Sudah dibaca 745 kali

Selama hampir 30 tahun makan bubur ayam, baru kali ini makan bubur yang super lezat! Itulah sederet kalimat yang kali pertama terlintas di benak saat pertengahan 2010 lalu saya mengecap nikmatnya Bubur Ayam Marvella. Hingga kini, Marvella tetap mempertahankan cita rasanya.

Bubur ini tergolong unik. Tanpa bumbu atau campuran lainpun, bubur sudah enak dimakan. Cocok untuk bayi dan orangtua yang sakit.

Campuran bubur pun tak repot-repot; kerupuk pangsit, cakwe, daun seledri, ayam, fermentasi sawi. Tak ada kacang, bawang goreng, daun bawang, kerupuk udang, dan kuah kaldu. Kendati demikian, campuran sederhana plus bubur super lezat itu sudah mampu menggugah selera.

Buburnya berwarna putih dan gurih. Namun, tak seperti bubur lain yang dimasak pakai santan, bubur Marvella dimasak dengan kaldu ayam. Makanya saat disajikan tak memerlukan kuah kaldu lagi.

Ayam yang digunakan telah melalui proes memasak yang panjang, yaitu sekitar empat jam. Salah satu prosesnya adalah mengukus ayam untuk mengusir lemak. Bagian ayam yang digunakan adalah paha. Saat disajikan, ayam dipotong dadu, tidak disuwir.

Cakwe yang dipakai bukan sembarang cakwe. Ia dipesan dari penjual di Karet Tengsin. Cakwe yang telah digoreng dikukus lagi supaya kadar minyaknya berkurang.

Untuk memberi rasa agak asin, sawi putih difermentasi hingga tampak kecoklatan. Bentuknya mirip lobak.

Sate menjadi menu pelengkap. Ada tiga pilihan: ati, ampela, dan telur puyuh. Baik sate ati maupun ampela, rasanya begitu gurih, kering, dan empuk. Tak terasa minyaknya. Sate ini dimasak dengan rempah-rempah sehingga agak beda dengan sate lainnya.

Seperti campuran bubur lain yang terjaga nilai gizi dan kesehatannya, sambal sebagai perasa pedas juga dibuat sungguh-sungguh. Cabai yang digunakan semuanya jenis rawit merah. Dimasak dengan rempah-rempah dan tersaji mirip campuran saus dan cabai; agak kental.

Bubur Ayam Marvella berdiri di sebuah tempat sederhana mirip gubuk dengan atap terpal dan rangka bambu. Tak ada kesan mewah. Lokasi tepatnya di kawasan Kompleks Graha Raya, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Samping kantor pemasaran Graha Raya. Kompleks ini sering juga disebut Regency.

Menurut Hanadi—saya menemuinya pada Sabtu pagi 15 Desember 2012—Bubur Ayam Marvella didirikan oleh Hari, anaknya, delapan tahun lalu. Resep Marvella didapat Hari dari temannya yang lebih dulu buka warung bubur di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Setelah belajar cukup lama, Hari memutuskan buka lapak di Regency.

Awalnya Marvella buka tiap hari. Namun karena kesibukan lain dan kurangnya tenaga yang membantu, Hari mengajak Kris, adiknya, mengelola Marvella. Hari hanya buka Marvella pada Sabtu dan Ahad pagi. Sementara Kris buka warung pada Senin-Jumat sore. Kris buka warung dengan papan nama Bubur Ayam Regency. Tapi tetap saja rasa keduanya sama.

Marvella telah punya pelanggan tetap. Selain melayani secara reguler, Marvella juga melayani pesanan seperti untuk acara pesta dan malam kembang. Malam kembang adalah acara etnis Tionghoa yang digelar pada malam hari sebelum pemakaman keluarga yang meninggal. Tamu dihidangkan bubur sebagai pengganjal perut.

Regency dipenuhi puluhan tukang bubur ayam, seperti bubur ayam Tasikmalaya, Cirebon, Sukabumi, dan bubur dengan telur ayam kampung—buburnya sangat encer, memakannya seperti minum air. Namun Bubur Ayam Marvella tampil dengan ciri khasnya sendiri.

Jadi, bagi Anda yang hendak mencari bubur ayam terenak se-Jabodetabek, cobalah cicipi Bubur Ayam Marvella. Harganya relatif murah. Satu porsi hanya Rp 8 ribu dan satenya Rp 2 ribu/tusuk. Ini, tentu saja, rekomendasi bagi penikmat kuliner yang tinggal di sekitar Serpong, Bintaro, Kunciran, Pinang, Cileduk, dan Kota Tangerang. Selamat mencoba!

15 Desember 2012.