Sudah dibaca 487 kali

Cepi menarik ujung kerah kausnya berkali-kali demi mendinginkan sekujur tubuhnya yang dipenuhi keringat. Siang ini terasa begitu panas, membuat tubuh dan pikirannya ikut-ikutan panas.

Di sampingnya, Memet memandang sahabatnya dicekam gelisah. Ia merasa situasi politik Jakarta yang tengah memanas berimbas hingga kawasan penjara tempat mereka kini bermukim.

“Sebaiknya kau tidak usah ikut gelisah seperti para caleg yang gagal masuk parlemen, Cep,” ujar Memet sok tahu. “Nasib kita dan mereka kan beda.”

Cepi mendesah, menoleh sebentar ke arah Memet. “Entahlah, Cep. Aku juga heran sendiri. Mereka yang galau kok aku ikut-ikutan galau. Mungkin ini yang namanya efek pemilu.”

Memet cekikikan sembari memukul bahu Cepi. “Kau itu, kalau kupikir-pikir, seperti negarawan saja, memikirkan nasib orang lain sementara orang lain memikirkan nasibnya sendiri.”

“Aku tak layak menyandang status negarawan, Met. Aku, eh, kita ini cuma sampah. Yang namanya sampah, apapun kata-kata yang keluar dari mulut kita tetap saja sampah. Berbeda dengan orang-orang di parlemen sana.”

“Meskipun mereka bukan sampah, tapi kata-kata dan perilaku mereka banyak yang nyampah, Cep. Lalu apa bedanya dengan kita? Bahkan, mereka yang terancam gagal kembali duduk di parlemen, malah menyalah-nyalahkan orang lain.”

Pada pemilu tahun 2014 ini, pergeseran peta politik begitu tajam. Berdasarkan hitung cepat alias quick count, Partai DIP yang pada dua periode pemerintahan sebelumnya mengambil posisi oposisi, kini menduduki posisi puncak. Sementara Partai D yang sebelumnya berkuasa terjungkal di posisi empat. Sebaliknya, Partai G pimpinan mantan Komandan Kopassus PS melejit ke posisi tiga. Imbas terbesar dari pergeseran peta politik itu adalah merosotnya jumlah caleg partai yang kalah bersaing.

“Ada yang bilang, di antara penyelenggaraan pemilu yang pernah digelar di negeri ini, pemilu 2014 adalah yang paling buruk. Sebab pelanggaran massal terjadi di mana-mana, baik yang dilakukan oleh caleg, panitia pemungutan suara tingkat keluarahan dan kecamatan, KPU daerah, maupun masyarakat sendiri. Akhirnya pemilu tak bisa digelar serentak dan sejumlah daerah melakukan pemungutan suara ulang.” Cepi mendesah seolah itu semua bermasalah terhadap dirinya.

“Banyak yang menuding telah terjadi penggelembungan suara, jual-beli suara, dan penghilangan suara,” sambung Memet. “Kita pun mulai melihat para caleg stres bermunculan di mana-mana.”

“Aku rasa ini akibat sistem pemilu kita yang berorientasi pasar: yang berduit yang berkuasa. Akhirnya pemilu cuma jadi ajang transaksi suara belaka. Sebagian orang menganggap pemilu adalah proyek mendulang duit. Sejak awal mereka menempati posisi di PPS, juru kampanye, dan konsultan politik. Sementara yang berduit menganggap pemilu adalah ajang menjaring kuasa. Masyarakat pun tak mau ambil pusing. Apa yang bisa diambil ya diambil. Caleg nyebar duit, sikat! Bodo amat dengan hukum dan demokrasi.” Ucapan Cepi terasa berapi-api.

“Pemilu, maksudmu, cuma jadi bancakan orang-orang yang nyari duit?” Memet berusaha menangkap maksud Cepi.

“Tidak sampai di situ. Ini ada hubungan simbiosis mutualisme dari hulu hingga hilir. Hulu adalah para pembuat undang-undang. Mereka membuat sistem dan infrastruktur yang menetapkan pemilu berbiaya mahal dan terbuka pada berbagai pelanggaran. Para pelanggarnya dijauhkan dari kondisi yang membuat mereka takut beraksi.

“Sementara hilir adalah masyarakat di tingkat RT hingga kelurahan yang menjadi pelaksana lapangan. Di satu sisi mereka menjadi pelaku utama, memainkan perannya secara sendiri-sendiri dan berkelompok menjual suara. Di sisi lain mereka pesuruh yang dimainkan oleh orang-orang berduit.”

Memet mengernyitkan dahi. Kalau begitu, persoalannya sangat kompleks. “Menurutmu, apakah mereka sadar perilakunya merugikan banyak orang?”

Cepi cekikikan, merasa geli dengan pertanyaan Memet. “Ini sama dengan pengendara motor berknalpot cempreng dan berasap tebal. Mereka sangat sadar suara motor mereka mengganggu pendengaran orang lain dan asapnya dapat merusak pernapasan orang-orang di sekitarnya, tapi apa peduli mereka?”

“Lalu, menurutmu, kita harus bagaimana, Cep?”

“Kita? Kita masih akan terus menggerutu dan melempar sumpah serapah kepada mereka. Kita cuma rakyat kecil yang tak bisa mengubah negara.”

Memet tertunduk. Benaknya dicekam pesimistis. “Sekarang saja para petinggi parpol adu siasat menjalin koalisi untuk bisa duduk di singgasana kekuasaan. Kukira tak ada yang beda dengan yang sudah-sudah. Dagang sapi, kucing dalam karung, ah pusing aku, Cep.”

Sejenak keduanya hanyut dalam sunyi. Bingung harus berbuat apa untuk mengubah negara yang terus bergerak ke arah kemunduran ini.

“Kenapa kita memikirkan negara? Diri sendiri saja nggak beres.” Cepi seperti mendapat ilham. Wajahnya seketika berubah ceria. “Kalau kita menjalani hidup dengan baik, kenapa kita harus bersedih?”

“Kamu betul, Cep. Kalau tiap individu baik, lalu meluas ke masyarakat, maka negara ini otomatis akan berubah. Betul?”

“Aku setuju. Minimal kita tidak ikut-ikutan keblinger seperti mereka yang menjual diri demi segepok duit.”

“Jadi, tunggu apa lagi?”

Keduanya saling memandang. Lalu keduanya tertawa terbahak-bahak. Melepas semua beban di hati. Tawa itu terus menggema karena kegalauan hati keduanya belum ingin beranjak.*

 Denpasar, Bali. 6 Mei 2014.