Sudah dibaca 606 kali

Ini hari pertama saya menjabat sebagai Pemimpin Tabloid Transformasi 2004-2005, menggantikan Ade Mayasanto (Ryan) yang mengundurkan diri. Sebelumnya saya ditunjuk sebagai Wakil Pemimpin Redaksi menggantikan Rahmat Maulid. Ya, semua serba menggantikan. Rahmat diganti karena dia akan lulus kuliah, tinggal menunggu waktu wisuda September mendatang bersama Raviandini dan Euis Azizah. Maka Ade merasa perlu melakukan penggantian itu “agar tidak mengganggu proses kelulusan mereka”.

Ternyata penggantian itu “sengaja dirancang” berkelanjutan. Pada Raker di Mega Mendung 23-25 Juli kemarin, Ade mengundurkan diri di waktu sebelum acara Rapat Kerja (Raker) dimulai. Ia beralasan, awalnya, merasa gagal karena target yang pernah dia buat tak terpenuhi. Kaderisasi kurang lancar. Dari penerimaan anggota baru Transformasi yang dibuka dua gelombang, hanya menghasilkan dua orang (Aini dan Olif). Penerbitan selalu molor hingga tiga bulan. Jadi, dengan kondisi itu dia merasa gagal dan perlu diganti oleh “orang-orang muda yang punya potensi lebih baik”.

Tapi teman-teman tak menerima alasan seperti itu, termasuk saya. Sebab, kegagalan hanya pandangan sepihak Ade saja. Lagi pula kegagalan itu tak seharusnya membuat dia mengundurkan diri. Dia juga tak bisa meyakinkan teman-teman dengan alasan yang lebih rasional, misalnya ada masalah keuangan, keluarga, lulus, skripsi, atau hal lain. Perdebatan antara dia dan teman-teman cukup lama hingga membuat kepala saya pusing. Rahmat mengusulkan waktu ditunda guna lobi-lobi sebab perdebatan akan terus berlangsung lantaran masing-masing keras kepala, memaksakan kehendak. Ade bersikeras mengundurkan diri sementara Forum tidak menyetujuinya.

Waktu ditunda, lobi-lobi dilakukan. Akhirnya Ade mau bicara alasan sebenarnya mengapa ia mau mundur. Ia tak punya motivasi lagi untuk terus memimpin Transformasi. Dia merasa sendiri, ditinggalkan teman-teman. Satu perasaan yang pernah saya alami ketika menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Didaktika 2002-2003. Otoritas Pemimpin Redaksi seperti tak dihormati lagi, terlihat dari beberapa keputusan yang telah disepakati bersama tapi tak dilaksanakan dan rapat redaksi yang tak dihadiri siapa pun. Memang, dalam kondisi seperti ini, akan ada pertanyaan dari hati, “Buat apa punya otoritas kalau tidak dihargai? Lebih baik berhenti saja daripada selalu makan hati!”

Itulah yang saya coba mengerti dari kondisi Ade saat itu. Dia mengaku tak mungkin bicara soal menurunnya motivasi kepada teman-teman yang lain, terutama anggota baru, khawatir memengaruhi mereka. Tapi tetap saja lobi-lobi itu mentok. Masing-masing tetap kukuh. Dan ini akan menjadi buruk bila berlangsung terus, sementara Raker belum dimulai padahal acara sudah berlangsung beberapa jam.

Akhirnya saya mengalah. Sudah lama teman-teman seperti Selamet dan Rahmat “menginginkan” saya menjadi Pemred, menggantikan Ade. Itu terlontar lewat “komunikasi-komunikasi yang tidak serius”. Saya pun menanggapinya tidak serius dan berharap mereka menghentikannya. Tapi saya yakin waktu itu mereka tidak main-main. Kondisi keredaksian Transformasi memang tidak kondusif, mesti ada perubahan yang diusung oleh orang lain selain “rezim” yang sedang memimpin. Maka penggantian Rahmat, Dini dan Euis (Bendahara diganti Meilany) jadi awalan. Itu setting-an. Setidaknya itu analisa Selamet. Pergantian akan seperti model Soeharto tahun 1998. Dia digantikan Habibie secara otomatis karena Habibie wakilnya. Sejak itu saya menduga setting-an dilakukan oleh Ade, Selamet dan Rahmat.

Ternyata tidak. Ade berjalan sendiri. Dia ingin mengundurkan diri sepertinya karena keinginan pribadi, tiada dorongan dari siapapun (walau kadang pada beberapa kesempatan Selamet dan Rahmat sengaja bicara kepada saya agar jadi Pemred di depan Ade dan saya kira ini sungguh tak mengenakkan bagi Ade). Namun terus terang saya tak berambisi menggantikan Ade menjadi Pemred. Saya tak mau pula dianggap berkeinginan menjatuhkan Ade lewat forum di Mega Mendung itu. Sekali lagi, saya tak berambisi.

Tapi bagaimanapun semua harus berubah. Transformasi tidak boleh tenggelam dalam kondisi yang kurang baik seperti ini. Teman-teman, saya rasa, memang menginginkan saya segera menggantikan Ade untuk mengubah keadaan. Saya, demi Tuhan, terpanggil.

Maka saya terima tawaran Ade untuk menggantikannya menjadi Pemred. Setelah lobi-lobi, dia kembali berbicara pada forum. Dia mengundurkan diri dan langsung diganti oleh saya. Ternyata, dengan tak memakan waktu lama, forum menyetujui usulan tersebut. Tapi saya tak mau begitu saja. Saya ingin tahu apa forum benar-benar menginginkan saya menggantikan Ade menjadi Pemred. Saya tak ingin penggantian itu sekadar ritual menaikkan saya ke kursi Pemred dan setelah itu kondisi tak berubah; otoritas tak dihargai. Maka saya minta satu per satu anggota forum mengungkapkan alasan kenapa menginginkan saya menjadi pemimpin redaksi mereka. Dan, saya rasa, semua mendukung saya.

Maka pergantian kepemimpinan dilakukan. Ade menyerahkan jabatan itu ke saya. Saya menerimanya “dengan beban”. Sebab, dia mewarisi kondisi yang tidak baik kepada saya.

Acara dilanjutkan ke Rapat Kerja. Tidak ada penggantian susunan “kabinet”. Wakil Pemimpin Redaksi saya tiadakan. Sekretaris Redaksi tetap Arif Budiman. Meilany masih Bendahara. Herman sebagai penanggung jawab Kaderisasi dan Longbeart memegang Pustaka Transformasi (toko buku).

Saya memang punya idealisme di Transformasi. Sedikit demi sedikit saya ingin menerapkan praktik jurnalisme yang diketengahkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku 9 Elemen Jurnalisme. Mau tidak mau, perbaikan kerja keredaksian Tabloid Transformasi harus dilakukan secara serius, terutama berkenaan dengan kaderisasi dan perbaikan tulisan. Ya, rencanannya nanti kaderisasi dilakukan baik ke dalam maupun melibatkan orang luar (perekrutan anggota baru). Selain itu, saya ingin melakukan perbaikan kualitas tulisan dari yang selama ini menggunakan model hardnews menjadi feature. Ini tak mudah memang. Tapi saya harus mencobanya kalau ingin tabloid Tranformasi maju.  Selain itu, saya ingin menggunakan kreasi saya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang baru dan kreatif. Dan, ini pula kesempatan saya untuk mengembangkan teknik penulisan yang baru-baru ini saya rintis.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. Senin, 26 Juli 2004.