Sudah dibaca 572 kali

Assalamu ‘alaikum. Wr.Wb.
Izinkan saya bicara tentang Teater Senyawa yang sepertinya akhir-akhir ini sedang mengalami guncangan.
Pada dasarnya adalah memberi ruang yang seluas-luasnya bagi anggota FLP DKI untuk berkarya dan berkreasi. Itulah semangat yang saya tunjukkan ketika memotivasi Lily untuk merealisasikan gagasannya saat bicara di TIM dua tahun lampau, yaitu mendirikan kelompok teater bagi teman-teman yang berminat pada dunia teater. Alhamdulillah antusiasme teman-teman itu terwujud dengan pentas teater perdana saat Inaugurasi Pramuda angkatan 10 di Taman Wiladatika, Cibubur. Kemudian berlanjut pada rapat kerja dan pembentukan pengurus.
Pementasan teater yang mengatasnamakan Senyawa terjadi beberapa kali setelah pentas di Taman Wiladatika, yaitu di Perpustakaan Depdiknas pada Desember 2007 dan World Book Day di Museum Bank Mandiri.
Sebagai Ketua saya wajib memberikan arahan secara organisasi di mana posisi Teater Senyawa. Saya memosisikan Teater Senyawa sebagai “organ ekstra kurikuler” kegiatan FLP DKI di bawah koordinasi Subdivisi Muda/Madya. Maksud ekskul, seperti sekolah pada umumnya, merupakan kegiatan peminatan dari teman2 anggota FLP DKI yang selain belajar menulis juga ingin belajar berteater. Keanggotannya berasal dari anggota FLP DKI, bukan orang di luar FLP DKI.

Status Teater Senyawa semi otonom. Mereka dipersilakan membuat struktur kepengurusan sendiri tanpa intervensi dari Ketua FLP DKI atau Koordinator Subdivisi Muda/Madya. Tema-tema yang diusung oleh teater dalam tiap pementasannya haruslah sesuai dengan visi-misi FLP DKI. Napasnya islami. Diharapkan cerita yang dipentaskan berasal dari karya tulis (drama/cerpen/novel) anggota FLP DKI, atau kalau diperluas anggota FLP. Tapi tidak menutup kemungkinan cerita lain yang berasal dari orang-orang di luar FLP DKI yang penting sesuai dengan visi-misi FLP.
Tak terbetik dalam pikiran saya bahwa Senyawa hanyalah organ yang bersifat ad hoc/bila dibutuhkan. Saya persilakan Senyawa terus berkarya dan memperluas jaringan.
Itulah ketentuan-ketentuan dasar yang saya berlakukan bagi Teaater Senyawa.

Kemudian permasalahan muncul, yaitu minimnya keanggotaan Teater Senyawa. Saat awal rekrutmen anggotanya banyak, kebanyakan pengurus. Saat ada proyek pementasan, banyak sekali yang tidak ikut latihan dan akhirnya menyisakan segelintir orang. Kekecewaan mulai muncul.

Kekecewaan berikutnya adalah ketika beberapa pengurus Senyawa saya tarik karena saya tidak menginginkan rangkap jabatan internal di tubuh kepengurusan FLP DKI, khawatir mengganggu kinerja FLP DKI. Langkah ini saya ambil tanpa maksud “melumpuhkan” apalagi membiarkan Senyawa. Tidak! Saya mengambil langkah ini lantaran kegiatan FLP DKI sangat banyak. Saya sudah mengatur siapa saja orang-orang yang diharapkan berkontribusi di Senyawa sehingga tidak saya masukkan ke dalam jajaran kepengurusan FLP DKI, seperti Furqon, Rina, Prihatini, dan Fiyan Arjun. Lily yang ditunjuk oleh anggota Senyawa sebagai Ketua/Koordinator saya undang dalam rapat-rapat evaluasi triwulan untuk menyuarakan aspirasi/kegiatan Senyawa.
Saya juga kemudian mengamati bagaimana teman-teman Senyawa menghidupkan organisasi Senyawa, terutama yang duduk dalam kepengurusan inti. Saya tidak melihat soliditas. Puncaknya saat pementasan di WBD yang hampir gagal. Penyebabnya, konflik antaranggota Senyawa tak tertahankan dan muncul ke permukaan, yaitu antara Furkon dan Lily.

Furkon minta Lily diganti karena selama beberapa bulan tidak memberi perhatian pada Senyawa. Penggantinya adalah orang yang masih memberi perhatian lebih pada Senyawa yaitu dirinya. Lily tidak setuju dan tidak merasa melakukan demikian. Pertunjukan Senyawa di WBD yang sedianya akan dipentaskan Furkon, Fiyan, dan Yani gagal. Untuk menyelamatkan wajah Senyawa karena sudah dijadwalkan pentas oleh panitia WBD, Lily, masih dalam masa penyembuhan, memaksakan diri tampil secara solo—suatu prestasi yang mesti diapresiasi baik.

Saya mengambil posisi, saat itu, sebagai orang yang mendamaikan. Saya tidak menginginkan Senyawa pecah dan akhirnya bubar lantaran konflik antaranggotanya. Saya memberi ruang pada Senyawa, waktu itu, untuk membuktikan eksistensinya, bahwa pada akhirnya konflik akan menyadarkan orang-orang untuk bersatu jika menghadapi masalah bersama. Kendati ragu dengan rencana Lily (masih masa penyembuhan tapi mau pentas tanpa kejelasan apakah teman2 lain mau bantu), saya menjemputnya dari rumah kosannya di kawasan Kampung Bali dan mengantarkannya ke kawasan Kota. Pentas berjalan sukses, dibantu dua anggota FLP Bekasi yang tampil sebagai figuran di pentas dan beberapa anggota FLP DKI di belakang panggung.

Saat pementasan saya sempat melihat Furkon lalu berdiri di sampingnya. Usai pentas saya mengajaknya untuk memberi selamat pada Lily dan berharap kemudian mereka berdamai. Kemudian, pada pertemuan2 selanjutnya, saya minta Lily untuk menunjukkan dirinya sebagai seorang Ketua yang bijak, menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Saya yang masih berusaha agar tidak tampak jelas melakukan intervensi hanya memberinya masukan dan nasihat.

Alhamdulillah saya tak lagi mendengar perselisihan di antara mereka. Hanya saja Senyawa tak tampak kegiatannya.

Saya agak kecewa ketika Lily berulang kali menyampaikan keinginannya agar Senyawa tidak berada di bawah naungan Subdivisi Muda/Madya dan akhirnya keluar dari FLP DKI. Telah berulangkali saya tegaskan padanya bahwa tidak mungkin mengabulkan keinginannya. Bagaimanapun Senyawa milik organisasi FLP DKI, bukan perorangan di dalam internal Senyawa. Jika ada masalah berkenaan dengan struktur keorganisasian dan kepengurusan, itu bisa dibicarakan dengan lapang dada dan prasangka baik.

Namun, saya sangat yakin, persoalan utama Senyawa tidak berkaitan dengan keorganisasian yang berkaitan dengan FLP DKI. Persoalan utamanya adalah pada internal Senyawa sendiri. Jika masih ingin terus eksis, solidkan dan berdayakan pengurus inti serta jauhkan pemikiran bahwa keberadaan di bawah naungan FLP DKI sebagai sebuah kesalahan. Sebab, jika ingin membentuk grup teater baru di luar FLP DKI, kenapa tidak langsung dibentuk saja. Tidakkah itu bisa dilakukan asal ada personel yang mendukung dan tak perlu menunggu orang-orang yang nota bene masih berkhidmat pada kepengurusan FLP DKI untuk bergabung? Biarpun nama Senyawa dibiarkan FLP DKI untuk dibawa pergi, apakah ada keyakinan sebuah nama dapat membawa keberuntungan?

Saran saya pada Lily, juga anggota Senyawa lain yang masih menginginkan Senyawa berkembang, berpikirlah lebih bijak. Saya masih berpikir sebaiknya Senyawa tetap hadir di bawah naungan FLP DKI. Memang sulit sekali mempertahankan organisasi yang sudah didirikan, namun tindakan2 yang tidak perlu akan mempercepat runtuhnya organisasi ini. Ajaklah kerjasama pengurus lain, terutama Ketua Mas Taufan, untuk memikirkan Senyawa. Terimalah dengan lapang dada apapun hasil keputusan diskusi.

Saya masih bermimpi, sebagaimana saya pernah sampaikan pada beberapa rapat, bahwa FLP DKI memiliki kelompok teater, kelompok musikalilasi puisi, dan tim nasyid. Bahkan ke depan memiliki production house yang memproduksi film-film islami. Janganlah terus berpikir FLP akan terus berdakwah dengan pena lewat media cetak (cerpen dan novel). Penetrasi dakwah oleh FLP harus lebih luas dan dipikirkan mulai sekarang. Dan suatu saat, saya sangat berharap, FLP akan memasuki aspek baru yang bangkit dari tradisi menulis dan membaca yang telah lama dijalani, yaitu FLP BERGELUT DALAM ASPEK SENI DAN BUDAYA. FLP mengusung budaya islami sebagai tandingan budaya mainstream sekuler yang kini sedang menghegemoni negeri kita. Menjadi kutub yang tidak lagi dipandang sebelah mata oleh aktivis budaya dan seni dari Utan Kayu dan Taman Ismail Marzuki.

Konsentrasi pada revitalisasi kepenulisan tidak berarti menutup ruang lain dalam berkreasi. Sebab, akhir-akhir ini tampak jelas bahwa aktivis FLP di tingkat cabang dan wilayah mulai melebarkan sayap dakwah dengan berkecimpung di dunia yang tak sekadar menelurkan karya tulis cerpen dan novel serta produk buku lainnya. Ada Komunitas Puisi FLP yang bergerak di bidang puisi. Ada Bengkel Sastra Pamulang yang melahirkan naskah-naskah skenario dan hendak beranjak menjadi production house. Ada FLP Bandung yang punya kelompok musikalisasi puisi Kapak Ibrahim, juga merintis pembuatan film layar lebar untuk konsumsi publik. Ada FLP Solo yang merintis pembuatan film-film pendek untuk festival.

Memang sepertinya mimpi-mimpi itu sulit dijangkau. Namun jika yang bermimpi demikian jumlahnya sangat banyak, lalu bekerjasama bahu-membahu, tak menutup kemungkinan akan tercapai dengan mudah. Kuncinya adalah tekad berdakwah di bidang seni dan budaya serta kebanggan pada FLP sebagai alat untuk menegakkan syariat. Utamanya tentu saja, ridha Allah SWT.

Demikian saran dan masukan saya pada teman-teman Pengurus FLP DKI dan Senyawa. Semoga bisa dijadikan pertimbangan.

Wassalamu ‘alaikum. Wr.Wb.

 

11 Maret 2009. 13.25