Sudah dibaca 570 kali

Ada beberapa gaya penulisan jurnalistik. Saya membaginya menjadi empat; hardnews, softnews, feature, dan literary journalism. Hardnews atau straightnews artinya tulisan langsung atau cepat. Maksudnya, sebuah peristiwa ditulis dan diberitakan secepat mungkin kepada khalayak pembaca. Strukturnya mengacu pada piramida terbalik; urutan penulisannya mulai dari yang terpenting sampai kurang penting. Koran harian memakai gaya penulisan ini.

Softnews kurang mementingkan isi berita. Ia mementingkan ‘kesegaran’ isi dengan tujuan menghibur pembaca—tentu ini berkaitan dengan tema yang dipilih. Biasanya porsi tulisan ini tidak terlalu panjang dalam sebuah media (koran, majalah, tabloid, dll).

Literary journalism—awalnya di barat new journalism­—atau diindonesiakan sebagai jurnalisme sastrawi merupakan gaya penulisan yang mensyaratkan empat hal dalam struktur tulisannya; adegan, seting, waktu dan sudut pandang orang ketiga. Semenjak kelahirannya—oleh Tom Wolf secara resmi didefinisikan sekitar tahun 1970-an—model penceritaannya mengikuti penulisan fiksi seperti cerpen dan novel. Genre ini tergolong sulit diterapkan, terutama oleh wartawan yang jam terbangnya masih rendah. Sebab keakuratan,  keluasan, kedalaman, dan ‘kebenaran’ berita sangat dituntut dalam tulisan ini. Salah satu ciri tulisan ini adalah waktu peliputan yang lama; bisa tahunan.

Feature pada hakikatnya tulisan bercerita, yaitu bagaimana sebuah berita bisa disampaikan secara enak. Karena itu liputannya bisa berupa apa saja; catatan perjalanan, liputan, biografi, dll. Struktur tulisannya tidak terlalu ketat seperti yang dianut hardnews; piramida terbalik yang deduktif—umum ke khusus. Ia lentur.

Feature identik dengan tulisan yang menyorot aspek humanisme (human interest) para pelakunya. Aspek itu seperti senang, takut, sedih, gelisah dan cemas. Penulis mengidentifikasi tokoh berita lewat perilaku dan pikirannya sehingga pembaca mengetahui karakternya. Tak ayal, unsur-unsur yang dipakai jurnalisme sastrawi seperti  adegan, seting dan waktu turut dilibatkan.

Menulis feature tidak dimulai saat penulis hendak menuliskan bahan-bahan yang telah tersedia. Ia dimulai saat reportase/peliputan. Unsur-unsur dasar penulisan berita, yaitu what, who, when, where, why dan how—sebuah kecukupan bagi penulisan hardnews–dikembangkan lebih jauh. Intinya, bagaimana fakta-fakta yang ada di lapangan terangkai secara utuh dan disampaikan secara enak.

Rangkaian tulisan yang bagus membawa pembaca pada penghayatan karakter tokoh-tokoh berita dan emosi yang sengaja dibangun sepanjang cerita. Terkadang unsur imajinasi dilibatkan dengan ketentuan hanya dipakai pada cara penulisannya, bukan pada ‘fakta-fakta yang tidak ada atau diada-adakan’. Sebab kesakralan tulisan nonfiksi  harus tetap dijaga: tak diizinkan setitikpun unsur kebohongan menjamah.

Maka tuliskanlah sebuah peristiwa secara menarik. Tulislah layaknya Anda bercerita secara lisan tentang sesuatu hal yang Anda pikir penting bagi orang lain ketahui. Jangan lupa libatkan lima unsur indrawi yang Anda miliki; lihat, dengar, cium, rasa, kecap. Sebab sebuah tulisan feature yang baik tak cukup mengandalkan wawancara dan kajian pustaka. Ia juga butuh sentuhan manusiawi penulisnya.

 

*Artikel ini dimuat di Buletin PENA Edisi 11/Desember/2007 rubrik Non Fiksi. Buletin PENA merupakan media internal yang diterbitkan oleh FLP DKI Jakarta.