Sudah dibaca 547 kali

Oetje F. Tekol, Bassist The Rollies

Oetje F. Tekol, Bassist The Rollies

Oetje Frank Tekol ‘tak ada matinya’. ‘Nyawanya’ terus hidup dalam lirik-lirik lagu yang diciptakannya. Bassist grup band rock legendaris The Rollies ini, pada peluncuran album ‘Return’ di Bandung 18 Mei 2013 lampau, menciptakan sembilan lagu dari 11 lagu yang ada.

Oetje memang seorang pencipta lagu andal. Bakatnya yang luar biasa mulai muncul saat usianya 10 tahun. Waktu itu ia sering bersenandung, membuat heran ibunya.

“Kamu menyanyikan lagu apa?” Ia menirukan kalimat ibunya.

“Nggak tahu.”

“Kok bikin sendiri suka-suka kamu?”

Bakat bermusiknya terus diasah kala Oetje masuk SMP. Berbagai alat ia coba; drum, gitar melodi, gitar bass. Jiwanya menyatu pada alat musik terakhir. Bersama grup musik Risnada, ia dan teman-temannya unjuk kemampuan di berbagai acara sekolah dan kampungnya.

Saat SMA, ia melebarkan sayap ke Cimahi dan Banten. Acara apapun diikuti guna menggali pengalaman. Ia pun bergabung dengan beberapa grup band seperti Players dan Diablo yang manggung di sejumlah klub malam di Bandung. Pernah ketika raksasa band rock The Rollies manggung, grup bandnya Diablo menjadi pembuka acara.

‘Perjodohan’ dengan The Rollies berlanjut. Ketika pemain bass-nya tersandungkasus penyalahgunaan narkoba, The Rollies buka audisi. Oetje ikut audisi dan terpilih. Itu terjadi pada April 1974. “Waktu itu saya tidak terlalu berharap,” ujarnya.

Ternyata The Rollies menjadi laboratorium terbaik dalam mengasah bakat alaminya. Ia terus mencipta lagu. Pada 1978, di bawah label Musica Studio, The Rollies meluncurkan album berjudul Kemarau. Kemarau adalah lagu ciptaannya yang termuat bersama 12 lagu lain dalam album berjudul sama. Pada 1979, Kemarau diganjar penghargaan Kalpataru oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Begini lirik Kemarau:

Panas nian kemarau ini/Rumput-rumputpun merintih sedih/Rebah tak berdaya diterik sang surya/Bagaikan dalam neraka/Curah hujan yang dinanti-nanti/Tiada juga datang menitik/Kering dan gersang menerpa bumi/Yang panas bagai dalam neraka/Mengapa …Mengapa, hutanku hilang ?/Dan tak pernah tumbuh lagi …./Mengapa …Mengapa, hutanku hilang ?/Dan tak pernah tumbuh lagi …./Curah Hujan yang dinanti-nanti/Tiada juga datang menitik/Kering dan gersang menerpa bumi/Yang panas bagai dalam neraka/Mengapa …Mengapa, hutanku hilang ?/Dan tak pernah tumbuh lagi …./Mengapa …Mengapa, hutanku hilang ?/Dan tak pernah tumbuh lagi ….

Liriknya sederhana namun begitu kuat dan sarat gugatan terhadap perilaku biadab manusia merusak alam.

Oetje mengaku kemampuannya mencipta lagu mengalir begitu saja. “Saya tidak tahu teori mengasah bakat,” tegasnya. Namun ia sadar, keberhasilannya bersumber dari dalam dirinya yang terus mengobarkan semangat disiplin untuk terus belajar hal baru dan fokus pada cita-citanya.

Bagi Oetje, musisi berkarakter adalah mereka yang berani tampil beda. “Harus berani mengeluarkan yang ada pada dirinya,” ujarnya. Ia melihat kebanyakan artis dan musisi sekarang berlomba-lomba meniru artis dan musisi lain yang sudah terkenal, baik lokal maupun internasional. Hal itu terjadi karena bentukan pasar dan pemilik modal. Makanya, lanjut Oetje, banyak artis dan musisi yang terkenal sebentar lalu ambruk tergilas pasar dan dilupakan masyarakat. Lagunya yang pasaran pun cepat tenggelam dalam memori orang-orang.*

 

 

Wawancara dengan Oetje F. Tekol saya lakukan pada Senin, 4 November 2013, di area kolam renang Hotel Lorin Sentul, Bogor, Jawa Barat.