Sudah dibaca 521 kali

Satu di antara pulau terindah di Kepulauan Seribu adalah Pulau Tidung. Sebagai lokasi wisata, jantung pulau ini berdenyut hanya pada Sabtu dan Ahad. Di dua hari inilah baik wisatawan domestik maupun mancanegara menyerbu dan mengeksplorasi keindahan alam Pulau Tidung dengan beraneka ragam wisata bahari.

Dari Jakarta, perjalanan ke Pulau Tidung bisa ditempuh melalui dua tempat, yaitu Pelabuhan Marina di Pantai Ancol dan Dermaga Muara Angke, Jakarta Utara. Pada Sabtu-Ahad, 24-25 Desember 2011, lalu saya bersama teman-teman FLP Jakarta menyambangi Tidung lewat Muara Angke.

Untuk menuju Dermaga Muara Angke, kita terlebih dahulu melalui pasar ikan. Bersiap-siaplah untuk menahan napas sebab suasana pasar ini di pagi hari begitu padat dan bau amis. Kiri-kanan badan jalan dimakan lapak pedagang sehingga menyisakan jalan sempit di tengah-tengahnya. Kemacetan di jalan satu arah ini tak terhindarkan.

Suasana kumuh kembali terasa saat kita hendak menuju dermaga tempat kapal penumpang ditambat. Dua jalan menuju tempat tersebut terendam air. “Sudah biasa, tiap pagi seperti itu. Air pasang,” ujar seorang tukang minuman. Calon penumpang pun harus pandai ‘bermanuver’ melewati lapak-lapak pedagang yang terkesan asal taruh barang dagangan. Jika Pemda DKI Jakarta jeli melihat potensi wisata Kepulauan Seribu ini, tentu mereka akan membenahi infrastruktur di kawasan Dermaga Muara Angke.

Pukul 07.00 kapal penumpang yang lazim disebut ‘kapal ojek’ sudah dipenuhi penumpang. Mesti berdesak-desakan di lambung kapal bagian bawah dan atas agar bisa turut serta. Per penumpang dikenakan tarif Rp 33 ribu dengan tujuan Pulau Tidung.

Kapal ojek melaju dengan kecepatan sedang. Suasana hiruk-pikuk dan penuh peluh saat di dermaga perlahan mencair berganti segar ketika kapal bergerak ke arah utara. Setelah menempuh perjalanan 2,5 jam, akhirnya kapal tiba di Pelabuhan Penyeberangan Pulau Tidung.

 

Penginapan

Pulau Tidung terdiri dari Tidung Besar dan Tidung Kecil. Tidung Besar dihuni penduduk beserta gedung-gedung fasilitas pemerintah, seperti kantor lurah, kantor polisi, puskesmas, dan sekolah. Sementara Tidung Kecil tak berpenghuni.

Tak ada hotel di Tidung Besar. Menurut Hamdi, salah satu penduduk, pemerintah memberdayakan penduduk untuk memanfaatkan sebesar-besarnya potensi wisata. “Di sini yang ada hanya penginapan dan homestay,” ujarnya yang juga memiliki homestay dan penyewaan sepeda.

Jadi, wisatawan tinggal menyewa penginapan dan homestay yang banyak berdiri terutama di pinggir jalan utama dekat pantai. Biaya sewa homestay relatif murah. Per hari, tarif homestay Rp 400 ribu dengan tiga kamar dan berpendingin ruangan. Fasilitas lain seperti kamar mandi dan televisi. Kalau ingin makan disediakan, per orang tinggal merogoh kocek Rp 43 ribu untuk tiga kali makan. “Makan pagi dan siang masing-masing Rp 15 ribu, sedangkan makan malam Rp 13 ribu,” ungkap Hamdi.

Sebenarnya yang dimaksud homestay adalah rumah penduduk yang disewakan. Senin-Jumat mereka menempati rumah tersebut dan Sabtu-Ahad pindah ke rumah lain. Selain nelayan, buka warung, dan dagang pernak-pernik, inilah salah satu mata pencaharian penduduk Tidung.

 

Jembatan Cinta 

Ada satu jembatan unik di Pulau Tidung. Namanya Jembatan Cinta. Jembatan kayu ini berbentuk cekung dengan ketinggian sekitar tujuh meter. Dari atas Jembatan Cinta, kita dapat melihat eksotisme Pulau Tidung yang dikelilingi perairan dangkal berwarna hijau muda dan debur ombak yang tenang.

Di sore hari, orang-orang bule senang berlompatan dari atas Jembatan Cinta sementara rekannya memotret dari atas dan bawah jembatan. Jembatan Cinta kemudian tersambung memanjang, menghubungkan Tidung Besar dan Tidung Kecil. Jembatan membentang panjang di atas perairan dangkal yang dipenuhi karang dan rumput laut.

Dekat Jembatan Cinta ada dermaga, semacam jembatan beton yang memanjang. Pada 19 Desember 2011 lalu jembatan dermaga itu runtuh dan melukai seorang pekerja. Namun, runtuhnya dermaga tak memengaruhi wisata bahari yang ada di sekitarnya.

Wisatawan dapat bermain banana boat dan kano. Biayanya, untuk banana boat Rp 35 ribu per orang sedangkan kano Rp 35 ribu untuk dua orang per setengah jam. Jika ingin menikmati keindahan terumbu karang, Anda dapat menyewa peralatan snorkeling dengan biaya Rp 35 ribu. Jika ingin sekadar bermain air dengan keluarga, Anda bisa menyusuri pantainya yang berpasir putih dan bersih.

Bagi Anda yang suka outbond, tersedia pula arena yang tak kalah mengasyikkan. Di ujung arena berupa flying fox, peserta outbond langsung terjun ke laut!

Lokasi wisata bahari ini berada di bagian ujung timur Tidung Besar. Kita dapat menjangkaunya dengan berjalan kaki atau bersepeda. Atau, kalau tidak ingin capek, bisa minta antar tukang bentor (becak motor). Jika pengin puas mengitari Tidung, sebaiknya sewa sepeda. Harga sewanya Rp 15 ribu per hari.

Sepeda memang menjadi pemandangan familiar di Pulau Tidung. Hampir tiap homestay terdapat sepeda. Tak ada kendaraan beroda empat di sini. Sebab, jalanan di Pulau Tidung hanya selebar 2,5 meter berbahan conblock.

 

Tahun Baru

Seorang pedagang mie rebus di Tidung Kecil bercerita, biasanya Pulau Tidung sangat ramai saat pergantian tahun. Berdasarkan informasi yang ia dapat dari pengusaha travel, ada sekitar delapan ribu wisatawan yang akan merayakan tahun baru 2012 di pulau ini. “Acaranya biasanya wisata bahari dan barbeque,” ucapnya.

Lokasi barbeque tak jauh dari pelabuhan. Sekitar 30 meter dari jalan utama. Yanto, seorang pemandu, menyebutnya Lampu Lipan. Di area terbuka ini digelar tikar dan kain terpal untuk ditempati para wisatawan. Biasanya mereka menikmati ikan bakar sembari bercengkrama dengan sesama rekan. Wisatawan juga bisa menikmati aneka jajanan dan teh hangat dari warung yang berada di dekat area.

Melihat biaya transportasi dan akomodasi yang relatif murah serta terjangkau, rasanya eksotisme Pulau Tidung dengan wisata baharinya sangat sayang jika dilewatkan.  Hiruk pikuk Jakarta dengan berbagai kemacetan dan polusi udaranya, juga bau amis pasar ikan Muara Angke, sejenak dapat terlupakan setelah memanjakan pandangan dan menghirup udara Pulau Tidung yang menyegarkan.* (Billy Antoro)

 

Tulisan ini pernah dimuat di laman www.komhukum.com pada 28 Desember 2011