Sudah dibaca 486 kali

2007 adalah tahun di mana Forum Lingkar Pena DKI Jakarta menyibukkan diri. Bukan berarti di tahun-tahun sebelumnya para pengurus dan anggotanya tidak sibuk. Namun, pada kepengurusan baru yang dipimpin Billy Antoro, orientasi organisasi yang diusungnya menyebabkan adrenalin dan keringat para pengurusnya terus digenjot dan dikuras.

 

Dalam tiap kepengurusan, FLP DKI memiliki orientasi organisasi yang berbeda. Pada kepengurusan pertama FLP DKI di bawah kepemimpinan Syaiful (2000-2002), program kerja organisasi dititikberatkan pada pembangunan pondasi organisasi. Maklum, FLP DKI baru berdiri pada 2000. Jadi pondasi organisasi harus kokoh dulu. Pada kepengurusan berikutnya, Azimah Rahayu (2002-2004) melanjutkan ‘pembangunan’ dengan memperkokoh struktur organisasi. Di sini pembuatan divisi mulai dimapankan dan sistem kaderisasi yang terencana mulai dibangun.

Andi Tenri Dala (2004-2006) memfokuskan pengembangan sistem kaderisasi dikepengurusan selanjutnya. Pola rekrutmen anggota baru dan pelatihan terhadap calon anggota dimatangkan. Bersamaan dengan itu, potensi yang dimiliki anggota kian maju dan berkibar. Banyak anggota yang karyanya dimuat di sejumlah media lokal dan nasional serta dibukukan. Maka, bila tiga kepengurusan sebelumnya orientasi organisasinya lebih mengacu pada pengembangan internal, maka di bawah kepengurusan Billy (2007-2008), organisasi lebih diorientasikan pada pengembangan eksternal; FLP DKI, sebagai organisasi yang memiliki Sumber Daya Manusia beragam potensi, diarahkan pengembangannya melalui potensi-potensi yang berada di luar organisasi. Pemberdayaan dan penetrasi, barangkali itu istilah tepatnya.

Namun bukan berarti kondisi internal organisasi tidak diperhatikan. Divisi Kaderisasi yang membawahi Subdivisi Muda/Madya dan Subdivisi Pramuda tetap dikokohkan perannya. Sementara Divisi Event Organizer dan Humas memainkan peran strategis di mana visi organisasi dipanggul di bahunya.

 

Gerilya

Itu di mulai pada 14 Januari 2007, saat forum Musyawarah Cabang digelar di teras Masjid Jami YARSI, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Agendanya, pembahasan laporan pertanggunggjawaban kepengurusan Dala dan evaluasi kinerja, serta pemilihan ketua baru. Setelah melalui proses pemilihan yang panjang, Forum memutuskan dan mengesahkan Billy Antoro sebagai Ketua FLP DKI Jakarta periode 2007-2008.

Sejak itu dimulailah rangkaian kinerja yang padat dan melelahkan. Selain meneruskan pelatihan rutin anggota pramuda tiap Ahad, kepengurusan yang belum terbentuk itu melakukan sejumlah kegiatan penting. Misalnya, menjelang raker, mengadakan pra-raker. Untuk menyambut milad FLP ke-10 yang diselenggarakan pada 24 Februari di Gedung Departemen Pendidikan Nasional, calon pengurus menyibukkan diri dengan sejumlah persiapan, seperti pembuatan standing banner berisi profil FLP DKI, album foto, kartu nama, brosur, pin, dan kaus. Sebagiannya melibatkan diri dalam kepanitiaan FLP Pusat.

Seminggu berselang, tepatnya 3-4 Maret, sebelas pengurus yang mayoritas pekerja menyambangi Rangkasbitung, Lebak, Banten, untuk menggelar Rapat Kerja. Di sana, secara bergerilya program kerja dirumuskan dan dibahas hingga mencapai kesepakatan bersama. Antusiasme pengurus untuk memajukan organisasi yang berorientasi eksternal begitu tinggi. Meski raker hanya membahas program kerja selama setahun, visi sebagian pengurus menunjukkan keberlangsungan program kerja dua tahun ke depan.

Salah satu program kerja yang digagas adalah pembentukan pondok baca. Untuk mengetahui seluk beluk pengelolaan pondok baca, pada 11 Maret lima pengurus mengunjungi Rumah Dunia. Di sana mereka memperoleh banyak pengalaman dari sang pendiri sastrawan Gola Gong.

Berselang enam hari, pada 17 Maret FLP DKI menjadi fasilitator pelatihan penulisan di SMAN 21, Pulo Mas, Jakarta Timur. Pembicara dalam acara tersebut adalah Fahri Asiza, Ekky Al-Malaky, dan Dani Ardiansyah (Ketua Div. Humas). Pengurus FLP diberi kesempatan mempresentasikan profil organisasi sekaligus promosi rekrutmen anggota baru. Pembina Rohani Islam SMAN 21 juga memberikan lampu hijau kepada FLP DKI membuat ranting di sana.

Menjelang inagurasi, sejumlah pengurus di Subdivisi Pramuda sibuk menyiapkan acara dan tempat. Inagurasi merupakan acara rutin yang digelar tiap berakhirnya pelatihan yang diikuti anggota di jenjang Pramuda–semacam pelantikan atau pun pengesahan keanggotaan. Pada 22 April, inagurasi diselenggarakan di Anjungan Riau Taman Mini Indonesia Indah. Peserta yang bisa hadir tujuh orang. Yang paling ‘imut’ siswi kelas 1 SMP, Wardah Hasanah. Di acara ini, selain pembacaan karya peserta, juga diadakan diskusi tentang motivasi menulis dengan Taufan E. Prast dan Tary sebagai pembicara.

inagurasi flp 9

Mei yang padat

Rekrutmen anggota baru dilaksanakan per semester. Setelah pengumuman pendaftaran anggota baru yang disebar lewat mailing list dan pendirian stan di Milad FLP 24 Februari, pada 6 Mei dilakukan pertemuan perdana calon anggota baru. Uniknya, pesertanya dari beragam pekerjaan dan status pendidikan; SMP, SMA, mahasiswa. Tercatat ‘pemegang rekor’ termuda masih siswi kelas 1 SMP.

Pertemuan 13 Mei tidak lagi digelar di teras Masjid Jami YARSI, melainkan di teras masjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Sebagian besar pengurus bernapas lega. Tempat ini sejak akhir 2004 menjadi ‘markas’ FLP DKI—pindah ke teras Masjid Jami YARSI sejak akhir 2006. Selain sebagai ‘pusat budaya dan seni’ di Jakarta, letak TIM mudah terjangkau dari mana saja.

Seminggu kemudian, 20 Mei, Divisi Event Organizer menggelar acara gerak ‘Remaja Bermutu dan Gaul (GEREBEG) Jakarta’ di toko buku MP Book Point, Cipete, Jakarta Selatan. Acara berupa peluncuran buku dua pengurus FLP DKI (Dani Ardiansyah dan Achi TM), talkshow, dan silaturahmi FLP Wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, Ciputat (Jabedeci). Talkshow menghadirkan cerpenis lucu Boim Lebon, Zaenal Radar, Taufan E.Prast, Sokat, dan Billy. Acara berjalan lancar dan hangat meski hujan sempat mengguyur sebentar. Penerbit Lingkar Pena Publishing House menjadi sponsor.

18

Ahad berikutnya, 27 Mei, sejumlah pengurus menyambangi Madrasah Aliyah Negeri 4 Model di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. FLP Ranting MAN 4 Model diresmikan. Lisnur, Guru Bahasa Indonesia, mewakili pihak sekolah meresmikan pembentukan ranting. Ini adalah ranting pertama di tingkat sekolah setelah sebelumnya berdiri tiga ranting di kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Universitas YAI, dan Universitas Negeri Jakarta. Peresmian ranting juga diisi dengan program ‘FLP Goes to School’– sebuah program road show FLP DKI ke sejumlah sekolah di Jakarta–berupa seminar motivasi menulis dan menembus media massa.

peresmian flp ranting man4

Momen strategis

Juni merupakan ‘masa istirahat’ kegiatan eksternal. Perhatian difokuskan pada pelatihan anggota Pramuda. Yang paling sibuk pengurus Subivisi Pramuda. Antusiasme masyarakat yang ingin mendaftar menjadi anggota FLP DKI membuat pengurus memperpanjang masa pendaftaran. Hingga penutupan, tercatat 65 orang mendaftar.

Istilah seleksi alam merupakan gambaran logis sebuah proses kaderisasi. Artinya, waktulah yang menentukan berlajut-tidaknya seseorang mengikuti sebuah kegiatan organisasi. Berbeda dengan angkatan sebelumnya, pramuda angkatan 10 begitu antusias. Tiap pertemuan selalu dihadiri banyak peserta. Selalu di atas sepuluh orang. Uniknya, usai salat zuhur, anggota pramuda yang memiliki waktu luang cukup banyak. Kesempatan ini digunakan untuk menggelar diskusi antara anggota Pramuda dengan anggota Muda/Madya.

Kekompakan Pramuda angkatan 10 tak sampai di situ. Mulai 1 Juli, mereka mengadakan acara rujakan, yaitu acara informal berisi makan bersama dan apresiasi seni. Anggarannya saweran. Melihat ini Meiliana Komalarini, Ketua Subdivisi Pramuda yang juga Kepala Sekolah, begitu senang harapannya tercapai. “Mereka kompak, saling mengenal satu sama lain, dan mereka juga tidak canggung mengobrol dan bertegur sapa dengan (anggota) Muda/Madya,” katanya.

Pada 8 Juli, empat anggota FLP DKI (Nursalam, Dani, Lia Octavia, Indarwati) mengikuti Lokakarya Cerpen Dwiwulan (LCD) di Rumah Cahaya, Depok, Jawa Barat. Pembicaranya pendiri FLP dan sastrawati Helvy Tiana Rosa. Berbeda dengan acara konvensional lainnya, peserta pelatihan ini telah diseleksi di tingkat cabang (Jakarta, Bekasi, Depok, Ciputat). Lalu cerpen mereka dibahas oleh pembicara dalam pelatihan tersebut secara eksklusif. LCD merupakan salah satu program FLP Wilayah Jabedeci.

Pada 20-22 Juli, Rumah Dunia beserta sejumlah komunitas sastra di Banten hendak mengadakan Ode Kampung 2. Acara temu sastra senusantara ini menjadi peluang FLP DKI, dalam hal ini para anggotanya, untuk mengenal lebih jauh para penulis di lain komunitas juga para sastrawan yang akan datang. Juga membangun jaringan dan kerjasama tentu saja.

Antusiasme anggota FLP DKI mengikuti acara tahunan ini ternyata sangat tinggi. Tercatat, hingga 17 Juli, 30 orang mendaftar ke panitia secara kolektif. Dari 30 orang tersebut, yang terbanyak akhwat, yaitu 19 orang—dua di antaranya pelajar SMA.

Momen Ode Kampung diharapkan membawa angin segar bagi perkembangan FLP DKI ke depan, terutama dalam hal pengkaderan. Akan banyak hal positif diraih, seperti motivasi, kebersamaan, kerjasama, dan pembentukan jaringan. Orientasi eksternal orgnasisasi, dengan demikian, menemukan wadahnya.

 

* Artikel ini diterbitkan di Bulatein PENA Edisi Khusus/Juli/2007