Sudah dibaca 576 kali

Kami sama-sama memegang piring, menciduk nasi, dan menyiram soto ke atasnya saat diskusi singkat ini dimulai. Dan saya tak pernah membayangkan sebelumnya akan melakukan hal itu ketika pada beberapa tahun lalu, saat kuliah, tiap menyimak tulisan-tulisan mengggugahnya di sebuah majalah, saya mengharapkan bertemu dan berbincang dengannya demikian akrab.

“Saya  mengagumi tulisan-tulisan Ustad, terutama di Majalah Tarbawi. Terasa sekali ruhnya. Bagaimana bisa menulis seperti itu?” ujar saya yang antre di belakangnya.

“Saya banyak menulis di jalan. Saya menulis dengan hati, bukan berdasar tahu,” jawabnya. Saya berpikir yang dimaksud dengan ‘jalan’ yaitu saat ia berada dalam kendaraan menuju tempat kerja.

“Jadi Ustad tidak menulis sesuatu di luar diri?”

“Iya. Saya selalu menginternalisasi masalah sebelum membuat tulisan. Menulis sesuatu yang dirasakan.”

Diskusi singkat selesai usai ia ambil makanan prasmanan itu. Walau sebentar rasanya puas saya.

Lelaki kharismatis itu M. Anis Matta, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Ia menggelar buka puasa bersama para penulis Forum Lingkar Pena (FLP) pada Selasa 31 Agustus 2010. Acara berlangsung di Gedung Nusantara 3 lantai 4 kompleks Gedung DPR.

Dalam sambutannya, Anis Matta mengatakan FLP telah melakukan kegiatan yang sejalan dengan apa yang diperjuangkan partainya; memberikan pencerahan dan sesuatu yang baik di masyarakat. Ia melihat karya-karya FLP yang kebanyakan bernapas Islam memenuhi rak-rak toko buku. Katanya, 60% jumlah buku yang dijual di toko buku Gramedia bernapaskan Islam.

Anis Matta berkisah tentang Genghis Khan, Raja Mongol yang sangat bengis melakukan penaklukan ke berbagai negeri. Ia menghancurkan peradaban sebuah bangsa dengan membakar koleksi buku perpustakaannya. Bagdad, yang pernah menjadi sumber utama ilmu pengertahuan dan tempat berkumpulnya para ilmuwan, dibuatnya banjir tinta. Karya-karya cendekiawan ratusan tahun ludes dijilat api.

“Di abad modern ini, jika seluruh wilayah yang pernah ditaklukkan Genghis Khan disatukan, jumlahnya sekitar 20% dari total luas bumi,” ungkap Anis Matta. “Itu bukan jumlah yang sedikit.”

Kekuasaan Genghis Khan diteruskan anaknya namun berbeda orientasi saat dipegang oleh cucunya. “Mengapa teori sejarah yang dibangun Ibnu Batuta dalam Mukaddimah-nya tidak berlaku pada Genghis Khan?” Anis Matta bertanya. “Sebab Mongolia tidak punya narasi.”

Berbeda dengan kakeknya, cucu Genghis Khan membangun peradaban yang telah dihancurkan. Ia juga menyebarkan ajaran Islam di wilayah yang dikuasainya, termasuk mendirikan Kerajaan Moghul di India yang membangun istana Taj Mahal.

Kelemahan tidak punya narasi itulah yang juga dialami negara-negara Islam, termasuk Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Ia bertanya-tanya, sepuluh tahun ke depan bangsa ini menjadi apa setelah dibentuk dengan biaya pendidikan yang memakan dana ribuan triliun. Tiap tahun, sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah harus mengalokasikan dana minimal 20% untuk sektor pendidikan.

Narasi berkaitan dengan kelanjutan sebuah visi. Di tengah kondisi negeri ini yang makin terpuruk, narasi apa yang sedang dibentuk? Atau memang para pemimpin bangsa tidak punya narasi?

Usai shalat maghrib, sembari menikmati hidangan, digelar tanya-jawab. Ada tiga orang yang diberi kesempatan bertanya. Saya penanya pertama.

Saya menanyakan dua hal. Pertama, apakah DPR bisa mendorong regulasi (peraturan) yang memungkinkan harga kertas murah sehingga harga buku ikut murah dan pada gilirannya berimbas pada industri perbukuan yang baik. Kedua, dapatkah DPR membuat regulasi yang memungkinkan profesi penulis bisa sebagai bahan pertimbangan siswa naik ke jenjang pendidikan berikutnya tanpa melalui tes. Sebab kini hanya siswa berprestasi skala nasional dan internasional di bidang sains dan olahraga yang dapat menikmati previlese itu. Siswa yang sudah menerbitkan buku atau prestasi di bidang kepenulisan hanya bisa gigit jari.

Tak dinyana, Anis Matta memberikan jawaban konkret. “Saya akan menulis surat langsung ke Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Keuangan agar pajak buku dihilangkan,” ujarnya berulang kali.

Anis Matta melihat harga buku yang dibanderol di toko-toko buku tergolong mahal. Bagaimana bisa dengan harga tersebut dijangkau masyarakat miskin?

Kegembiraan tak berhenti sampai di situ. Anis Matta membagikan tiap hadirin sebuah buku berjudul ‘Dari Puncak Bagdad; Sejarah Dunia Versi Islam’ karya Tamim Ansary, sejarawan muslim dunia. Buku ini mengupas sejarah Islam dari sudut pandang Islam, bukan sudut pandang Barat yang selama ini mendominasi buku-buku sejarah tentang Islam.

Acara berakhir. Sebelum pulang, dilakukan tukar cinderamata antara Anis Matta dan FLP. FLP diwakili oleh Rahmadiyanti Rusdi, pengurus FLP Pusat. Kemudian digelar sesi foto bersama. Sejumlah hadirin juga meminta Anis Matta membubuhi tanda tangan pada buku yang diberikannya.

Silaturahmi dengan penulis merupakan bentuk perhatian anggota dewan kepada ‘narator’ negeri ini. Penulislah yang membuat dan mentransformasikan narasi, baik fiksi maupun nonfiksi, ke dalam otak anak-anak negeri. Penulislah yang, sejak dulu, menggores sejarah peradaban dunia dan menampilkan sisi baik dan buruk sebuah peradaban. Jalinan yang harmonis antara wakil rakyat dan penulis diharapkan memberi sinergitas bagi pewujudan narasi di negeri ini.

2 September 2010. 12.05