Sudah dibaca 460 kali

Cepi menghela napas berat. Kepalanya digeleng-geleng seperti kebiasaan orang India. Pikirannya mumet, seperti ada batu bangkong yang barusan menumbuk kepalanya. “Aku malu, Met.”

“Malu? Ada orang yang mengintip kamu mandi?”

Cepi menggeleng. Kepalanya terus menggeleng.

Memet nyengir sinis. Batinnya tersadar. Politikus busuk macam Cepi memang mestinya malu. Integritasnya sebagai apapun sudah jatuh runtuh; sebagai suami ia membuat istrinya terus kedinginan sendirian, sebagai kepala keluarga ia tak bisa memberi makanan halal kepada anak-istrinya, sebagai tetangga ia tak bisa jaga pos ronda.

Merasa Memet sepertinya tidak akan bertanya lagi, Cepi yang ingin suara hatinya didengar buru-buru bicara tanpa diminta. “Aku malu pada presiden kita.”

Malu kepada diri sendiri mungkin sudah aus, tapi tidak kepada orang lain. “Kenapa?” Memet terpancing penasaran.

“Di saat warga Aceh tertimpa musibah gempa bumi, presiden kita gelar pesta di istana. Acaranya pun tak membawa perubahan signifikan pada rakyat Indonesia dan tak berdampak apa-apa pada warga Aceh. Malah super lebay. Dia meluncurkan Fan Page Facebook miliknya.”

Tiba-tiba tawa Memet meledak. Tak henti-henti mulutnya terbuka, menguarkan gelak dan bau selokan penuh sampah organik. Matanya sampai berair mengerem tawa yang menyimpang hingga luar lapangan landasan bandara. “Ini lelucon yang sangat lucu, melebihi film Warkop sekalipun! Kok ada presiden yang buat akun Facebook saja bikin pesta segala?! Apalagi di tengah rakyatnya yang tertimpa musibah! Kau jangan bohong padaku, Cep! Mana ada presiden yang dipilih rakyat secara demokratis selebay itu! Kau pasti bohong, Cep! Ayo ngaku!”

Gelengan Cepi makin cepat. Kepalanya godek. “Edan, kau! Sama seperti presiden kita!”

Ucapan Cepi begitu sakti. Tawa Memet berhenti seketika. “Apa kau pikir punya fan page berdampak baik pada rakyat macam kita?”

“Kukira tidak sama sekali. Malah, aku yakin, kita akan sering membaca keluh kesahnya dalam memimpin negeri ini. Pada status pertamanya, ia mengeluh sering di- bully lewat akun Twitter-nya.” Cepi mengawangkan pandangnya. “Kalau ia cerdas, status pertamanya haruslah berupa ucapan bela sungkawa pada warga Aceh.”

“Menurutmu, apa tindakan Pak Presiden sudah melalui pertimbangan penasihat atau staf khususnya?”

“Entahlah. Semestinya, sih, seperti itu. Tapi punya akun di jejaring sosial memang haknya. Tak perlu konsultasi kepada para penasihatnya.”

“Dia memang punya hak untuk punya akun, apapun itu namanya, tapi kalau sudah pakai acara pesta peluncuran dengan memakai fasilitas negara, apa itu namanya bukan pemborosan? Apa rakyat Indonesia sepakat duitnya dipakai Pak Presiden hanya untuk kegiatan yang tidak membawa perubahan pada nasib rakyat?”

Ucapan Memet makin membuat Cepi geram pada Pak Presiden. “Sebagai pelayan kita, Pak Presiden harus diingatkan agar fokus pada aksi yang menguntungkan kepentingan rakyat. Sebab, akhir-akhir ini pun waktunya tersita untuk kepentingan partai yang dipimpinnya.”

“Jadi, apa yang akan kau lakukan?” Pertanyaan Memet terdengar serius. “Apa kau akan mengorganisir massa untuk gelar aksi demonstrasi ke istana negara?”

“Kau pikir aku narapidana narkoba yang masih bisa mengendalikan peredaran narkoba dari dalam penjara?” Ucapan Cepi bernada sewot.

“Jadi?”

“Aku… aku ya… cuma bisa mencak-mencak di sini! Aku, kan, masih tahanan KPK! Aku nggak bisa ke mana-mana! Kau seperti tidak tahu saja! Apa pertanyaanmu tadi untuk menyindirku? Kau mau mengajak aku duel, hah?!” Nada perkataan Cepi makin meninggi dengan tempo cepat, layak disebut marah-marah. Memet segera melangkah ke pojok ruang tahanan, lalu bersiul-siul pura-pura tidak dengar apa-apa.

Mendengar siulan Memet, Cepi duduk terpekur di atas ranjang. Memet bersiul-siul menyenandungkan lagu Bongkar karya Iwan Fals.

 

Kalau cinta sudah dibuang

jangan harap keadilan akan datang

kesedihan hanya tontonan

bagi mereka yang diperbudak jabatan

 

Jakarta, 8 Juli 2013