Sudah dibaca 505 kali

Dengan wajah jijik Memet membawa sikat ke dalam toilet dan mulai menggosok WC. Matanya dipejamkan demi tak melihat makhluk-makhluk penghuni tempat suram itu. Melihatnya, Cepi nyengir.

“Jangan terus meram begitu, Met. Nanti salah gosok lho!” ujar Cepi sembari menyikat lantai.

“Wajah sejumlah pejabat negeri ini sudah seperti barang yang sedang kusikat ini, Cep. Jijik aku melihatnya!”

“Hush, hati-hati kau bicara!” Cepi berkata dengan volume amat kecil, khawatir terdengar oleh tahanan lain atau tersadap oleh alat penyadap KPK. “Kalau ketahuan mereka, bisa diadukan kau ke polisi dengan pasal pencemaran nama baik.”

“Kita ini sudah di dalam penjara, apa masih dilarang mengutarakan pendapat? Ini kan suara rakyat, harus didengar dong!” Memet agak tersinggung jika perbuatannya dikait-kaitkan dengan pasal karet itu.

“Hush, kau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, Met! Yang berhak mengatakan mewakili suara rakyat cuma orang-orang di parlemen saja. Kita sebagai rakyat tak perlu bersuara.”

Memet menghentikan sikatannya. Ia bangkit dan mendekati telinga Cepi lalu berbisik, “Tapi, dari parlemen sana, yang terdengar cuma suara kentut saja, Cep.”

Tak dinyana ucapan Memet melebihi guyonan comic di stand up commedy. Cepi tak mampu menahan tawa dan melepasnya dengan ledakan yang santer. Gelaknya diikuti Memet. Keduanya tak peduli para tahanan yang tengah berleha-leha di atas tempat tidur terganggu.

“Woi, sinting, diam! Gue kepret jadi pejabat lu!” hardik seorang napi dari atas ranjangnya. Ia jelas-jelas marah karena ledakan tawa Cepi-Memet membuat tangannya yang sedang khusyuk memencet jerawat di jidatnya bertindak brutal: jerawat itu langsung pecah dan memuntahkan darah segar.

“Widih, sakti bener tuh orang. Dikepret aja langsung jadi pejabat. Yuk kita tereak lagi biar dikepret!” sahut Cepi dengan suara samar. Keduanya lalu tertawa cekikikan.

Kemudian keduanya kembali bergelut dengan pekerjaannya.

“Tapi aku tak setuju kalau kau menggeneralisir bahwa para pejabat negeri ini wajahnya seperti perkakas tempat mandi, Met. Ingat, masih banyak pejabat negeri ini yang bersih. Kalau tidak ada mereka, negeri ini sudah terjun bebas dari tubir kehancuran. Media saja yang senang mengangkat kebobrokan mereka dan enggan mengangkat pengabdian tulus sebagian yang lain.” Cepi coba bertindak bijak. Ia pernah membenci semua orang saat tersangkut kasus korupsi dan tak seorangpun mau mendekatinya. Namun belakangan ia merasa tersiksa dengan sikapnya. Walaupun sulit, ia mencoba berdamai dengan hatinya dan menerima apapun yang menimpa alias pasrah. Hasilnya, hatinya merasa tenang.

Memet menyiramkan cairan pembersih porselen dan menggosok lagi. Kotoran yang menempel di sekujur WC segera pergi. “Aku juga tahu, Cep. Tenang saja. Media massa sekarang, terutama televisi, sejak dikuasai oleh para pemimpin partai, kinerjanya makin buruk. Media dijadikan alat untuk memobilisasi citra baik pemilik kapital dan memobilisasi citra buruk lawan politiknya.”

“Tapi masyarakat kita cerdas, kok. Mereka yang berpikir rakyat gampang termakan pencitraan adalah orang-orang bodoh yang merasa pintar.”

Memet kadang merasa Cepi selalu berusaha menempatkan diri sebagai sosok yang bijak. Namun kadang kala ia melihat sahabat karibnya itu terlalu pede dan terkesan besar mulut.

“Bagaimana dengan hasil survei yang mengatakan sejumlah tokoh politik dipilih rakyat karena dianggap berani, membawa perubahan, dan tegas? Padahal kita lihat sendiri ia tak pernah duduk sebagai eksekutif atau melakukan kerja yang langsung bersentuhan dengan rakyat kecil.”

“Kau percaya dengan survei-survei macam itu?”

Memet menggeleng. “Itu kan sama saja menempatkan masyarakat sebagai barisan orang-orang dungu. Lihat saja, sekarang para tokoh partai dan non partai yang ingin jadi presiden beriklan di televisi. Dibuatlah skenario mereka menolong rakyat kecil, berdiskusi, atau mau mendengarkan keluh kesah wong cilik. Lalu dengan begitu akan muncul kesan bahwa mereka pro rakyat. Pret!”

Ucapan “Pret!” dari mulut Memet begitu kencang seperti letusan erupsi Gunung Sinabung. Imbasnya, napi yang masih sibuk ‘merawat’ jerawatnya kembali harus menelan celaka: jerawat keduanya pecah. Darah segar kembali tumpah ruah menggenangi sekujur pipinya yang begajulan akan jerawat batu.

Ketika Memet hendak membuka mulut lagi, napi itu sudah berdiri di hadapannya. Telinganya terasa panas dan nyeri luar biasa ketika tangan kasar lelaki itu berputar 180 derajat. Memet mengaduh panjang.

“Lu itu kayak pejabat aja sih, omongannya nggak disaring dulu! Suara mulut dan suara kentut hampir nggak bisa dibedakan! Sini gue beri lu!”

Napi itu memegang jambang Memet dan menyeretnya ke tengah ruangan. Memet tak berani melawan. Ia membiarkan dirinya ditarik seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Ia pun tak bermaksud meminta pertolongan Cepi. Sebaliknya, ia malah mempersembahkan seulas senyum terindah kepadanya. Sebab, di depan Cepi, telah berdiri napi lain yang tengah merapal tinju dan siap dilepaskan dengan kekuatan super.*

 

Mamuju, Sulawesi Barat. Selasa, 11 Maret 2014.