Sudah dibaca 529 kali

Suatu malam, sebuah pesan layanan singkat (SMS—Short Message Service) dari nomor 085217052191 menghampiri telepon seluler saya. Begini isinya: “hai bang, aku wanita parasku lumayan & kl abang mau kenal dgn aku dgn senang hati :) .. disaat abang sendiri, perlu ditemani & kesepian aku ada di 08091401xxx.”

Saya tak kenal pemilik nomor itu. Yang pasti, dari kata-katanya, dia perempuan—ya mungkin saja dia waria. Pesan yang sama dari nomor berbeda beberapa kali menyapa ponsel saya. Rata-rata meluncur pada malam hari.

Saya tak pernah menggubrisnya. Buat apa menghabiskan pulsa untuk perempuan atau waria yang belum jelas asal-usulnya. Lagi pula bisa saja dia menipu soal parasnya padahal ia buruk rupa. Kalaupun saya sendiri dan kesepian, saya tinggal telepon istri, baca buku, menulis, main game, atau nonton televisi.

Tapi lama-lama saya kesal. Saya lebih nyaman tidak menerima pesan itu. Lalu saya bertanya-tanya, bagaimana bisa dia mendapat nomor saya?

Memang ada sejumlah kemungkinan soal asal dia mendapat nomor saya. Pertama, asal pencet. Kedua, dari kios telepon tempat saya beli pulsa. Ketiga, dari teman saya. Keempat, dari operator telepon.

Kemungkinan pertama dan kedua akan sulit terlaksana karena dia akan bertemu dengan kemungkinan bahwa orang yang dikirimi pesan adalah perempuan. Peluang salah itu kemungkinan besar tak dipilihnya. Tak terbayang kalau tiba-tiba pemilik nomor itu ditelepon oleh seorang perempuan juga.

Saya sangsi dengan kemungkinan ketiga lantaran saya punya teman-teman baik yang tak mungkin memberikan nomor telepon saya kepada orang yang tidak baik. Nah, saya kok curiga dengan kemungkinan keempat ini.

Bukan menuduh, tapi pikiran iseng saya mengatakan mungkin saja ada operator yang jual nomor telepon ke sejumlah orang. Cuma operator telepon yang tahu identitas, salah satunya jenis kelamin, pelanggannya.

Soal jual nomor telepon, saya pernah dapat kabar dari teman saya. Ia seorang programer yang paham soal telekomunikasi. Ia mengaku bisa “merusak” nomor telepon seseorang dengan mengarahkan ribuan pesan (SMS) ke nomor dimaksud. Telepon tak bisa menerima ribuan pesan dalam waktu bersamaan sehingga memorinya rusak.

Tapi sudahlah. Saya serahkan hal ini kepada pihak kepolisian, terutama instansi yang bekerja terkait kejahatan dunia maya. Saya yakin ini modus penipuan saja.*

 

29 Januari 2014.