Sudah dibaca 508 kali

‘Sukses’ adalah sebuah proses yang terus menerus. Ia sebuah kondisi di mana usaha yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh mengalami pencapaian terbaik dan tak terbatas. Berbeda dengan ‘berhasil’ yang berada pada kondisi tetap/ajek.

Menurut Abdullah Gymnastiar, dai kondang dan pengusaha sukses, orang dapat dikatakan sukses jika orang-orang di sekitarnya ikut sukses. Jadi sukses tak semata mengubah kondisi diri sendiri menjadi lebih baik. Ia melibatkan orang-orang di sekitarnya untuk melakukan perubahan secara bersama-sama. Predikat sukses pun merupakan pemberian orang lain, bukan penjulukan bagi diri sendiri.

Pada kondisi inilah saya menganggap diri saya belum sukses, baik dalam berorganisasi, bekerja, maupun berkarya. Sebab upaya saya dalam ‘berjihad’ pada ketiga area itu semata untuk pengembangan diri, bukan meraih predikat sukses. Bahkan saya tidak peduli apakah saya dapat dikatakan sudah sukses atau belum.

Saya hanya ingin berubah dan melakukan perubahan di manapun saya berada. Itu saja. Tentu saja perubahan yang lebih baik, apakah pada diri sendiri maupun lingkungan. Saya berorganisasi karena ingin belajar dan menjadi seorang organisator yang baik, melakukan perubahan dalam ruang yang dicakup organisasi itu. Saya bekerja karena berharap dapat memenuhi kehidupan yang layak dan melakukan yang terbaik dalam lingkup pekerjaan itu. Dan saya berkarya untuk menyalurkan hobi dan keinginan mengubah diri serta masyarakat.

Sukses itu dinamis, bergerak, melakukan perubahan terus-menerus. Orang dapat dikatakan sukses jika ia melakukan perubahan, bukan mendapatkan sesuatu. Orang sukses adalah agen perubahan.

Banyak buku membahas cara dan kriteria orang sukses. Tulisan ini sekadar bagi pengalaman saya terhadap upaya menggapai kesuksesan.

Pertama, tetapkan tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang. Banyak orang tidak sukses alias gagal lantaran malas, takut, dan menganggap sepele pencapaian yang hendak dituju. Argumennya: ikuti saja seperti air mengalir. Orang sukses berani menetapkan tujuan hidupnya. Orang gagal takut mengakui bahwa dirinya tak punya tujuan hidup.

Pada usia 20 tahun saya menetapkan cita-cita hidup: jadi penulis dan ilmuwan. Tak mudah menetapkan cita-cita. Saya membaca buku tentang motivasi dan cita-cita, bertanya pada teman-teman, dan melakukan perenungan. Uniknya, saat bertanya pada banyak teman, saya menemukan bahwa banyak sekali yang tidak punya cita-cita! Anehnya, mereka merasa nyaman dengan kondisi itu.

Lalu saya menetapkan target: lima tahun ke depan saya harus menerbitkan buku minimal satu. Bekerja di bidang yang berkaitan dengan kepenulisan.

Kedua, fokus terhadap cita-cita dan target. Arahkan semua kegiatan pada upaya pencapaian cita-cita. Semasa kuliah, saya memantapkan diri bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika UNJ (1999-2003). Banyak menulis di newsletter, buletin, dan majalah yang diterbitkan organisasi ini. Lalu bergabung di Tabloid Transformasi sampai lulus kuliah (2003-2006).

Karena ingin menguasai berbagai bentuk penulisan, saya bergabung dengan organisasi pengkaderan penulis Forum Lingkar Pena DKI Jakarta pada pertengahan 2002. Di kampus saya belajar menulis non-fiksi (jurnalistik, opini, dll). Di FLP saya belajar menulis cerpen, novel, puisi, skenario. Untuk menyalurkan semangat menulis yang menggebu, saya juga membuat buletin dinding di tingkat Jurusan Teknik Elektro (2000) dan merintis buletin Fakultas Teknik (2001).

Ketiga, istiqamah atau konsisten terhadap jalur yang ditempuh untuk menggapai cita-cita. Alhamdulillah, hingga kini saya bisa konsisten bergerak di bidang penulisan. Hobi saya masih menulis. Selulus kuliah saya bekerja dan mencari nafkah dari pekerjaan menulis.

Keempat, niatkan segala yang kita lakukan untuk kebaikan. Niat ini berdampak besar pada pembentukan pribadi dan kekuatan untuk melakukan perubahan. Sebab niat ini akan memunculkan sifat jujur, sabar, pantang menyerah, rela berkorban, dan ikhlas. Dalam bahasa agama, segala perbuatan diniatkan untuk mengharap ridha Tuhan, Allah SWT. Bukan untuk mengejar pujian, popularitas, dan kekuasaan.

Menjadi orang sukses adalah menjadi perubah. Mengubah tatanan tidak baik menjadi baik, kurang sempurna menjadi sempurna. Dan, keluaran (output) orang sukses adalah orang baik. Konglomerat dari hasil korupsi, menipu, dan memeras bukan orang sukses, sebab dia kaya dengan cara tak baik. Sementara guru yang hidup pas-pasan dan mendapatkan nafkah dengan jujur dan tidak korupsi adalah orang sukses, sebab dia telah menjadi orang baik.

Semoga kita semua sedang menuju kesuksesan. Selalu introspeksi diri apakah upaya yang kita lakukan dengan cara-cara baik. Lalu lihatlah, kita bagian dari agen perubahan.

* Makalah pengantar ‘Diskusi Terbang’ yang diadakan oleh Serrum, Kamis, 26 November 2009.

 

22 November 2009. 21.11