Sudah dibaca 468 kali

Memet menaruh sapu lidi di batang pohon. Peluhnya berleleran membasahi wajahnya yang makin gosong disengat mentari. Berteduh di bawah pohon beringin, disapu angin sepoi dari lapangan rumput di hadapannya, membuat matanya mengantuk. Baru matanya memejam sebentar, Cepi menghampirinya.

“Di pemilu 9 April nanti, kamu akan milih partai mana, Met?”

Memet menegakkan bahunya. “Milih? Apa itu penting buatku? Apa dengan memilih aku bisa keluar dari tempat ini?”

“Tentu saja tidak. Kecuali yang terpilih anak atau istrimu! Hahaha…!”

Candaan Cepi tak membuat Memet tertawa atau tersindir. Ia malah memelas. Memet kembali memasang wajah serius saat sadar ucapannya tak digubris.

“Jadi kamu tidak akan memilih saat pemilu nanti?”

“Kalau pemilu tidak mengubah kita, buat apa kita berpartisipasi?”

“Jangan egois begitu, Met. Pemilu nanti tak akan segera mengubah hidup kita. Tetap saja kita harus terus mendekam di tempat ini. Tapi lihatlah bagaimana perubahan terhadap masyarakat kita.”

“Perubahan apa? Apakah dengan pemilu kemiskinan dan pengangguran akan berkurang? Apakah pemilu juga akan mengubah orang miskin tambah sejahtera? Apakah ia bisa memberi jaminan?”

Cepi gugup. Ia belum siap menerima serangan tanya membabi buta itu. “Oh, eh, ya… tidak ada yang bisa menjamin kehidupan kita akan berubah jadi lebih baik, Met. Yang bisa menjamin ya diri kita sendiri.”

“Jadi kamu masih mau ikut pemilu?”

“Persoalannya bukan begitu, Cep.”

“Yang bermasalah itu bukan aku, kamu, atau masyarakat pemilih, Cep!” Suara Memet meninggi. Otot-otot di kepalanya menegang. “Yang salah adalah sistem yang diterapkan pada pemilu itu! Coba kau pikir. Orang-orang yang bisa nyaleg atau nyapres adalah orang-orang berkantong tebal. Harus punya duit miliaran! Orang-orang pintar dan jujur tapi tak punya duit tak akan bisa ikut nyaleg atau nyapres, Cep.”

Cepi manggut-manggut.

“Memang siapa yang menjaga agar pemilu berbiaya mahal itu terus berlanjut? Ya orang-orang berduit yang duduk di kursi legislatif! Apalagi 90% caleg DPR yang sekarang maju adalah anggota DPR periode 2009-2014. Kau tahu, kan, dampak yang terjadi kalau tiap caleg harus mengeluarkan banyak duit?”

“Saat menjabat mereka akan berusaha supaya balik modal. Bisa korupsi, kolusi, atau nepotisme. Intinya menyalahgunakan jabatan.”

“Cerdas, kau! Lalu, masih mau memilih?”

“Makanya kalau memilih, kita pilih orang yang jujur dan dekat dengan rakyat, Met. Jangan biarkan para calon koruptor menguasai DPR dan DPRD. Jangan sampai negeri ini dipimpin oleh mereka.”

“Siapa orang-orang yang jujur dan bisa dipastikan tidak akan melakukan korupsi? Kau sudah tahu orangnya?”

Cepi mati kutu. Ia tidak tahu siapa caleg yang maju di pemilu nanti. Ia pun tidak mengenal mereka.

“Jangan asal pilih, Cep! Kalau kau asal milih, misalnya karena kau dikasih duit atau diiming-imingi sesuatu, lalu wakilmu itu setelah menjabat melakukan korupsi atau dosa-dosa politik lainnya, kau akan menyesal! Kau sama saja berkontribusi menghancurkan negeri ini.”

“Jangan menakut-nakutiku ah, Met.” Bulu kuduk Cepi merinding. “Jadi aku harus bagaimana? Golput?”

“Itu terserah kamu, Cep. Yang penting kamu jangan asal pilih. Kenali dulu calon yang akan kamu pilih. Jangan sampai kamu milih orang karena alasan keartisan, sering masuk teve, atau sosoknya kontroversial.”

“Kalau hingga saat mencoblos aku tidak kenal sama sekali orang-orang itu bagaimana?”

Memet tersenyum sinis. “Kalau aku sih golput.”

Cepi berdiri. Pandangnya di lempar ke langit. Tangannya mengepal. “Berarti aku harus mencari tahu siapa saja yang nyaleg. Aku harus mengenal mereka!”

Usai berkata dengan nada tegas, Cepi segera bergegas meninggalkan Memet. Langkahnya makin lama makin cepat. Memet penasaran. Ia sangat ingin tahu apa yang akan dilakukan sahabat karibnya itu. Disusulnya Cepi hingga langkah mereka sejajar.

“Cep, kamu mau ke mana? Sepertinya kamu serius sekali?”

“Lho, justru aku yang bertanya. Kamu mau apa ikut aku?”

“Kamu sendiri mau ke mana?”

“Ke toilet. Tiba-tiba aku sakit perut.” Sembari mempercepat langkahnya, Cepi memegangi perut dan pantatnya.

Memet segera menghentikan langkahnya. Ia mengembus napas kesal. Perlahan namun pasti, hidungnya mengendus aroma busuk yang makin lama makin menyengat. “Cepi kampret!”

Jakarta, 27 Januari 2014