Sudah dibaca 449 kali

Memet membaringkan badannya di bawah pohon beringin yang rindang. Matanya terpejam, pikirannya berkelana ke mana-mana. Cepi yang duduk di sampingnya tergoda untuk mengganggunya.

“Jangan pernah berpikir untuk menjadi orang terkenal di Lapas ini. Lebih enak jadi orang biasa.” Ucapan Cepi membuat tusuk gigi di mulutnya terpental mengenai muka Memet.

Memet seketika bangkit. Diusapnya pipi yang tertusuk ujung bambu. Semerbak jigong Cepi meruap mencekik cuping hidungnya. Bau busuk begini pasti karena jengkolnya KW III. “Memang kalau aku mau terkenal kenapa? Nggak boleh?”

“Ya… boleh saja. Nggak ada yang melarang, kok. Persoalannya, kamu mau dikenal sebagai orang baik atau jahat?”

Mata Memet mendelik.

“Asal kamu nggak mendua saja, Met.”

“Mendua?”

“Ingin dikenal baik padahal jahat.”

Memet garuk-garuk kepala. Sejak pindah ke Sukamiskin, ia merasa makin sulit memahami ucapan Cepi. Tapi kadang ia berpikir bahwa dialah yang berangsur jadi orang bodoh karena terlalu sering bergaul dengan orang dungu.

“Seperti bekas ketua MK si AM itu. Aku yakin, ia akan jadi tokoh sejarah di republik ini. Namanya akan melegenda dan jadi bahan diskusi di ruang-ruang kelas.”

“Oh ya?” Memet kelihatan antusias.

“Tentu saja. Ia akan digelari hakim paling ‘ngehe’ se-Indonesia. Seorang hakim konstitusi yang menjual hukum, korup, dan pemakai narkoba. Ia prototipe manusia Indonesia paradoks yang antilogika.”

“Antilogika?” Kembali ucapan Cepi sulit dicerna.

“Secara akademis, otaknya telah ‘ngelotok’ di bidang hukum karena S-1 hingga S-3-nya jurusan hukum. Posisinya sebagai hakim MK adalah jabatan sangat prestisius di negeri ini. Ia pun pernah naik haji, artinya mestinya ia lebih mendengar suara Tuhan ketimbang suara setan. Harta dan kehidupan dunia tak lagi jadi perhatiannya. Nyatanya, ia tak lebih baik dari kotoran di keranjang sampah!”

Meskipun ucapannya penuh kegeraman, tapi nada suara Cepi sama sekali tak terkesan sewot. Datar saja. Ia mampu menguasai emosinya.

“Dari segi keterkenalan, ia telah bertumpuk-tumpuk mengalaminya ya…” Memet manggut-manggut sembari mendelikkan mata. “Jadi Ketua MK saja sudah terkenal. Sekarang ia terkenal sebagai pengatur sejumlah sengketa pilkada, pemeras yang duitnya ditanam dalam sejumlah aset, dan pemilik narkoba.”

“Menurutmu, apa yang dia cari?”

“Maksudmu?”

“Sebelum ditangkap KPK, gajinya besar. Jabatannya tinggi. Ketenarannya pun luas.”

“Mungkin kesenangan saja. Atau sekadar menyalurkan hobi.” Enteng saja Memet melempar kata.

“Ngawur kamu, Met!”

“Cuma orang serakah yang melakukan kesalahan seperti menyalurkan kesenangan dan hobi.” Memet menarik napas perlahan. Benaknya sesak. Ia teringat kasus yang menimpanya. Dipaksa melakukan korupsi oleh koruptor sama saja korban konyol keserakahan manusia.

Sebentar Cepi menatap mata Memet. Ia melihat pandang kosong dari bola mata sahabatnya. Ia tahu Memet, dari lubuk paling dalam, menyesali perbuatannya.  Namun semua sudah telanjur terjadi. Mengeluh bukan cara terbaik menjalani hidup.

“Apa kamu masih tertarik untuk menjadi orang terkenal, Met?”

Memet mengembus napas berat. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri menatap langit. “Tak penting jadi orang terkenal. Aku ingin jadi orang baik saja.”

Tanpa suara Memet melangkah meninggalkan Cepi yang diam termangu. Tapi, sebenarnya, ia kurang yakin dengan kata-katanya barusan.

“Kamu yakin, Met?”

“Menurutmu?”

Seperti deru kereta yang mendekat, suara tawa Cepi perlahan terdengar seperti lolongan serigala; panjang, dingin, seram. Suara lolongan itu ditimpali gelak tawa Memet yang pecah dikeriuhan lolongan Cepi.

Dua napi dengan otak miring sebelah itu terus tertawa dengan tubuh terguncang-guncang. Namun Memet tahu setelah ini Cepi akan bertanya apa yang ditertawakan. Ia pun akan menimpalinya dengan topik pembicaraan yang lain.*

 

Jakarta, 24 Januari 2014.