Sudah dibaca 585 kali

“Perilaku parpol ternyata sulit ditebak ya, Met!” Cepi mendesah berat seolah tak kuasa menahan persoalan bangsa. “Dari tiga partai besar pemenang pemilu, partai urutan I dan III yang mengajukan capres dan cawapres. Sementara partai urutan II yaitu PG harus menelan pil pahit sebagai pecundang.”

Memet menoleh sebentar ke arah Cepi. Ia merasa sama kagetnya dengan Cepi. PG dipimpin oleh ARB yang telah menghabiskan duit banyak untuk kampanye pencapresannya. Tiap hari  beriklan di televisi miliknya. Tapi saat partainya keluar sebagai juara II pemenang pemilu, tak satupun partai mau bermitra dengannya. Tak ada yang sudi mengangkat ARB sebagai capres.

“Bahkan PD di bawah kendali Presiden SBY ogah bermitra dengannya. Mereka memilih autis daripada berkencan dengannya. Untug saja PS mau menampungnya dalam gerbong koalisi.” Memet menghela napas berat.

“Tapi sekarang sudah jelas capres-cawapresnya. JW dan JK versus PS dan HR. PDIP yang mengusung JW-JK didukung PND, PKB, PHNR, dan PKPI. Sementara PS-HR diusung oleh PGIR, PPP, PKS, PPP, PBB, dan PG. Menurutmu, pasangan mana yang ideal, Met?”

“Tak ada yang ideal. Semua kandidat punya kelemahan dan kelebihan. Yang pasti, kedua kubu sama-sama berupaya menunjukkan sosok sempurna di hadapan rakyat.” Memet mendesah berat. Ia tak melihat perbedaan pemilu lalu dengan sekarang. Capres lebih senang adu citra daripada adu gagasan. “Aku agak pesimis dengan perubahan Indonesia usai punya presiden baru.”

Cepi memasang telinga lebar-lebar.

“Bukankah barang dagangan yang dijajakan para capres dan tim suksesnya dari pemilu ke pemilu sama? Kesejahteraanlah, keadilanlah, pemerataanlah, pemberantasan korupsilah… Tapi setelah itu siapa yang bisa memaksa mereka konsekuen dengan semua janjinya? Lihat sekarang! Utang kita terus meningkat. Kemiskinan masih saja terserak di mana-mana. Impor sayuran dan buah-buahan makin meluas. Koruptor tak habis-habisnya bermunculan walau terus ditangkapi KPK.”

“Jadi?” Pertanyaan Cepi menggantung.

“Daripada melakukan penguatan kepada masing-masing capres, mending penguatan ditujukan terhadap posisi rakyat. Bagaimana kepentingan rakyat menjadi prioritas utama di atas kepentingan penguasa dan partai-partai pendukungnya.” Suara Memet sepanas obor. Ia jengah melihat perilaku penguasa dan kader-kader partai yang tak malu-malu lagi melakukan pelanggaran etika bernegara. Bicara Pancasila, menjunjung tinggi NKRI, membela kepentingan rakyat, bla bla bla, tapi korupsi jalan terus. Bagi-bagi kekusaan, menguras duit rakyat lewat APBN.

“Penguatan posisi rakyat? Apa maksudmu, Met?” Cepi garuk-garuk kepala. Setahu dia, wacana penguatan posisi rakyat di tengah arus pilpres tak pernah terdengar. Bahkan memang tak pernah menjadi isu utama pada pemilu-pemilu sebelumnya. Saat memasuki pileg dan pilpres, otak rakyat seperti diarahkan untuk hanya peduli pada dua isu itu. Bahkan kaum golput pun tak peduli dengannya.

Memet berusaha menyusun kalimatnya sejelas mungkin. Ia tak ingin setelah menjelaskan berbusa-busa, Cepi hanya berkata, “Ohhhh….”

“Kok kamu diam, Met? Jangan sok autis gitu deh…” Cepi tak sabar mendengar penjelasan Memet.

“Pemilik kedaulatan negara adalah rakyat. Mestinya Presiden, menteri, anggota DPR, dan para pejabat bekerja untuk kemakmuran rakyat. Mestinya mereka merasa berdosa jika kinerjanya buruk atau malah melanggar konstitusi. Kenyataannya malah sebaliknya. Setelah berkuasa, mereka kembali memaksa rakyat menelan kebijakan-kebijakan pahit. Kemakmuran hnya untuk keluarga, kroni, dan kolega partainya. Konstitusi hanya jadi mainan oleh para pembuatnya. Ironisnya, rakyat hanya bisa gigit jari. Harus menahan diri dengan jejalan janji-janji palsu. Prettt!”

“Prettt!!!”

Fatal. Sangat fatal. Ujung celoteh Memet diakhiri dengan getaran lidah ‘Prettt!’ yang getir. Tapi ‘Prettt!’ berikutnya berasal dari getaran brutu Cepi yang melengking panjang, terdengar begitu aneh, sarkastis, dan mengandung kutukan.

Seketika uap kematian merebak ke mana-mana. Cepi yang juga kaget dengan ulah brutu liarnya segera menutupnya dengan kedua tangannya. Ia merasa malu berat. Sementara Memet sekuat tenaga menutup hidungnya dan bernapas melalui mulut.

Suasana makin gawat. Ruang isolasi itu begitu sempit. Memet menggedor-gedor pintul sel sembari meneriaki sipir. “Pir, pir, ada gas beracun!” ucapnya dengan suara bindeng.

Sampai sipir membuka pintu, Memet melihat Cepi jatuh lemas. Kedua tangannya masih memegangi brutunya.*

 

Kunciran, Tangerang. Ahad, 8 Juni 2014.