Sudah dibaca 504 kali

Memet melipat koran. Wajahnya ditekuk. “Kekerasan kembali mendapatkan panggungnya.”

“Kapan?” Cepi mengorek hidungnya.

“Sebentar lagi.”

“Bukahkah sudah berlangsung lama dan membudaya? Kenapa jadi heran begitu?” Telunjuk Cepi keluar dari rongga hidung lalu menempel di ujung lidahnya. Ludah mencelat menumbuk dinding.

“Memang. Gejalanya sudah tampak. Mahasiswa yang memulainya.”

“Ada apa dengan mahasiswa? Kenapa mereka memilih kekerasan untuk menyelesaikan masalahnya? Sudah tidak percaya dengan upaya diplomatis?” Cepi menoleh sejenak ke arah Memet, lalu melengos cepat. Kini kelingkingnya penetrasi ke rongga hidung sebelahnya.

“Mungkin mereka sudah bosan dengan cara-cara lembut.”

“Tidak, tidak. Ini soal cara berpikir. Mahasiswa bagian dari masyarakat. Masyarakat kita sekarang memandang kekerasan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Jadi wajar saja kalau ada apa-apa ribut, berkelahi, lempar batu, pukul, sabet, bacok, bunuh. Mengerikan? Memang.”

“Kau setuju kalau masyarakat kita seperti massa psikopat seperti di film-film beraroma horor-seks-kekerasan?”

Cepi mengangkat bahunya, itu membuat kelingkingnya sedikit terangkat. “Apa ada ungkapan yang lebih sopan?”

Memet memonyongkan bibirnya sembari mendelik. “Ini akan jadi budaya turun-menurun.”

“Tepat! Anak-anak mencontoh orangtuanya, tetangganya, lingkungannya. Mereka akan jadi tokoh peniru sempurna. Tapi siapa peduli?” Nada Cepi terdengar pasrah.

“Autopilot, negeri ini autopilot. Lembaga-lembaga negara tak becus mengurangi dan membasmi kejahatan, korupsi, narkoba, takhayul. Tiap tahun, angka-angka itu terus naik. Sungguh menghabiskan anggaran.”

“Oke, kembali ke soal panggung tadi. Soal ribut-ribut berujung kekerasan. Ada apa?”

“Harga BBM sebentar lagi naik. Yang menolak gelar demonstrasi. Kekerasan seperti satu-satunya pilihan untuk mengekspresikan ketidaksetujuan. Ini akan jadi sebuah pesta besar kekerasan.”

“Kau berdoa atau meramal, Met?”

“Tebakanku saja. Masyarakat seperti sudah candu pada kekerasan. Kenaikan BBM akan merembet pada kenaikan yang lain. Sembilan bahan pokok alias sembako dan ongkos bus pasti naik. Sepuluh kenaikan ini akan bikin turunan kenaikan lagi. Sebentar lagi Ramadhan datang, yang tanpa ada kenaikan BBM pun harga-harga jungkir balik melambung. Tahun ajaran baru anak sekolah juga datang Juli nanti. Kenaikan-kenaikan ini pasti menaikkan tensi stres mereka. Logika ini sangat rasional.” Memet lancar menguraikan argumennya.

“Lalu, apa yang mesti dilakukan?”

“Kenapa tanya aku? Aku bukan presiden yang bisa membatalkan kenaikan BBM. Aku bukan anggota DPR yang seharusnya kerja keras meredam konflik sosial. Aku bukan pemuka agama yang bisa menasihatkan agar orang-orang mengamalkan ajaran agama untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi. Aku hanya… aku hanya… koruptor.” Memet menundukkan pandang. Tatapnya dalam membentur lantai. Hatinya tiba-tiba terasa ngilu.

Cepi menengadahkan pandang ke awang-awang. Matanya berkedip-kedip cepat, berusaha menelan kristal-kristal bening yang keluar seperti bah. Kelingking asinnya dibenamkan ke balik kaus.

Sejenak keduanya berpandangan. Lalu sibuk dengan perasaan masing-masing.

Di luar, pesta sedang dimulai.

Tangerang, Banten. 16 Juni 2013.