Sudah dibaca 421 kali

Pukul 15 tadi rapat proyeksi di ruang Pembantu Rektor (PR) 1. Syukurlah banyak yang datang. Soalnya, beberapa menit sebelumnya, hanya segelintir orang yang terlihat di sekretariat Transformasi.

Rapat berjalan biasa-biasa saja. Dewan Redaksi juga seperti biasa yang datang; Sjafnir Ronisef (PR 1) dan Soeprijanto (Dekan FT). Tapi sepertinya canda sering terdengar ketimbang rapat-rapat sebelumnya yang pernah saya hadiri. Canda khas seputar menertawakan diri sendiri; terbit sering terlambat, kinerja kurang, dll.

Dalam rapat evaluasi dan proyeksi itu saya banyak diam. Saya ingin mendengar teman-teman bicara banyak soal penerbitan ke depan. Sebab, saya ingin inisiatif-inisiatif itu muncul dari mulut mereka sehingga dalam pelaksanannya mereka bisa bertanggung jawab atas perkataannya. Bukan apa-apa, saya kok masih menyimpan pesimisme pada teman-teman untuk bisa menyelesaikan tabloid dalam waktu sebulan satu minggu (terbit 6 September). Tapi biarlah semua berjalan seperti biasa. Saya hanya berharap target itu bisa tercapai. Saya juga melihat ada semangat baru dari teman-teman dalam bekerja di bawah kepemimpinan saya. Saya juga merasakan sebuah harapan—sempat terlontar dalam guyon di rapat tersebut—dengan pergantian Pemred yang baru, diharapkan kinerja redaksi Transformasi meningkat.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. Jumat, 30 Juli 2004