Sudah dibaca 345 kali

Mungkin sudah jadi tradisi, baik di Didaktika maupun Transformasi, usai acara besar organisasi, keesokan harinya tidak ada atau sedikit orang yang muncul. Itu terbukti pada Senin kemarin. Transformasi sudah seperti kuburan; sepi sekali. Hanya ada segelintir orang yang datang. Tapi karena saya menganggap itu tradisi, jadi saya tak mau banyak mengambil pusing.

Parahnya keesokan harinya, Selasa, 27 Juli. Sebab di hari itu ada dua jadwal rapat yang telah disepakati bersama di Mega Mendung–di acara Raker–yakni pukul 16.00 rapat pematangan tema (rapat proyeksi lanjutan untuk dibawa ke rapat proyeksi dengan PR 1), lalu pukul 20.00 rapat dengan beberapa personel seperti Ade, Azis, Selamet dan Rahmat soal pencarian data-data di luar kerja keredaksian. Untuk rapat terakhir, hanya Rahmat yang datang. Itu pun sampai pukul 19.00. Ade datang dari Uka-Uka (sebutan tempat kerjanya di Utan Kayu—ISAI) pukul 22.00. Saya melihat, indikasi kurang baik mulai terlihat dalam kepengurusan baru ini.

Rabu, 28 Juli, tak jauh beda dengan hari-hari sebelumnya. Semalamnya saya menginap bareng Arif dan Ade. Pagi bermain bulu tangkis sama Ade, siangnya ke Glodok sama Arif, beli peralatan-peralatan keredaksian seperti kaset, baterai, disket, CD-R, CD-RW dan CD program. Bolak-balik naik Busway. Itu baru pertama kalinya saya dan Arif naik Busway.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. Kamis, 29 Juli 2004