Sudah dibaca 479 kali

“Ada menteri yang mundur dari jabatannya, Met!” Nada sura Cepi begitu bersemangat usai keluar dari ruang Kalapas. Ia berlari keluar menemui sahabat karibnya Memet.

Memet tengah sibuk mengusap daki di lehernya. Kabar dari Cepi membuat bibirnya mengulas senyum sinis. “Kenapa? Ada yang tersandung kasus lagi? Sudah ditetapkan sebagai tersangka?”

“Bukan. Menteri Perdagangan GW mundur karena pengin khusyuk dalam keikutsertaan pada konvensi capres yang digalang Partai D.” Cepi ketularan Memet mengusap daki di lehernya. Ia baru menyadari gumpalan daki di lehernya begitu tebal setebal debu Gunung Sinabung.

“Kenapa tidak sejak awal saja mundurnya saat ia diumumkan sebagai peserta konvensi?”

“Katanya sih dulu dia pernah ngomong ke Pak Presiden yang notabene Ketua Umum PD, tapi dia tidak diizinkan. Eh sekarang diizinkan setelah kasus impor beras ilegal mencuat ke publik.” Cepi geleng-geleng kepala.

Di kepala Cepi, saraf-saraf otaknya mengalami kebingungan. Bagaimana bisa izin impor beras dari Vietnam bisa keluar padahal institusi yang berhak melakukan impor hanya Bulog. Kementerian Perdagangan bilang Kementerian Pertanian sudah beri izin. Sebaliknya, Kementan mengaku tidak pernah beri izin. Fungsi koordinasi ketahuan sekali tidak berjalan. Yang hebat sang importir yang bisa mengadali dua kementerian itu.

Kini yang galau pedagang beras karena beras ilegal itu telah merambah pasar. Importir dan orang-orang yang dapat keuntungan dari impor itu pasti sedang kipas-kipas duit.

“Sepertinya GW ini ingin mengesankan ke publik bahwa ia tokoh ksatria yang rela melepaskan jabatan. Tidak seperti menteri lain yang nunggu dijadikan tersangka baru lengser dari posisinya.” Memet memilin-milin segumpal daki dengan ibu jari dan telunjuknya lalu membuangnya dengan santai ke lantai.

Cepi menangkap maksud tersirat Memet. “Maksudmu, ada kemungkinan GW terseret kasus impor ilegal itu?” Tangan Cepi tak kalah terampil dengan Memet. Dalam waku singkat, daki yang terkumpul dari lehernya menumpuk di atas lantai. Kini tangannya beralih ke leher bagian belakang.

“Siapa tahu? Apalagi ini kan tahun politik. GW juga punya banyak saingan di konvensi PD.” Intensitas Memet saat dulu bergaul dengan para politisi memudahkannya mengenali watak dan karakter mereka.

“Padahal, kinerjanya di Kemendag nggak bagus-bagus amat ya. Kalau ada komoditas barang di dalam negeri kurang, jurus pamungkasnya impor. Pasar bebas bakal digelar setahun lagi, tapi regulasi dan neraca perdagangan kita juga nggak begitu siap untuk mengantisipasinya.” Cepi berkata seolah ahli ekonomi gelar ceramah di depan tukang asongan.

“Lalu apa yang diharapkan dari orang seperti itu?” Lagi-lagi ucapan Memet terkesan satir. Ia seperti tidak punya prasangka baik terhadap perilaku pejabat negeri ini.

“Kau bertanya padaku, Met?”

“Lha iya, masa pada kerbau?”

“Oh, jadi kamu menganggap aku seperti kerbau?”

“Lho, saya nggak bilang begitu.”

“Lha tadi kamu ngomong begitu, kok.”

“Tidak. Kamu salah dengar.”

“Oh, sekarang kamu pengin bilang pendengaranku bermasalah alias budeg? Kebangetan kamu, Met!” Usai berkata Cepi melempar gumpalan dakinya ke wajah Memet. Sebentar ia kaget dengan perbuatannya.

Memet terkejut. Gelagapan. Ia buru-buru membersihkan wajahnya. Dengan kesal, ia memilin daki di lehernya dan melemparnya ke muka Cepi.

“Hei, kamu ngajak perang?”

“Siapa takut?”

Keduanya lalu berdiri, menjaga jarak, lalu saling lempar pilinan daki.

Di atas lantai, daki-daki berserakan. Lama-lama menumpuk membentuk gunung daki.*

Jakarta, 3 Februari 2014. 11.27 WIB.