Sudah dibaca 439 kali

Penyambutan mahasiswa baru oleh mahasiswa lama tahun ini kelihatan lebih semarak ketimbang tahun lalu. Mulai dari organisasi intra kampus dari BEM tingkat jurusan sampai universitas, hingga organisasi ekstra kampus, terlihat seperti berjualan sembako. KAMMI, di antara HMI Dipo, HMI MPO dan PMII, tampak lebih kreatif. Mereka sepertinya menggunakan model kampanye pemilu 2004; memasang spanduk dan poster penyambutan kepada mahasiswa baru, mencitrakan organisasi ini sebagai yang tertindas dengan menyebar pamflet berisi perusakan terhadap spanduk penyambutannya—mirip kasus SBY yang dihina Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati. Nampak jelas pencarian massa baru. Belum lagi kekuatan mereka (KAMMI) di tiap Jurusan dan Fakultas dengan membawa nama musala mahasiswa. Di antara Fakultas lain, menurut saya, sejak lama, Forum Studi Islam Al Biruni Fakultas Teknik-lah yang lebih mencolok.

Unit kegiatan Mahasiswa (UKM) tak mau kalah. Memang hajatan tiap tahunnya menggelar tenda pameran di satu tempat—kali ini di samping gedung rektorat menuju Teater Terbuka.

Suatu hari Epung, Pemimpin Umum LPM Didaktika, bicara pada saya. Intinya ia menawarkan stan pameran untuk Transformasi. Sebab, katanya, sepertinya ada satu stan yang belum terisi. Saya segera setuju saja. Ia telah bertemu seksi perlengkapan, Temon, dan Ketua Pelaksana  yang juga Ketua Unit Kegiatan Olahraga Arul. Mereka setuju Stan yang kosong itu ditempati Transformasi.

Saya belum sempat bertemu kedua orang itu untuk konfirmasi hingga hari pelaksanaan. Beberapa kali saya ingin menemui mereka, tapi tak pernah bertemu. Ya sudah, saya teruskan saja niat itu. Epung pun sudah mendapat kepastian dari mereka bahwa Transformasi boleh mengisi stan kosong.

Satu hari sebelum hari pelaksanaan kami bersiap-siap. Sorenya membeli perlengkapan dekorasi, malamnya membuat kreasi. Saya, Arif, Long Beart, Yudhi, Ade dan Azis sibuk menyiapkan perlengkapan dekorasi. Tujuannya untuk promosi.

Sekitar jam 01.30 kami ke stan yang telah ditentukan. Saya terkejut. Tempatnya sangat strategis; di ujung tikungan dekat Teater Terbuka. Di antara stan lain, kembali saya tegaskan, stan ini sangat strategis. Tiba-tiba muncul kekhawatiran di hati saya. Pasti mereka, teman-teman UKM, iri. Sementara stan LPM Didaktika di ujung seberang stan Transformasi. Sungguh tidak strategis. Kami tidur jam 03.00.

Pagi tiba dan kami meneruskan menyiapkan perlengkapan dekorasi di sekretariat Transformasi. Jam 08.00 saya ditelepon agar ke stan oleh Azis. Di sana saya bertemu Arul, Ketua Pelaksana. Ia mengatakan bahwa teman-teman UKM tak menginginkan Transformasi mengisi stan bersama mereka. Transformsi bukan bagian dari UKM. Kalau mau menggelar stan, silakan di luar tenda. Sementara spanduk pembatas stan Transformasi telah dicopot dan diletakkan begitu saja di atas meja, digantikan UKM Koperasi Mahasiswa. Lambang Transformasi masih terlihat menggantung sebagaimana semalam dipasang.

Saya sangat terkejut. Walau Arul minta maaf, saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan saat itu. Saya kecewa. Tapi saya segera menyadari mungkin ini sudah semestinya terjadi. Epung, yang merasa tidak enak, menawarkan Transformasi bergabung saja ke stan Didaktika. Saya kembali ke sekretariat Transformasi menyampaikan kabar buruk itu.

Teman-teman awalnya protes, kenapa itu terjadi mendekati acara penyambutan jam 09.00. Apalagi dekorasi awal telah dilakukan. Saya berusaha menjelaskan kondisinya ke mereka.

Ade mengusulkan agar Transformasi tidak bergabung ke stan Didaktika sesuai penawaran Epung. Itu akan merugikan Didaktika sebagai lembaga yang sama-sama bergerak di bidang jurnalistik. Lebih-lebih Didaktika tak jauh beda dari Transformasi. Ia mengusulkan Transformasi membuka stan sendiri di depan sekretariat. Usulan itu diterima teman-teman.

Kembalilah saya, Arif, Yudhi dan Epung ke stan Transformasi untuk membereskan barang. Entah kenapa perasaan malu menyeruak. Di sana ternyata lambang Transformasi yang dibuat Yudhi dari triplek dan cat telah diturunkan.

Ya sudah, kami meneruskan rencana membuka stan. Kali ini di depan sekretariat sendiri. Terlintas di pikiran saya Transformasi tak usah meneruskan rencana sebagai bentuk protes kepada teman-teman UKM. Tapi segera saya entaskan pikiran itu. Berhenti berarti kalah. Semangat harus terus dikobarkan. Apalagi teman-teman masih bersemangat membuat kreasi yang hampir jadi.

Pamflet penerimaan anggota baru dibuat dan diperbanyak. Kertas bertuliskan “Nggak semua yang elo lihat bener” dan “Nggak semua yang elo denger bener” tergantung di tali yang menyilang di awang-awang. Sampul depan beberapa edisi Tabloid Transformasi dipajang di dinding dan pilar. Sejumlah tulisan seperti butir-butir sembilan elemen jurnalisme dan alur kerja redaksi ditempel di dinding. Susunan redaksi ditempel. Lambang Transformasi dari cat dan triplek digantung di awang-awang menuju masjid Alumni. Dari jauhpun kelihatan meriah walau kami kurang yakin mahasiswa baru akan berkunjung ke ‘stan’ tersebut. Tapi perlu dibanggakan bahwa ‘stan’ ini bertahan lebih lama ketimbang stan UKM. Kami buka sampai sore sementara mereka tutup sebelum salat Jumat.

Memang saya rasa ini sebuah terobosan. Tak pernah Transformasi membuat ‘stan’ pameran. Sebenarnya ini dilatarbelakangi oleh keinginan saya merekrut calon anggota baru Transformasi dalam skala besar. Saya ingin perekrutan ini diminati banyak mahasiswa. Tidak seperti perekrutan lalu yang hanya menarik minat 12 orang dari sekian ribu mahasiswa. Dengan banyak peserta, seleksi anggota bisa lebih ketat dan kualitas bersaing.

Malamnya saya dan Atep ke Sekretariat Dewan Kelurahan Pondok Bambu. Di sana telah berkumpul pengurus karang taruna dan Bagas. Agendanya memang membicarakan kelanjutan acara pelatihan jurnalistik yang seminggu sebelumnya telah diadakan. Kali ini membahas kembali personel yang telah diumumkan sebelumnya, juga penjelasan kerja tiap bagian oleh saya. Saya pikir malam itu akan dibahas tuntas soal rubrik, bentuk penerbitan, dan isi serta desain. Ternyata baru sampai visi dan penguatan personel. Tapi, yang saya rasakan, kemauan mereka menghadirkan media komunitas tetap tinggi.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 4 September 2004.