Sudah dibaca 474 kali

Ada suasana kebersamaan di malam tahun baru itu; bakar ayam dan bakar jagung. Tapi, sesungguhnya, semua tidak dilakukan dalam rangka hura-hura atau senang-senang. Itu berjalan dalam suasana prihatin akan saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera Utara yang pada 26 Desember lalu tertimpa bencana gempa tektonik dan tsunami. Saya hanya ingin ada suasana kebersamaan antara pengurus Transformasi, anggota baru, teman-teman Didaktika dan alumni.

Siang hari di tanggal 31 Desember itu kami pergi ke Palang Merah Indonesia provinsi DKI Jakarta di Jalan Kramat Raya 47, menyalurkan bantuan untuk Aceh. Memang, sejak Senin (27/12) kami, teman-teman Transformasi dan teman-teman jurusan Seni Musik, merencakan penggalangan bantuan untuk korban tsunami. Ide awalnya dari teman-teman Seni. Penggalangan dana mulai hari Selasa (27/12) dan berakhir Jumat itu. Sekretariat Transformasi dipakai sebagai posko. Lumayan, uang terkumpul sekitar Rp 13.344.000 dan beberapa karung pakaian, 3 kardus makanan, air mineral dan pembalut masing-masing 1 kardus. Para relawan terlihat cukup antusias mencari dana lewat “ngecrek” di sudut-sudut kampus, perempatan jalan by pass dan minta ke dosen. Sumbangan pakaian juga terus berdatangan tiap hari. Acara ditutup dengan pentas seni yang cukup meriah di Teater Terbuka yang juga untuk menggalang dana.

Penggalangan dana dicukupkan sampai Jumat itu. Beberapa teman sebenarnya mendesak agar penggalangan bantuan itu diteruskan. Tapi, dengan tegas saya menolaknya. Sebab, saya tak mau ambil risiko dengan penerbitan Tabloid Transformasi. Saya kira penerbitan akan tambah molor bila kegiatan itu diteruskan.

Kerjasama penggalangan bantuan itu saya pikir sangat strategis. Pertama, poskonya di sekretariat Transformasi. Otomatis, pusat kegiatan di sana. Sekretariat Transformasi menjadi tempat kegiatan sosial kemanusiaan yang melibatkan banyak mahasiswa UNJ. Kedua, citra baik Transformasi di kalangan mahasiswa UNJ dan birokrat. Tidak tanggung-tanggung, permintaan sumbangan juga dialamatkan ke para Pembantu Rektor dan Rektor—meskipun tak satupun dari mereka yang memberi karena mereka sudah menggalang bantuan sendiri. Ketiga, Transformasi tak sekadar memainkan peran sebagai kontrol lewat penerbitan, lebih jauh lagi, telah menjadi bagian dari kegiatan publik (mahasiswa UNJ). Inilah, saya rasa, sebaik-baik pers mahasiswa.

Kembali ke soal kegiatan Transformasi, saya telah merencanakan target yang harus dicapai selama bulan Januari. Di antaranya penerbitan Tabloid, acara diskusi yang sejak November tidak dilaksanakan, rekrutmen teman-teman Didaktika dan pelantikan anggota baru. Untuk lebih jelasnya, pada beberapa tulisan mendatang akan saya jelaskan.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. Rabu, 5 Januari 2005