Sudah dibaca 454 kali

Cepi meletakkan koran di atas meja lalu pergi meninggalkan kantor Kepala Lapas. Tiap pagi, sudah seminggu ini, ia diberi kepercayaan membersihkan ruangan Kalapas. Ia belum tahu latar belakang pemberian tugas tambahan ini. Walau demikian ia menikmatinya. Sebab, dengan begitu, ia bisa membaca koran atau majalah yang diletakkan di atas meja Kalapas dengan bebas. Ia dapat banyak informasi terbaru darinya.

Masih dengan pandang mengawang, Cepi mendekati Memet yang tengah terpekur di bawah pohon beringin. Sahabat karibnya itu baru saja selesai menyapu halaman.

“Met, kira-kira, apa motivasi orang yang punya banyak mobil super alias supercar?”

Memet berdecak. Bicara soal kekayaan, hatinya selalu terantuk kepiluan. KPK telah berhasil membuatnya menjadi orang termiskin di dunia. “Macam-macam.”

“Ya macam-macam itu apa? Kau dulu juga punya banyak mobil, kan?” Sebelum disita KPK.

“Bisa saja itu penyaluran hobi, membangun status sosial, atau terkena penyakit gaya hidup glamor. Kau tahu, orang kaya selalu diintip virus yang aneh-aneh.” Memet coba merefleksikan dirinya melalui ucapan itu. Dulu, saat tajir, mobil semahal apapun bisa dia beli. Bahkan mobil Presiden AS pun, kalau dijual, bakal dia beli.

Berbeda dengan Cepi. Walau cuma punya satu mobil sedan, ia bisa naik mobil dengan nomor seri berbeda tiap hari. Tiga puluh armada angkutan kota miliknya siap mengantarnya kemana saja dia suka. Dengan begitu ia telah merasa menjadi orang terkaya di Jakarta. “Apakah ada kemungkinan motif lain? Misalnya pencucian uang?”

“Kau bicara tren orang kaya sekarang, Cep?”

“Ku kira itu tren lama. Baru kali ini saja, sekali lagi gara-gara KPK, tren itu terungkap. Yang terbaru kasus TCW, adik Gubernur Banten RAC, yang belasan supercar-nya kembali disita KPK. Katanya sih barang-barang itu produk cuci uang.”

“Jadi kau ingin bertanya apa motivasi TCW punya banyak supercar?”

Cepi tersenyum lebar.

“Mungkin ia mau beternak mobil.”

Tiba-tiba tawa Cepi meledak.

“Kau tahu, seperti kubilang tadi, orang kaya selalu diintip virus yang aneh-aneh.”

“Mungkin ia bingung menghabiskan duit dari ATM-nya yang tak pernah habis. Dia bersama istrinya Wali Kota Tangsel ARD sudah punya banyak tanah di sejumlah tempat. Begitu pula rumah.”

Lampu bohlam di kepala Cepi seketika menyala. “Kukira, soal nyuci duit, terjadi perbedaan gender, Met. Kalau TCW yang cowok sialan itu nyuci duit dengan beternak mobil, kakaknya nyuci duit dengan beli asesoris mewah macam sepatu, tas, dan kain kerudung.”

“Boleh juga teorimu, Met.”

“Kutambahkan teoriku, Met. Selain beternak mobil, laki-laki juga nyuci duit dengan nambah bini. Setelah kupelajari secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, ternyata, nambah bini merupakan jalan terampuh buat orang yang bingung menghabiskan duit. Soalnya, dengan nambah bini, dia akan beli tanah, rumah, atau apartemen buat bininya. Aku buat teori ini setelah mempelajari perilaku Jenderal DS lho, Met.” Cepi menepuk-nepuk dadanya. Jenderal DS, di mata Cepi, adalah sosok paradoks manusia Indonesia yang senang menjual diri demi segepok duit. Keteladanannya patut dicontoh oleh orang-orang berotak miring seperti dirinya.

Mendengar ucapan Cepi, Memet mendengus. Ucapan itu seperti batu bangkong yang dilempar ke arahnya dari tugu Monas. Praktik Jenderal DS juga pernah diamalkannya. Tapi, kini, ketiga istrinya telah menceraikannya. Ini yang membuat matanya semakin liar saat melihat cewek-cewek, ibu-ibu, bahkan nenek-nenek yang datang ke Lapas untuk membesuk napi.

Cepi tersadar kata-katanya barusan melukai hati Memet. Ia buru-buru minta maaf. “Aku tak bermaksud menyinggungmu, Met. Tapi…”

Sejenak suasana senyap. Cepi sengaja menggantung ucapannya. Memet menoleh ke arah Cepi. Penasaran. “Tapi apa, Cep?”

“Mungkin ini sudah takdirmu ditinggal tiga istri sekaligus.”

Cepi buru-buru kabur. Memet mengejarnya. “Ke sini kau, Cep! Kulempar RAC baru tahu rasa, kau!”*

 

Jakarta, 29 Januari 2014.