Sudah dibaca 458 kali

“Akhirnya Gubernur DKI Jakarta JW dicalonkan jadi Capres oleh partainya,” ujar Cepi sembari menyiram tanaman dengan selang air. Tanaman di hadapannya jadi tampak segar berseri.

“Kamu senang, Cep?” Memet tak memalingkan pandangnya dari kesibukan menggunting tanaman dengan gunting rumput. “Ya, kau pasti senang. Dia kan idolamu. Aku tahu itu.”

Cepi mengulas senyum. “Kukira banyak orang yang menginginkannya jadi presiden. Tapi banyak pula yang tak menginginkannya terutama saingan politiknya.”

“Menurutmu,” kali ini Memet memandang Cepi, “apa yang membuat rakyat menginginkannya jadi Capres?”

“Semua sudah tahu. Ia dekat dengan masyarakat. Senang keliling kampung alias blusukan dan menyelesaikan langsung persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Kesannya sederhana, tapi inilah yang dibutuhkan masyarakat.”

“Anehnya, kenapa para pejabat tidak melakukan hal seperti dia? Tapi malah mencemoohnya dan menganggap diri lebih baik darinya.”

Cepi nyengir. “Aku juga berpikir begitu, Met. Blusukan dan menyelesaikan persoalan masyarakat secara langsung adalah barang jualan si JW. Mestinya, kalau mereka bijak, mereka tinggal contoh atau buat inovasi baru yang ujung-ujungnya menunjukkan keberpihakan pada rakyat. Ini malah komentar yang aneh-aneh. Dibilang pencitraanlah, menghabiskan duit negaralah, de-el-el.”

Kadang Cepi tak habis pikir dengan cara berpikir para pejabat apalagi orang-orang yang bertindak sebagai wakil rakyat di gedung DPR. Mereka senang ribut-ribut di ruang sidang mengatasnamakan rakyat padahal secara kasat mata rakyat melihat apa yang mereka lakukan semata mewakili kepentingan partainya. Kondisi ini tidak akan berubah karena dari 560 anggota DPR periode 2009-2014, 507 orang mencalonkan lagi sebagai caleg periode 2014-2019. Tentu saja di antara mereka yang tidak mencalonkan diri lagi adalah para penjahat yag telah masuk bui KPK.

“Jadi, sebenarnya, tidak begitu penting sosok JW, melainkan perilakunya yang senang blusukan dan dekat rakyat yang perlu dicontoh,” simpul Memet. “Tapi aku percaya popularitas JW mencuat karena ia telah menjadi kekasih media alias media darling.”

“Apa sih yang membuat ia menjadi kekasih media? Wartawan juga manusia, bukan robot yang tak punya perasaan. Mereka senang pada sosok yang hangat, sederhana, terbuka, mudah dihubungi, dan bersahabat dengan siapa saja. Mereka sudah lama muak dengan pejabat yang sulit dikonfirmasi, asal berucap, dan selalu terkesan menyembunyikan informasi.” Cepi tampak begitu fasih jika bicara soal kritik terhadap pejabat. Sebab ia punya pengalaman buruk berhadapan dengan mereka.

“Tapi aku tidak setuju kalau dia mencalonkan diri jadi Capres!” Suara Memet terdengar meninggi. “Dia kan masih harus memimpin Jakarta! Masih banyak persoalan Jakarta yang mesti dia selesaikan; banjir, macet, korupsi, mafia rusun, de el el.”

“Lho, itu hak dia mau mencalonkan diri atau tidak dong, Met! Kamu tidak berhak intervensi!” Cepi merasa ucapan Memet terkesan berlebihan alias lebay. Di otaknya, persoalan-persoalan di Jakarta banyak diakibatkan oleh kebobrokan kepemimpinan sebelumnya yang banyak terkuak di masa kepemimpinan JW-BTP.

“Aku intervensi apa, Cep!” Memet berdiri sembari mengacungkan gunting rumput. “Aku cuma menyampaikan pendapat. Kalau kita beda pendapat tak masalah, kan?! Ini, kan, demokrasi!”

“Tapi jangan begitu, dong! Berbeda boleh, tapi jangan ngotot!”

“Aku ngotot apa?! Kamu tuh yang ngotot!”

Tiba-tiba kemarahan Cepi merambat cepat ke ubun-ubunnya. Diarahkannya selang air ke arah Memet hingga tubuh Memet basah kuyup. “Rasakan kau! Ini akibat bicara mengatasnamakan demokrasi! Hahahaha!”

Memet berupaya menutup wajahnya dari serangan air Cepi. Ia menunduk dan berhasil mengelak dari terjangan air selang yang debitnya dipercepat Cepi. Cepi yang terkekeh melihat penderitaan temannya tak sadar serangannya berhasil dihindari dan justru mengenai sipir yang tiba-tiba berdiri di belakang Memet setelah muncul dari tikungan. Sipir itu megap-megap. Matanya terpejam.

“Berhenti! Berhenti! Basyah nih basyah!”

Melihat sipir yang kena serangan, Cepi segera melempar selang dan lari ngibrit. Melihat selang tak bertuan di depannya, Memet segera meraihnya dan hendak membalas serangan Cepi. Namun naas nasib Memet. Ketika selang berada digenggamannya, sipir itu mencengkeram kerah bajunya.

“Dasar kampret! Gara-gara kau aku basah kuyup begini! Ayo cepat ikut ke kantor! Kuberi pelajaran kau!”

Memet bersumpah-sumpah bahwa bukan ia yang membasahi sipir. Tapi sipir tak peduli. Ia terus menyeret Memet sembari menyemprotinya dengan air. Di kejauhan, Cepi cekikikan. “Maafkan aku, sobat! Hidup kadang lebih keras dari politik.”*

 

Senin, 10 Maret 2014.