Sudah dibaca 465 kali

Cepi mencengkeram sapu lidi dan menggerak-gerakkannya dengan membabi buta. Rumput-rumput kering yang tersapu morat-marit. Memet yang turut menyapu di dekatnya bingung.

“Ada apa, Cep? Kayak lagi galau?”

“Sekadar simulasi,” ucap Cepi tanpa memandang sahabatnya. “Aku membayangkan rumput-rumput kering ini adalah pepohonan di hutan Sumatera. Saban hari, bulan, dan tahun terbakar. Kita yang jauh dari sini hanya bisa menonton dan urut dada karena tak bisa apa-apa.”

“Masih mending di sini, Cep. Orang-orang di sana, termasuk warga Singapura, malah harus mengisap asap bakaran hutan tanpa bisa berbuat apa-apa.”

Tiba-tiba Cepi menggerak-gerakkan sapunya seperti orang kesetanan hingga rumput-rumput kering beterbangan dan mengenai tubuh Memet.

“Apa-apaan kamu, Cep? Aku tadi sudah bersihkan sampah-sampah ini, gara-gara kamu semuanya berantakan!” Memet merajuk. Ia membanting sapu lidi.

“Kamu jangan marah dong, Met. Aku kan cuma simulasi. Seandainya asap dari Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terbang ke Jakarta dan mengepung istana negara, begitulah jadinya. Kau tidak akan senyaman warga di Pulau Sumatera sana.”

“Sebenarnya kamu mau apa sih?” Memet sewot.

“Orang, kalau belum terkena dampak, bisa tenang-tenang sambil menonton penderitaan orang lain. Kalau kata Bang Iwan, ‘Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang. Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperbudak jabatan.” Cepi bernyanyi lagu Bongkar menirukan suara legenda musik Iwan Fals.

Memet geleng-geleng kepala. Benar-benar sudah miring otaknya. Ia lalu mengambil kembali sapu lidinya setelah melihat seorang sipir berjalan ke arahnya. Setelah memegang sapu, sipir itu menjauh.

“Warga Sumatera dan Singapura gelagapan dicekik asap, tapi pejabat dan politisi di Jakarta masih senang politik-politikan. Otaknya S-3, empatinya S-dungdung.”

Tuh kan makin miring.

“Aku sendiri heran. Tiap tahun hutan terbakar, mungkin tahun depan atau tahun depannya lagi terus terbakar, tapi tak ada yang bisa memberikan solusi bagaimana menghentikan kerusakan alam itu. Apakah orang pintar di negeri ini sudah hilang?”

Memet melihat Cepi seperti tengah bermonolog. Ia lalu jongkok dan menelekan sikunya di atas lutut seperti orang sedang menonton orang gila ngomong sendiri.

“Tiap tahun pejabat diganti, gubernur diganti. Yang tak pernah berganti adalah kebakaran hutan. Ia seperti bencana abadi yang dinikmati.”

“Siapa yang menikmati?” sahut Memet seperti penonton lenong yang merespon pemain lenong.

“Tentu saja orang-orang yang diuntungkan dengan terbakarnya hutan! Bisa pengusaha yang mau nanam kelapa sawit atau pejabat yang dibayar untuk cuek bebek. Lucunya, ketika pemerintah Singapura protes karena saban tahun dipaksa menghirup asap bakaran hutan, pejabat Jakarta malah balik marah. ‘Nggak usah ikut campur urusan negara lain!’ katanya. Bukannya malu dan introspeksi diri karena telah mengganggu kenyamanan tetangga, ini malah sewot.”

“Lalu kita bisa apa?” lontar Memet.

“Ngomel-ngomel sendiri.”

“Kok begitu?”

“Kalau aku jadi pejabat berwenang, aku akan mengumpulkan orang-orang kreatif untuk menyelesaikan persoalan menahun ini. Negeri ini sudah kebanyakan orang pintar; pintar berbohong, pintar menipu, pintar berkelit, pintar selingkuh. Cuma orang kreatif yang punya pikiran out of the box.”

“Apaan tuh?!” Memet berkata sembari menutup sebelah matanya menirukan pelawak JM.

“Pikirannya di luar kotak. Eh, kotaknya di luar pikiran.” Cepi mulai melantur.

“Kreativitas macam apa?”

“Itulah yang harus dipikirkan oleh kita semua! Jangan cuma diam dan menerima kenyataan! Kenapa sih orang-orang Sumatera tidak bersatu untuk keluar dari ketidaknyamanan itu? Atau jangan-jangan seperti korban banjir Jakarta yang tinggal di pinggir sungai Ciliwung yang bersyukur dengan musibah banjir tiap tahun dan tak berniat pindah rumah?”

“Kamu jangan berprasangka buruk kepada mereka, Met. Bisa jadi warga sudah berupaya tapi karena tidak disorot media, kita tidak tahu usaha mereka. Media massa kita kan sudah punya kekasih si JW itu.” Memet menyindir Gubernur DKI Jakarta JW yang menjadi media darling dan dicemburui banyak pesaingnya itu.

“Mungkin. Tapi sampai sekarang, tak ada perubahan berarti.”

“Lalu kita bisa apa?”

“Bertahan di sini.”

“Lho, kok bertahan di sini? Bukankah kita harus bergerak menyelamatkan bumi Sumatera dari kegundulan hutan?” Ucapan Memet seperti menggugat orasi Cepi. Ia berdiri dan berucap dengan nada suara berapi-api.

“Karena kita masih jadi tahanan di sini! Dasar edan! Sadar diri dong!”

Memet terkejut dikatai ‘edan’. “Hei, kamu tuh yang edan! Dari tadi ngomel nggak jelas seperti tukang obat. Dari tadi bicara melantur seperti orang kerasukan hantu asap! Kok tiba-tiba aku yang disalahkan?!” Memet kalap.

Cepi nyengir, menyadari kesalahannya. “Maaf, deh, maaf. Aku kan tadi sudah bilang. Aku sedang simulasi.”

“Simulasi edan!” Usai memaki Memet pergi sambil membanting sapu lidi dan itu sapu mencelat jauh. Kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun. Namun baru lima langkah, ia buru-buru berbalik, memungut sapu lidi, dan bergulat kembali dengan alat kebersihan itu. Ekor matanya mengawasi sipir yang kembali urung mendekatinya.

Cepi sakit perut menahan tawa.*

4 Maret 2014.