Sudah dibaca 563 kali

Mencari lokasi wisata yang nyaman, yang sama-sama diminati, ternyata tak mudah. Apalagi jika harus ditempuh dengan sepeda motor. Malam sebelum berangkat, Winy, istri tercinta, mencari-cari tempat wisata dari sebuah buku panduan jalan-jalan seputar Jakarta, Tangerang, dan Bogor. Nihil, kami merasa tak pas dengan lokasi wisata yang ditawarkan buku itu.

Tiba-tiba saya teringat dengan sebuah tempat wisata di kawasan Ciseeng, Pamulang, Bogor, Jawa Barat: Tirta Sanita. Dulu saya pernah ke tempat ini saat menghadiri acara organisasi. Waktu itu saya dan teman-teman mendaki bukit kapur dan naik flying fox.

Aktivitas itu ingin kembali saya nikmati bersama istri. Alhamdulillah, ia setuju. Apalagi saat melihat peta, saya yakin tempat itu mudah ditempuh dengan sepeda motor.

Sabtu pagi, 23 April, kami berangkat dari kawasan Kunciran, Kota Tangerang. Tidak pagi-pagi amat sih, jalan pukul 09.00 WIB. Saya memacu motor melewati kompleks perumahan Graha Raya, Bintaro, dan keluar di Pasar Ciputat.

Dari Pasar Ciputat terus melaju ke arah Sawangan. Membelok ke kanan di pertigaan  Pasar Jalan H. Mawi. Kendati hari libur, sepanjang jalan, kondisi jalan cukup ramai.

Menyusuri pasar di Jalan H. Mawi, suasananya begitu macet. Tak beda dengan kondisi pasar di kawasan perkotaan, mobil-mobil angkutan umum berhenti seenaknya di pingggir jalan—namun tak separah kondisi Pasar Ciputat di mana kendaraan angkutan umum berhenti di tengah jalan menghalangi pengendara lain. Angkot ngetem biang kemacetan di pasar.

Kondisi ini diperparah dengan hancurnya jalanan setelah pasar: seperti baru kejatuhan bom. Kubangan jalan bertebaran di mana-mana, dipenuhi genangan air coklat keruh. Batu-batu koral hitam berserakan mengisi kubangan, buat khawatir ban motor menjejak batu yang tajam: repot kalau tiba-tiba ban bocor.

Perjalanan masih jauh dan berliku. Juga hancur-hancuran. Sepertinya Pemerintah Daerah Bogor tak cerdas mengelola lokasi wisata Tirta Sanita Ciseeng. Mestinya jalan menuju lokasi wisata diperbaiki sehingga para pelancong merasa nyaman berkendara. Jika jalan hancur, mereka akan kapok datang lagi ke Tirta Sanita. Pendapatan daerah akan menurun.

Melewati perempatan jalan, kami membelok ke kanan. Mengikuti petunjuk plang yang tertancap di perempatan. Wuih, ternyata masih panjang perjalanan. Jalanan ini tak masuk dalam peta elektronik yang saya lihat. Selain harus berhati-hati dengan kondisi jalan yang tak mulus, kami juga mesti waspada karena truk-truk besar berseliweran.

Saya merasa perjalanan terasa lama. Hingga tibalah di satu jalan lurus dengan ilalang tinggi di pinggir-pinggirnya dan kompleks perumahan di kejauhan. Ups, saya ingat dulu tengah malam pernah melewati jalan ini saat menjemput Mas Boim Lebon untuk mengisi acara di Tirta Sanita. Artinya, saya yakin, saya telah melewati Tirta Sanita.

Untuk memastikan bahwa kami sedang tersasar, saya bertanya pada Pak Tua pedagang kaki lima di pinggir jalan. Yups, dia menambah keyakinan itu.

Kami berbalik. Kami merasa tak melihat plang Tirta Sanita. Saat tiba di pom bensin, kami pun belum melihat plangnya sebab Pak Tua bilang lokasinya sebelum pom bensin. Bertanya lagi kami pada pedagang pinggir jalan. Keterangannya menuntun kami ke lokasi wisata. Hm, ternyata…

Sebelum masuk jauh, usai membelok, kami dihadang seorang pemuda. Ia menyodorkan karcis sumbangan. Saya mengeluarkan uang Rp 2.000 karena nilai itulah yang tertera dalam tanda terima sumbangan. Saya menerima secarik kertas sumbangan dengan teks biru bernomor 00231 (teks merah) Bantuan Partisipasi Sosial Desa Cogreg, Kec. Parung, Kab. Bogor berdasarkan Perda kab. Bogor No. 6 tahun 2005. Jalanan dari sini hingga lokasi juga sama rusaknya.

Akhirnya perjalanan panjang usai. Setelah dikurangi jarak tempuh kesasar, jarak Kunciran-Cogreg sekitar 40 kilometer. Suasana parkir ramai, penuh bus dan sepeda motor.

Tiket masuk relatif murah; Rp 8.000/orang. Tiket berwarna putih-merah, tertulis: “Tiket Masuk Taman Wisata air Panas Tirta sanita”. Di bawahnya tertera PT. Supra Piranti Wisata Ria. Barangkali pengelola Tirta Sanita. Di sisi kiri tertulis: “Tiket yang anda bayar sudah termasuk asuransi kecelakaan diri di lingkungan Taman Wisata Tirta Sanita dengan No. Polis JRP. 0093.001/Reg.06.07.001”.

Letih terasa terbayar saat kami melihat suasana Tirta Sanita. Ramai. Sejumlah keluarga menggelar tikar dekat pohon sembari makan siang. Kami berjalan ke tengah dan berhenti dekat lokasi permainan flying fox.

Pada kunjungan pertama ke tepmat ini, saya main flying fox. Melihat arenanya yang menegangkan plus menyenangkan, biya Rp 25.000 saya rasa terbilang murah.

Sebelum beraksi, kita dipasangkan perlengkapan pengaman oleh instruktur. Kemudian kita naik menara. Instruktur memasangkan tali pengaman. Satu per satu peserta melewati jalan tali menuju ke menara berikutnya.

Oh ya, ada lima menara yang mesti kita tuju. Menara pertama ke menara kedua dihubungkan seutas tali. Berjalan di atas tali tanpa alas alias nyeker, dijamin telapak kaki kita perih.

Menara kedua dan ketiga dihubungkan oleh jembatan tali. Dua tali terentang dan di antara dua tali terikat kayu sebagai pijakan. Menara ketiga dan keempat berupa medan tali naik-turun. Pertama, kita menuruni rangkaian tali, lalu menaiki rangkaian tali lagi menuju menara keempat. Dari menara keempat inilah kita meluncur ke menara terakhir.

Di sinilah adrenalin kita terpacu. Kita melayang dengan tali dengan panjang sekitar 100 meter di atas kolam ikan yang luas.

 

30 April 2011.