Sudah dibaca 495 kali

Sembari berdiri, Cepi meremas-remas kuncup bulu jenggotnya yang sedikit. Matanya menatap plafon penjara. “ZUH, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Bangka Belitung, memukul seorang pramugari maskapai penerbangan Sriwijaya Air. Dia marah karena diperingati agar mematikan telepon selulernya saat di atas pesawat.” Cepi geleng-geleng kepala. “Seperti ABG saja.”

Memet nyengir. “ABG? Atas bawah gede?”

“Perilakunya itu loh yang kayak ABG!” Tak disangka, ucapan enteng Memet disahuti serius oleh Cepi. Memet merengut. “Dinasihati sesuatu yang benar saja marah. Saya sangat yakin, ZUH tahu peraturan tentang larangan menghidupkan ponsel di atas pesawat. Melanggarnya dapat mengganggu sistem navigasi pesawat. Akibatnya, bisa terjadi kecelakaan. Mengancam nyawa banyak penumpang. Tapi dia, dengan segala kepintaran otaknya yang telah disekolahkan di bangku kuliah, memutuskan untuk melanggar aturan itu. Memilih untuk tidak peduli pada keselamatan orang lain. Dan dengan penuh kesadaran memukul pramugari itu walau pakai koran.”

“Menurutmu,” Memet agak serius, “orang macam begini harus diapakan?”

“Dia sangat tidak pantas jadi pemimpin sebuah lembaga. Emosinya masih labil. Tak bisa mengendalikan emosi saat menghadapi masalah. Apa jadinya sebuah lembaga jika dipimpin oleh seseorang yang gampang marah? Apalagi dia merasa jadi raja di sana. Minta dilayani dan merasa berkuasa. Dia juga sok pamer otot kepada pramugari yang notabene perempuan. Anak buahnya pasti tak menyukainya. Lembaga yang dipimpinnya lambat laun rusak dan hancur.”

“Aku setuju dengan analisis psikologismu, Cep. Tapi, bukankah perilaku ZUH merupakan representasi masyarakat Indonesia?” Memet menghela napas berat. Ia ingat, tiap naik pesawat, ada saja penumpang, terutama orang Indonesia, yang masih bertelepon ria beberapa menit sebelum pesawat tinggal landas. Atau menyalakan ponsel sesaat pesawat mendarat lalu sibuk bertelepon ria dengan orang lain.”

“Ya, ya, ya, mungkin mereka merasa lebih keren jika dilihat penumpang lain sedang menelepon. Tapi, itu tidak bisa jadi alasan untuk membahayakan keselamatan orang lain.” Kegeraman mewarnai nada bicara Cepi.

This is Indonesia, Babe!” Memet bangkit dan menepuk punggung Cepi. “Di negeri ini, peraturan dibuat untuk dilanggar. Sebab, kadang, peraturan sengaja dibuat untuk menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain…”

“Tapi tidak dengan aturan pelarangan penggunaan ponsel di atas pesawat ya!” Cepi buru-buru menyela.

“Oh ya, tentu saja. Kupikir, ZUH ini orang bodoh. Ia tidak mampu berpikir jauh ke depan. Ia tahu salah telah menghidupkan ponsel, namun ia memutuskan untuk tidak minta maaf dan malah memukul pramugari. Penumpang lain pasti akan membela pramugari, bukan sebaliknya bersimpati kepadanya. Jika ia sedikit cerdas, ia cukup memendam emosinya dalam hati dan memboikot pesawat itu pada penerbangan selanjutnya.”

“Itulah kenapa dia tidak cocok jadi Kepala BKPMD. Bisa-bisa, penanam modal tak berani berinvestasi di Babel karena dipimpin oleh orang yang tidak cerdas dan bijaksana.” Pada titik ini, ucapan Cepi terdengar bijaksana.

“Tapi aku tertarik dengan keputusan ZUH menggunakan cara kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. Bukankah ini problem masyarakat kita?”

“Menyelesaikan persoalan dengan kekerasan?”

Memet mengangguk cepat. “Betul. Masyarakat kita sekarang, tersinggung sedikit marah. Merasa haknya dilanggar, fasilitas umum dirusak. Istilah kerennya, ‘senggol sedikit, bacok!’”.

“Kekerasan yang dilakukan oleh orangtua dan dewasa lalu dicontoh oleh remaja dan anak-anak. Ajaran sekolah yang mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan mentah, terinjak-injak oleh contoh buruk orangtua, tetangga, atau saudara yang dilihatnya sehari-hari.”

“Kau sendiri?”

Cepi menoleh ke Memet. “Apa?”

“Telah memberi contoh yang baik pada anak-anakmu?”

“Tentang apa?”

“Korupsi…?”

Lalu keduanya tertawa-tawa.*

 

Bandung, Jawa Barat. 8 Juni 2013.