Sudah dibaca 441 kali

Cepi mendatangi Memet dengan wajah garang. Handuk kecil yang kuyup dengan keringatnya dilempar ke wajah Memet.

”Memet sompret! Sudah main politik di Lapas ini kamu hah?!”

Memet yang kaget gelagapan, buru-buru melempar handuk itu dari wajahnya, bersin lantaran tak kuat menahan aroma bacin dari handuk Cepi, lalu mendengus penuh kesumat.

”Apa maksudmu, Cep! Aku dulu memang politikus, tapi sekarang karierku sudah habis! Jangan menuduh yang nggak-nggak ya!”

Cepi menarik handuk bacinnya yang tadi dilempar Memet kemudian hinggap di wajahnya. Dalam hati ia menyesal handuknya kini rangkap bau bacinnya.

”Semua orang di Lapas ini tahu semua kejelekanku. Setelah kulacak, ternyata orang yang menyebarkannya adalah kau, Met! Tak kusangka dirimu tega melakukannya! Kita sahabat karib, tak seharusnya menebar kejelekan di antara kita kepada orang lain!” Dada Cepi naik-turun tak kuat menahan api kemarahan yang membakar sekam di hatinya.

”Memang apa yang kau dengar dari mereka?”

”Mereka bilang kalau tidur aku mendengkur, suka ngupil dan membuangnya di sembarang lokasi, kentutpun tak pandang tempat. Bahkan, yang tak aku terima, kau membocorkan rahasiaku yang paling kujaga: aku ingin kabur dari Lapas ini. Ayo ngaku, kamu kan yang menyebarkannya?!”

Baru Memet buka mulut, celoteh Cepi kembali terdengar.

”Aku tahu motifmu, Met! Kamu cemburu, kan, bahwa aku kini jadi orang kepercayaan Kalapas. Cuma aku yang dibolehkan membersihkan ruang kerjanya. Dengan menyebarkan kabar itu ke orang-orang, kau ingin menyingkirkan aku dan menempati posisiku. Iya, kan?”

Memet tak menunjukkan wajah marah atau takut. Sebaliknya, air mukanya mengesankan sikap tenang seorang jenderal menghadapi musuh-musuhnya.

”Apa kejelekan yang kamu sebut tadi benar-benar kamu lakukan?” Ucapan Memet terdengar santun.

”Aku, aku…” Cepi tak menduga pertanyaan itu terlontar dan berubah menjadi cambuk yang melecut kulit nyalinya.

”Berarti aku tidak melakukan kampanye hitam, dong!”

”Lalu kamu mau bilang cuma melakukan kampanye negatif, begitu?!” Suara Cepi terdengar sewot. Ia mengakui perilaku itu dilakukannya, namun ia tak terima jika disebarkan ke orang-orang. Ia telah menganggap Memet sebagai sahabat dan seharusnya sahabat menjaga segala rahasia pribadi sahabatnya.

Memet terdiam sejenak. Ia mengingat-ingat kapan terakhir bicara dengan teman satu tahanan tentang perilaku negatif Cepi.

”Kau janganlah mengikuti perilaku orang-orang stres di masa pilpres ini, Met! Aib orang diumbar ke publik macam infotainment. Parahnya, banyak sekali yang melakukan penistaan, kebohongan, dan omong kosong. Kita masyarakat dibuat bingung seolah kedua capres jelek. Akhirnya mereka yang gelar perang di dunia maya lewat jejaring sosial bikin masyarakat tak lagi percaya dengan pilihan yang ada.”

Memet mendesah, bingung harus memulai dari mana. Ia sepenuhnya sadar menyebarkan aib orang, bagi sebagian orang, adalah kegiatan menyenangkan. Namun ia pun tahu tujuan mereka cuma memecah belah dan membuat ketidakpercayaan di antara komponen masyarakat. Kalau di antara masyarakat rasa percaya antarsesama hilang, akan hancurlah masyarakat itu. Mereka terjebak di dua kubu dan media secara sadar memanas-manasi semua ketegangan.

”Sudah, akui saja kesalahanmu!”

”Aku ingat! Aku pernah bercerita kepada seorang teman tentang kebiasaan jelekmu. Tapi aku bilang ke dia agar tidak menyebarkan ke orang lain.”

Cepi mendengus. ”Ketika ia bercerita kepada orang ke seribu pun ia akan bilang begitu.”

”Habis waktu itu aku kesal padamu, Cep! Kau pakai toilet lama sekali. Aku sampai keringat dingin menahan hajat. Ketika kau keluar dan aku masuk, dia ngambek nggak mau keluar. Aku rayu, dia menolak. Kesal, kuancam dia: kalau sampai hitungan ketiga tak keluar, aku tak akan pernah membiarkannya keluar. Ternyata dia menyambut tantanganku. Kuhitung sampai 100, ia malah bandel. Matilah aku!”

Cepi terdiam. Mungkin, bila di posisinya, ia akan melakukan hal sama. Kalau dipikir-pikir pula, ternyata banyak sekali ketidakadilan yang dilakukannya kepada Memet.

”Baiklah, aku minta maaf kepadamu, Cep. Aku khilaf telah menyebarkan aibmu kepada orang lain. Tapi, kudengar, kau pun melakukan kampanye negatif terhadap diriku. Kata mereka, kau pernah bilang bahwa aku sering mengigau, malas gosok gigi dan keramas, serta tak jarang memakai CD side-A side B dalam sehari.”

Cepi garuk-garuk kepala. Bibirnya sumringah. ”Habis, waktu itu, kamu gedor-gedor pintu toilet seperti orang dikejar anjing. Aku stres. Makhluk ajaib yang ingin kukeluarkan menolak menuruti perintahku. Kurayu dia, tapi tak berhasil. Geram, kuancam dia: kalau tak mau keluar, aku tak akan pernah memaafkanmu.”

Kini keduanya saling adu pandang dan lempar senyum.*

 Tangerang. Ahad, 22 Juni 2014.