Sudah dibaca 480 kali

Tiap kali saya teringat dan melihat tulisan saya di tabloid Transformasi edisi 35—“Batu Panas” KRS/KHS—hanya kekesalan yang terlintas. Baca saja isinya! Tulisan itu tidak seperti yang saya tulis. Tulisan itu dipotong dengan semena-mena. Tulisan itu adalah tulisan terburuk yang pernah saya baca dan alami selama 5 tahun terlibat dalam pers mahasiswa!

Saya selalu menulis dengan sepenuh hati. Saya sudah menganggap menulis sebagai pekerjaan seni. Tulisan itu bagi saya adalah karya seni. Lalu kenapa tiba-tiba karya saya itu dibunuh sedemikian rupa sehingga saya tak lagi ingin mengakuinya sebagai tulisan saya? Sungguh, ini jadi pukulan berat bagi saya. Bila dianalogikan, tulisan itu adalah lukisan yang dititipkan ke pemilik galeri untuk dipamerkan keesokan harinya. Namun, ketika pameran digelar, si pelukis melihat lukisannya tergores bagian tengahnya namun tetap dipajang di tempat yang bagus. Makna lukisan yang dibuatnya, karena robek, hilang. Ia merasa malu tiap kali pengunjung galeri berdiri di depan lukisannya. Ia lebih sedih lagi ketika pemilik galeri tak dapt menjelaskan hal tersebut dan merasa tak bersalah.

Siapa yang dapat menjelaskan kenapa tulisan saya menjadi seperti itu? Pemrednya pun, Ade Mayasanto, tak dapat menjelaskan. Wakil Pemrednya, Rahmat Maulid, juga tak bisa bicara apa-apa. Lay outer­-nya, Yudhi Pramudya? Saya belum menemuinya karena ia tak ada.

Duren Sawit, Jakarta Timur. Selasa, 17 Agustus 2004 (Sekali lagi, RI belum benar-benar merdeka!)