan penerbitan sebelumnya. Alur kerja redaksi tak banyak berubah. Tema yang diangkat pun tak jauh dari isu-isu hangat nasional yang lebih condong ke arah politik.

 

Inovasi

Selain kemunculan Haluan edisi cetak, buletin Selip Kampus, revitalisasi Haluan Newsletter, dan mading Didaktika, inovasi lain terletak pada cara kerja redaksi. Saya melihat, pewaktuan dan penjadwalan alur kerja redaksi tidak detail sehingga terkesan tidak transparan. Pemred sebelumnya hanya mengganti tanggal pada alur kerja redaksi yang sudah dibuat; rapat proyeksi, rapat redaksi, reportase, penulisan, editing, lay out, cetak, dan rapat evaluasi. Sedangkan siapa penanggung jawab rubrik tak dicantumkan/diumumkan. Akibatnya antarkru redaksi tidak bisa saling mengingatkan dan koordinasi pun hanya dilakukan saat rapat.

Maka, selain membuat alur waktu dan jadwal secara umum, saya membuat alur waktu dan kerja secara detail. Di tempel di dinding agar semua bisa baca. Formatnya terdiri dari nama penulis, rubrik yang dipegang, tema liputan, dan deadline penulisan. Dengan demikian tidak hanya Pemred yang tahu sejauh mana pencapaian kinerja tiap kru. Semua kru bisa saling tahu kemajuan peliputan kru yang lain. Model seperti ini digunakan pula untuk pewaktuan dan penjadwalan buletin Haluan dan Selip Kampus.

Format lain yang lebih detail dibuat untuk tiap kru. Tiap kru wajib mengisi format ini untuk dipantau sejauh mana perkembangan peliputannya. Jika format sebelumnya dititiberatkan pada alur kerja redaksi. Maka format ini berfokus pada narasumber. Formatnya: Nama narasumber, pekerjaan/jabatan, tema, alamat, nomor telepon, dan waktu wawancara. Namun sayang, inovasi ini tidak disambut baik kru Didaktika. Hanya sekali saya membuat format tersebut untuk pembuatan majalah Didaktika. Karena tidak ada yang mengembalikan format, maka saya tidak meneruskan program itu. Barangkali mereka belum memandang penting pendokumentasian nara sumber.

Satu hal yang mengganggu dalam penulisan yang dilakukan teman-teman adalah perhatian terhadap cara penulisan itu sendiri. Ini tampak saat waktunya editing. Pertama, gaya penulisan. Gaya penulisan kebanyakan hardnews, gaya penulisan koran. Padahal, dalam bentuk majalah, gaya tulisannya seharusnya feature. Kedua, diksi atau pemilihan kata. Pengaruh bacaan sangat tinggi terhadap tulisan. Masalahnya, buku bacaannya kebanyakan buku ilmiah bertema politik, ekonomi, sosial, filsafat, dan antropologi. Sedikit yang baca sastra (cerpen, novel). Sehingga diksi yang digunakan dalam tulisan dapat dikatakan menggunakan “bahasa tingkat tinggi”. Selain sulit dicerna, juga ruwet dalam penyajian—alur berpikirnya rumit meski secara logika benar. Ketiga, ejaan banyak sekali yang salah. Kebanyakan penulis tidak melakukan editing sama sekali. Ini dapat dimengerti karena tulisan ditulis dalam keadaan deadline dan terburu-buru. Keempat, masih banyak yang belum menguasai penggunaan tanda baca. Ini akibat editing tidak dilakukan sehingga tanda titik, koma, dan kutip tidak diletakkan dengan benar.

Untuk mengurangi kendala teknis seperti itu, saya membuat sejumlah tulisan sederhana berkaitan dengan hal tersebut. Misalnya saya menulis tentang fungsi-fungsi tanda baca, bagaimana merangkai kata menjadi kalimat dan merangkai kalimat menjadi paragraf.

Belum selesai…