Sudah dibaca 657 kali

SABTU, 26 Juli 2008. Mentari bersinar terang di sekitar Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang. Anak Didik Lapas (Andikpas) tampak sibuk membersihkan taman. Sebagian lagi membersihkan lantai. Kami, aktivis FLP DKI, menyusuri jalan berliku menuju tempat pelatihan menulis yang terletak di bagian belakang Lapas, mengikuti langkah Bu Sondang, petugas Lapas. Sejumlah Andikpas yang kami lewati memandangi kami di sela kesibukan mereka. Entah makna apa yang mereka pancarkan pada kami saat itu. Yang pasti, wajah kami baru kali pertama mereka lihat, begitu pula sebaliknya.

Bangunan yang tampak sepanjang perjalanan tidak menunjukkan kengerian sebagaimana perkiraan kami sebelumnya. Lembaga pemasyarakatan identik dengan kekumuhan, bangunan dan penghuni yang menakutkan, serta sikap sinis penghuninya. Namun gambaran demikian yang biasa kami saksikan lewat televisi tak muncul di sini. Bangunan-bangunan yang ada lebih kelihatan sebagai rumah. Penghuninya, Andikpas, tak sungkan-sungkan mengulas senyum saat kami memandangnya. Mereka seakan telah terbiasa mendapati kunjungan.

Rungan yang dituju dinamakan Rumah Pintar Andikpas. Ini adalah ruangan tempat sejumlah acara digelar, berdampingan dengan ruang perpustakaan. Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan pendiriannya dua tahun silam.

Rupin dipenuhi lukisan karya Andikpas. Foto-foto dan kliping koran yang berkaitan dengan kegiatan di Lapas terpajang apik di dinding. Bu Sondang tampak mondar-mandir mengatur beberapa Andikpas mengorganisir persiapan. Tikar digelar, spanduk acara FLP DKI dipasang menempel pada atalase kaca yang berisi aneka kerajinan tangan.

Setelah acara siap dimulai, Billy Antoro, Ketua FLP DKI Jakarta, menjemput Kepala Lembaga Pemasyarakatan Heru Tamtomo di ruang kerjanya. Jalan yang ditempuh melewati jalan yang membelah Lapas. Kanan-kiri jalan adalah sel yang dibuat sedemikian rupa sehingga tampak seperti rumah. Di ruang kerjanya, Heru Tamtomo ramah menyambut Billy.

”Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih teman-teman Lingkar Pena mau datang ke tempat ini,” ucap Haru kepada Billy. ”Mau berbagi ilmu tentang kepenulisan kepada anak-anak.” Ia bercerita tentang kesibukan Lapas yang akhir-akhir ini meningkat.  Sejumlah kalangan masyarakat memanfaatkan peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli untuk berbagi kebahagiaan dengan Andikpas. Mereka menyelenggarakan sejumlah kegiatan baik di Lapas maupun di luar Lapas. ”Besok saja anak-anak ikut acara Hari Anak Nasional di Jalan M.H Thamrin,” lanjut Haru.

Acara pembukaan dimulai. Haru Tamtomo menyampaikan sambutan. Ia mengatakan bahwa Andikpas memiliki potensi besar untuk menghasilkan karya yang lebih hebat daripada orang-orang di luar Lapas. Haru memotivasi Andikpas agar mau menuliskan segala hal yang dihadapi atau dibayangkan Andikpas. Dia menyediakan kertas dan alat tulis dan membebaskan mereka untuk menulis apa saja. Kami mendapati Haru Tamtomo sebagai seorang motivator yang baik dan berwawasan luas.

Usai penutupan acara pembukaan, Haru duduk di bangku di bagian belakang barisan Andikpas. Billy mendampinginya. Dalam pembicaraan mereka, Haru bercerita mengenai keibaannya pada para Andikpas. ”Lapas bukan tempat terbaik bagi masa perkembangan mereka,” ucap Haru. Mereka tidak menginginkan berada di tempat ini. Maka sudah kewajibannya sebagai Kepala Lapas membuat mereka betah selama tinggal di sini. Ia mengusahakan sedemikian rupa agar Lapas tidak tampak seperti penjara, melainkan rumah yang akan mendidik mereka menjadi orang yang lebih baik.

Motif mereka masuk Lapas beraneka ragam. Empat puluh lima persen karena kasus narkoba. Haru sangat prihatin pada situasi lingkungan rumah Andikpas yang sangat tidak kondusif bagi perkembangan diri mereka. Menjadi orang jahat bukan keinginan mereka, tapi lingkunganlah yang berpengaruh besar dalam membentuk mereka menjadi orang tidak baik. ”Jadi mereka korban, Pak!” ungkap Billy. Haru setuju.

 

Pelatihan Penulisan

Hari itu FLP DKI menggelar pelatihan menulis bagi penghuni Lapas Anak Pria Tangerang. Pembicaranya yaitu Taufan E. Prast (editor, penulis), membawakan materi Menulis Cerpen; Billy Antoro (wartawan, penulis), fasilitator Menulis Opini; dan Epri Tsaqib (penyair, ketua Komunitas Puisi FLP), memberikan materi Menulis Puisi. Sekitar 50 Andikpas mengikuti tiga sesi materi dari pagi hingga sore.

Saat pemberian materi Menulis Cerpen, Taufan mengajak peserta menulis cerita lucu. Beberapa anak dimintanya membacakan hasil tulisannya. Tawa selalu terlontar di sesi ini.

Di sesi kedua, Billy tidak langsung masuk ke materi Menulis Opini. Dia memotivasi peserta dengan memberi contoh sejumlah founding father Republik Indonesia yang kebanyakan pernah dipenjara. Soekarno, Mohammad Hatta, Tan Malaka, dan sejumlah tokoh lain menjadikan penjara sebagai tempat kondusif untuk melahirkan buku-buku revolusioner. Bahkan sastrawan hebat Pramudya Ananta Toer membuat novel tetralogi saat di penjara di Pulau Buru. ”Dulu Pramudya susah sekali medapatkan kertas untuk menulis. Nah di sini Andik-Andik disediakan kertas oleh Pak Haru. Maka tulislah apa yang ada di pikiran Andik-Andik,” kata Billy. Andik, kata Billy, tidak kalah hebat dibanding orang-orang di luar Lapas. Bahkan di Lapas mereka disiapkan untuk menjadi orang-orang hebat yang bisa dijadikan contoh oleh keluarga, saudara, dan masyarakat. Ketika pemberian materi, Andik ditugaskan Billy membuat opini yang berkaitan dengan masalah yang mereka hadapi.

Usai istirahat, shalat Zuhur, dan makan siang, Epri Tsaqib memberikan materi Menulis Puisi. Sebelum materi dimulai, tiga anak membacakan puisi karya Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bahri. Andik juga diajarkan cara membuat puisi. Di akhir sesi, Epri meminta Andik membuat puisi.

 

Foto bersama

Lingkungan Lapas Anak memang tidak terlihat seperti penjara yang menyeramkan. Siang itu anak-anak bebas berkeliaran. Sebagian ada yang duduk-duduk di taman, membersihkan lantai, dan santai di wisma (sebutan untuk sel). Petugas kadang mondar-mondir mengawasi aktivitas mereka.

Ketika gema azan Zuhur menggema, para Andik memasuki wisma, mengambil sarung dan berpakaian rapi, kemudian pergi menuju masjid yang terletak di sebelah barat Lapas. Pengeras suara tak jarang terdengar, memanggil Andik untuk suatu keperluan. Saat sirene terdengar, para Andik berkumpul di satu tempat untuk apel; berhitung di depan petugas.

Sekitar pukul 15 acara pelatihan selesai. Billy menyerahkan sejumlah buku dari sponsor kepada Pujo Harminto, Pembina Anak, untuk koleksi perpustakaan. Pujo adalah orang ramah yang dikenal dekat dengan Andik.

Usai acara, digelar foto bersama. Sejumlah aktivis FLP DKI berfoto bersama Pujo dan Andik-Andik. Tak hanya di Rupin, foto bersama dilakukan juga di taman dan koridor wisma. Keceriaan tergambar dari wajah Andik dan aktivis FLP DKI, di bawah sorot kamera dan harapan bertemu lagi. Suatu hari nanti.

Juli 2008