Sudah dibaca 618 kali

Mereka membuat keributan dari pagi hingga sore. Kepala Lembaga Pemasyarakatan turun tangan.

FLP DKI News. Sabtu, 26 Juli 2008, sejumlah aktivis Forum Lingkar Pena DKI Jakarta masuk ke Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang. Mereka adalah Billy Antoro (Gembong FLP DKI), Ervan Joniawan (Sekretaris), Tarnie (Koordinator Divisi Event Organizer), Ani Harjanti (anggota Divisi EO), Fariecha (Koordinator Divisi Hubungan Masyarakat), Yusi Rahmaniar (anggota Divisi Humas), Adi Yanuardi (anggota Divisi EO), Syukriah (anggota Divisi EO), dan Wiekerna Malibra (anggota Muda). Selama kurang lebih delapan jam Lapas Anak Tangerang gaduh karena kedatangan mereka.

Ani, Ketua rombongan, mengatakan, kedatangan mereka sudah direncanakan jauh-jauh hari. Sasarannya adalah 50 Anak Didik Lapas (Andikpas). Ke-50 anak ini akan diberi pembekalan agar mau mengeluarkan isi otak mereka dalam bentuk tulisan.

Ada tiga orang yang diutus Ani untuk memprovokasi ke-50 anak itu. Mereka adalah Taufan E. Prast (editor, provokator) yang memberi materi menulis cerita pendek, Epri Tsaqib (Gembong penyair Komunitas Puisi FLP), fasilitator menulis puisi, dan Billy Antoro (Gembong Narkoba—Sinar Kota Betawi), mediator menulis opini. Mereka bertigalah yang membuat sekitar 50 anak di Rumah Pintar Andikpas—ruang pembelajaran di Lapas—tegang, tertawa, dan riuh.

Haru Tamtomo, Kepala Lapas, yang berada di tengah-tengah para provokator itu, ternyata tak kalah hebat memberi provokasi kepada anak-anak didiknya. Katanya, para Andikpas memiliki potensi besar untuk menjadi penulis hebat. Bahkan mereka telah berhasil menghancurkan prasangka para pendatang saat menyerbu mereka. Bahwa mereka adalah orang-orang sopan, memiliki tata krama saat bertemu dan bicara, dan memiliki kemampuan dalam berkarya.

Itulah yang terlihat dalam tiap sesi pemberian provokasi. Pada sesi pertama, Andikpas tak kalah pintar melucu ketimbang gembong humor Taufan E. Prast. Di sesi kedua, kreativitas Andikpas terlihat saat menulis opini yang berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi serta solusi yang bisa dipraktikkan. Di sesi ketiga, Epri Tsaqib berhasil memaksa tiga Andikpas mengeluarkan kemampuan membaca puisi dengan membacakan puisi karya gembong penyair Sutardji Calzoum Bahri.

 

Narsisme tingkat tinggi

Keberhasilan para provokator memprovokasi Andikpas terbilang cepat. Namun keberhasilan itu tidak berkaitan dengan penulisan, melainkan dengan pose saat berhadapan dengan kamera. Aktivis FLP DKI dikenal memiliki kehebatan individual berupa narsisme tingkat tinggi. Itu tampak dalam koleksi album foto mereka yang dimuseumkan di blog www.galeriflpdki.multiply.com.

Di sela istirahat dan usai acara, para Andikpas berteriak-teriak, ”Kak, foto, Kak, foto!” sambil berpose narsis yang tak pernah terlihat sebelumnya. Mereka berpose di taman depan Rupin dan dipintu masuk wisma. Ada pula yang berpose di balik terali besi wisma. Sejumlah provokator yang seumur hidup baru masuk Lapas hari itu menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan pose paling narsis di depan mereka. Belum puas bernarsis ria di tengah Andikpas, mereka beraksi di ruang resepsionis sambil mengambil telepon seluler yang dititip. Seorang penjaga dengan wajah berang membuka pintu gerbang seolah berkata, ”Woi cepat ke luar! Ini Lapas, bukan tempat wisata! Foto narsis kok nggak ngajak-ngajak saya! Cape deeeh!”

Merasa hak bernarsis ria di ruang resepsionis dibatasi, setelah keluar Lapas, masih di depan pintu masuk, mereka kembali berkumpul dan memasang foto ternarsis di dunia.

Begitulah para aktivis FLP DKI beraksi. Setelah membuat kegaduhan di Lapas, masjid al-A’zhom yang berada di belakang Lapas menjadi sasaran berikutnya. Di sana mereka shalat Ashar dan mengucap syukur bahwa penyerbuan ke Lapas hari itu berjalan sukses. Akan ada provokasi lanjutan yang telah mereka rencanakan. Waspadalah! Waspadalah!

 

Juli 2008