Sudah dibaca 546 kali

Pada akhir Desember tahun ini, kepengurusan Forum Lingkar Pena Cabang DKI Jakarta periode 2004-2006 berakhir. Dua tahun sudah Andi Tenri Dala Fadjar memimpin, menggantikan Azimah Rahayu yang kini menjabat Ketua Harian FLP. Tentunya dalam selang dua tahun tersebut banyak perubahan terjadi. Banyak hal bisa disoroti.

Misalnya pada struktur kepengurusan. Beberapa kali terjadi perubahan. Atau munculnya FLP Wilayah DKI Jakarta sebagai konsekuensi realisasi Hasil Musyawarah Kerja Badan Pengurus Pusat FLP pada Mei 2005. Semua berlangsung secara alami, menyesuaikan dengan kondisi yang berjalan secara dinamis. Perubahan tersebut dapat dimengerti karena secara keseluruhan FLP sedang menuju pada penataan organisasi. Inilah organisasi pengkaderan penulis terbesar di Indonesia yang sedang menata diri.

Yang menarik diulas dalam perjalanan FLP DKI Jakarta adalah model pengkaderannya. Bentuk awal yang sudah dirintis pada masa akhir kepengurusan Azimah dilanjutkan dan disempurnakan di kepengurusan Dala. Bila sebelumnya jenjang yang ada yakni Muda-Madya, maka di kepengurusan selanjutnya menjadi Pramuda-Muda-Madya-Andal. Jenjang ini merupakan penyesuaian terhadap model perekrutan anggota baru yang dilakukan tiap satu semester dan metode pengkaderannya berupa pelatihan. Pertemuan rutin ditetapkan satu pekan sekali.

Pelatihan dirancang sedemikian rupa sehingga calon anggota menguasai dasar-dasar penulisan, baik fiksi maupun non-fiksi. Materi pelatihan dan metode penyampaian terus disempurnakan. Jika sebelumnya materi pelatihan sekadar penulisan fiksi, maka dirambahlah materi nonfiksi. Juga kegiatan inagurasi sebagai media ekspresi dan unjuk kemampuan peserta yang diselenggarakan tiap akhir pelatihan. Hasilnya, sejumlah peserta mampu menerbitkan cerpen/novel dan karyanya dimuat di media massa.

Pelatihan bagi pengurus dan anggota Muda dan Madya—keduanya digabung–juga terus mengalami penyempurnaan. Jika sebelumnya tiap pertemuan yang paralel dengan pelatihan Pramuda berkisar pada diksusi dan pembicaraan tak terarah, maka selanjutnya diskusi terjadwal dengan tema yang jelas. Tentu saja, tema yang diangkat sudah taraf lanjut ketimbang materi yang didapat anggota Pramuda. Terakhir, konsep diskusi tidak lagi berkutat pada tataran teoretis, melainkan berlanjut pada ranah bagaimana menciptakan karya.

Permasalahan kecil yang cukup mengganggu—ini umum dialami oleh organisasi nonprofit—adalah kurangnya konsistensi di antara anggota. Selalu ada saja jadwal yang tidak berjalan maksimal. Belum lagi menjangkitnya penyakit laten “jam ngaret”. Kesibukan tak terbatas anggota lantaran kebanyakan pekerja juga menjadi masalah tersendiri yang tidak boleh mengganggu proses kaderisasi.

Memang, diakui, sudah banyak karya penulis yang pernah dan masih bergabung di FLP DKI Jakarta yang menghiasi rak toko buku dan media. Namun, sepertinya, perkembangannya kurang cepat. Orangnya “itu-itu saja” di media “itu-itu saja” juga. Perlu dipikirkan model pengkaderan yang memproduksi banyak penulis dengan kualitas memadai.

Bagaimanapun, FLP DKI Jakarta akan terus berjalan. Ia membutuhkan orang-orang tangguh untuk meneruskan dan meningkatkan “perjuangan” membuat orang-orang Indonesia gemar menulis dan membaca. Apalagi, pada Februari 2007 nanti, FLP memperingati hari jadinya ke-10.


*Artikel ini dimuat di Buletin PENA Edisi 9/Desember/2006 rubrik Opini. Buletin PENA merupakan media internal yang diterbitkan oleh FLP DKI Jakarta.