Sudah dibaca 625 kali

Kamis (16/9), saya, mewakili Transformasi, ikut demonstrasi ke gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di Jalan Hayam Wuruk. Aksi solidaritas mendukung perjuangan wartawan Tempo. Hari itu hakim membacakan vonis untuk Bambang Harymurti, Ahmad Taufik dan Teuku Iskandar Ali (Belakangan Ahmad Taufik dan Teuku Iskandar Ali divonis bebas, namun Bambang divonis 1 tahun penjara). Bersama beberapa teman Didaktika berangkat naik bus NE-2. Sebelumnya kami berorasi di depan pendopo jurusan Seni Rupa. Dalam rapat yang diadakan malam sebelumnya, saya ditugasi membuat pernyataan sikap. Begini saya menulis:

 

PERNYATAAN SIKAP

 Salam setengah merdeka!

Pers kembali diguncang eksistensinya! Pers kembali coba disingkirkan dari pengabdiannya dalam mengusung nilai-nilai demokrasi! Pers kembali dipasung kemampuannya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan!

Lihatlahlah bahwa penyingkiran pers dari panggung demokrasi sedang dirintis secara sistematis. Pers yang dinilai sebagai pilar keempat demokrasi kini digoyang lantaran menjalankan aktivitasnya. Dunia tahu dan menikmati kebebasan pers sebagai anjing penjaga bagi penguasa yang sewenang-wenang berlaku zalim. Dan dunia pun merasakan betapa pers telah menjadi ruang komunikasi budaya yang mempertahankan dan mengembangkan kreativitas nilai-nilai luhur masyarakat.

Tapi kenapa selalu saja ada sebagian orang yang tidak menyukainya. Pers selalu dicitrakan negatif dan dibatasi geraknya. Pers selalu ditekan hingga ke titik kritisnya hingga menjadi mandul dan tidak kritis. Padahal, melalui pers pula keutuhan masyarakat bisa terjaga dari tangan-tangan yang ingin merusaknya.

Mari kita bertanya dan bertanya, mengapa pers tidak membuat nyaman bagi sebagian orang. Mengapa pers pada akhirnya harus menghadapi belenggu hukum padahal ia berusaha menegakkan hukum tanpa diminta. Pers bukan lembaga kriminal yang menghasut dan menyuburkan kejahatan di tengah masyarakat. Justru sebaliknya pers berupaya mencegah tindak kriminalitas atas nama hukum, kekuatan dan kekuasaan.

Cobalah tengok nasib Majalah Tempo yang eksistensinya sedang dipertaruhkan! Bagaimana bisa sebuah berita yang telah memenuhi kaidah jurnalistik, bisa menyeret orang-orangnya ke penjara? Bagaimana bisa suatu usaha menegakkan kebenaran dinilai kriminal oleh sebagian orang dan harus dituruti hukum? Bagaimana pula hukum bisa menjawab tuduhan itu kalau hukum sendiri tidak mandiri penegakannya? Pers punya aturan sendiri, pers punya undang-undang sendiri. Gunakan itu! Jangan pakai undang-undang asing yang mudah dipermainkan!

Apa jadinya pers, yang salah satu aktivitasnya coba dilakukan Majalah Tempo, bila segala perannya dibelenggu hukum? Jangan gunakan hukum untuk memasung kebebasan pers! Jangan gunakan sentimen-sentimen pribadi yang justru akan meruntuhkan nilai-nilai demokrasi!

Dengan sepenuh hati kami mendukung perjuangan Majalah Tempo terhadap tuduhan hukum yang tak berdasar. Meski kita semua tahu perjuangan itu sangat sulit dan melelahkan. Hidup kebebasan pers yang bertanggung jawab! Hidup kebebasan pers pengusung nilai-nilai demokrasi!

 

LPM DIDAKTIKA UNJ                                                                                      TRANSFORMASI UNJ           
Aksi berjalan lancar-lancar saja. Dukungan kepada Tempo datang dari banyak elemen masyarakat, walau ada saja orang-orang yang melakukan aksi mendukung Tomi Winata.

Jumat, seperti biasa saya sibuk mengedit tulisan.

Sabtu, hari ini, adalah hari bergembira bagi tiga teman Transformasi: Rahmat Maulid, Euis Azizah dan Raviandini. Mereka diwisuda. Sebenarnya Ade Irawan juga, tapi ia tidak ikut wisuda. Kecuali Ade, tiga orang itu belum punya pekerjaan tetap. Pengangguran intelektual, he..he…

 

Sabtu, 18 September 2004