Sudah dibaca 450 kali

“Huek!”

Mata Cepi berkaca-kaca. Perutnya mengejang. Mulutnya berkali-kali membuka hendak muntah—tapi mulutnya tak mengeluarkan apa-apa kecuali air. Sementara Memet, dengan penuh perasaan, mencengkeram lehernya yang kurus.

“Kan sudah kubilang, Cep, jangan kebanyakan makan jengkol. Beginilah jadinya. Kalaupun nggak bisa nahan nafsu, jangan jengkol KW 3.” Dari benak Memet tiba-tiba muncul kekhawatiran mendalam akan keselamatan Cepi. Ia tak bisa menyembunyikan rasa takutnya akan kehilangan makhluk menyebalkan namun ngangeni itu.

“Kok sampai separah ini ya?” Cepi heran sendiri dengan metabolisme tubuhnya. Ia cuma muak dengan iklan televisi yang baru ditontonnya, tapi efek mualnya terasa berlebihan.

“Kamu tadi lihat monster sampah, raksasa menyeramkan, atau apa sih?”

“Aku tadi cuma lihat iklan sebuah partai di televisi, Cep. Aku muak sekali melihatnya.”

“Lho, memangnya ada apa dengan iklan itu? Sebusuk apa pencitraannya sehingga engkau sampai muntah sungguhan begitu?”

Cepi memegang perutnya yang mulai tenang. Ia menegakkan badan, mengambil napas panjang, menahannya agak lama, lalu mengeluarkannya bersamaan dengan lubang di bagian belakang.

Memet menjitak kepala Cepi lalu menjauh sembari memegang hidungnya. “Sialan kau!”

Cepi nyengir. “Ini personifikasi dari iklan itu juga, Met. Tak kelihatan sifat aslinya tapi terasa baunya, hehehe.”

Memet merengut. Dalam hati ia gembira melihat perubahan sahabatnya dari sekarat menjadi gembira. Prosesnya pun seperti orang yang habis dioperasi: normalisasi kinerja tubuh diawali dengan kentut.

“Begini, Met. Di iklan itu, Partai G mengumbar citra sebagai partai bersih, pro pemberantasan korupsi, dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Tapi kita semua tahu, banyak sekali kadernya yang kini tengah bermasalah dengan hukum. Sebut saja Gubernur Banten RAC, mantan Hakim MK AM, dan anggota Komisi II DPR CN yang juga bendahara MUI Pusat. Bukankah pencitraan melalui iklan itu seakan-akan ingin menimbun kenyataan buruk yang dilakukan kadernya?”

“Lha habis bagaimana lagi, Met? Citra parpol itu kan harus selalu kelihatan bersih, pro rakyat, dan antikorupsi. Kalau ada kadernya yang melanggar hukum, mereka buru-buru cuci tangan. Kalau kasusnya tidak ketahuan aparat hukum, duit hasil suap dan korupsinya untuk membesarkan pundi-pundi partai. Sedangkan kalau ketahuan, aksi kadernya dianggap tak terkait partai. Kader berprestasi diklaim hasil pengkaderan yang berhasil sementara kader bermasalah dianggap oknum yang khilaf.”

“Tapi nggak bisa begitu dong, Met!” Suara Cepi meninggi. Ucapan Memet membangkitkan libido marahnya. “Rakyat butuh bukti, bukan janji! Kau lihat Partai D! Dulu ngiklan antikorupsi: ‘Katakan Tidak pada Korupsi!’ Dari lima petinggi partai yang juga bintang di iklan itu, sudah tiga yang masuk bui; AS, AM, AU. Semuanya tersangkut kasus korupsi.”

Perlahan darah Memet memanas. Ia merasa dimarahi. Namun keterangan Cepi membuat Memet menangkap hal baru: nama petinggi Partai D yang tersangkut korupsi huruf depannya ‘A’. Dan mereka pun sebenarnya mengamalkan slogan dengan cara memlesetkannya: ‘Katakan Tidak pada(hal) Korupsi’.

Cepi melanjutkan kekesalannya. “Dengan iklan itu, mereka berhasil menipu rakyat bertahun-tahun.”

“Dan bertahun-tahun pula sebagian rakyat pemilih seperti tak peduli dengan pilihannya.”

“Hebatnya, orang yang sering muncul di iklan televisi berhasil membentuk persepsi masyarakat. Kelihatan main ke pasar, makan bareng rakyat jelata, dan memanen padi ramai-ramai meninggalkan kesan bahwa tokoh itu dekat dengan rakyat, peduli penderitaan rakyat, dan tegas. Pret!”

“Itulah hebatnya iklan. Apalagi jika ditangani oleh orang-orang profesional.”

“Jadi maumu apa sih, Met?! Kok bicaramu seolah-olah menentangku terus? Menganggap semua yang ada di hadapan kita sebagai sebuah kewajaran. Jangan-jangan kamu sudah termakan iklan.”

“Lho, mestinya aku yang bertanya padamu! Kamu marah pada iklan parpol tapi kok sewotnya ke aku?!”

Cepi gelagapan. “Habis… eh, … habis ke siapa lagi aku sewot?! Cuma kamu yang bersedia dan mau mendengar kesewotanku!”

“Kapan aku bersedia jadi tempat sewotmu?”

Cepi garuk-garuk kepala. Bingung mencari jawaban. Tiba-tiba perutnya mengejang mual. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Kamu mau muntah lagi?! Silakan muntah sendirian!”

Memet pergi dengan perasaan kesal. Di belakangnya, Cepi menjulurkan tangan hendak menggapainya, hendak minta tolong untuk kembali mencengkeram lehernya, dan merasakan kehangatan perhatian dari seorang sahabat. Tapi Memet terus melangkah hingga hilang ditelan tikungan.*

Jakarta, 4 Februari 2014.