Sudah dibaca 573 kali

Jumat sore, 1 Mei 2009, suasana halaman Gedung Departemen Pendidikan Nasional di Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, tampak sibuk. Tenda-tenda biru-putih berdiri di depan lobi. Di bagian dalam Gedung A tersusun rapi meja dan kursi sebagai tempat perjamuan makan. Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Depdiknas selalu disibukkan dengan persiapan seremonial upacara 2 Mei.

Sabtu pagi, 2 Mei 2009, garasi mobil milik Ketua  PKK RW 01 Duren Sawit, Jakarta Timur, Bu Komariyah, disesaki meja dan kursi warna-warni. Satu per satu siswa-siwi Pendidikan Anak Usia Dini Nusa Indah Kelas B berdatangan. Sementara siswa-siswi kelas A mengambil tempat di teras rumah Ketua RW 01 Sukro Basuki. Itulah hari pertama sejak tempat kegiatan yang biasanya digelar di Balai Warga RW 01 dipindah. Direncanakan Balai Warga akan dipugar.

Lantaran lokasi yang kurang mendukung, kegiatan rutin senam pagi ditiadakan. Siswa-siswi langsung belajar. Ruangan berukuran sekitar 4×8 meter itu beratap asbes dan berlantai conblock. Kursi-bangku disusun dalam dua banjar 4-2. Cukup sesak.

Namun kondisi demikian tak membuat warga belajar mengeluh. Keceriaan tetap tersungging dari bibir-bibir mungil mereka. Jalan masuk yang merupakan akses jalan para penghuni kontrakan milik Bu Komaroyah dijadikan sarana bermain. Dan hari ini, belum dilakukan di hari-hari sebelumnya, pelajaran di dalam kelas dikombinasikan dengan belajar di luar kelas.

Di dalam kelas mereka belajar Bahasa Inggris. Di luar kelas, tepatnya di jalan itu, siswa-siswi diajak untuk bermain ‘Ular Naga’. Barangkali sebagian besar dari mereka tak pernah memainkannya. Sebab saat bernyanyi ‘Ular Naga’, hanya sedikit yang hafal. Aturan pun sebagian mereka langgar. Namun itu tak mengurangi keceriaan mereka.

Usai bermain ‘Ular Naga’, mereka kembali masuk ‘kelas’. Seperti biasa, sebelum pulang, siswa-siswi menyimak dongeng yang saya bawakan. Hari ini dongengnya berjudul ‘Rio dan Pangeran Kucing Pelangi’.

Paradoks
Yang ada dalam pikiran saya hari ini adalah paradoksal Hardiknas. Situasi paradoks yang langsung saya alami. Bagaimana sebuah peringatan besar di sebuah tempat berlangsung mewah, sementara di tempat lain, di sebuah gang kecil Kampung Cilungup, sekitar 50 meter dari Kantor Camat Duren Sawit, berlangsung proses pembelajaran yang sarana-prasarananya kurang menunjang. Saya bisa saja meliput peringatan Hardiknas di Gedung Depdiknas, mewawancarai sejumlah pejabat penting dan meminta komentar mereka ihwal kemajuan pembangunan pendidikan nasional. Namun saya lebih memilih bergelut dengan ‘para tokoh bangsa yang masih kecil’. Bermain bersama mereka dan dalam hati mempertanyakan kemajuan pembangunan pendidikan yang belum menyentuh PAUD Nusa Indah.

Kendati sudah berjalan dua tahun, Nusa Indah belum tersentuh bantuan pemerintah. Hanya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang riil memberi kontribusi berupa pengadaan meja dan kursi kendati jalan masuknya lewat proposal RW—Nusa Indah hanya bagian kecil dalam pengajuan pendanaan.

Pernah proposal pengajuan dana dikirim ke kantor Walikota Jakarta Timur pada akhir 2008. Namun karena tidak langsung diproses oleh petugas, proposal dikembalikan. Alasannya, anggaran pengeluaran sudah tutup buku. Harus bikin proposal baru.

Sebelumnya, lewat HIMPAUDI, organisasi bagi tenaga kependidikan PAUD, pemerintah melakukan pendataan tenaga guru/tutor. Tiap guru dan penyelenggara PAUD dipungut biaya administrasi pendaftaran Rp 50 ribu. Mereka dijanjikan akan diberi tunjangan Rp 600 ribu per tahun yang dikirim ke rekening masing-masing. Namun hingga kini janji itu belum terealisasi. Nusa Indah masih menggantungkan pendanaan dari iuran orangtua siswa Rp 10 ribu/anak serta donatur.

Toh kenyataannya Nusa Indah masih tetap berdiri tanpa bantuan pemerintah. Swadaya masyarakat menjadi tulang punggung pendanaan operasional. Namun alangkah baiknya jika pemerintah menyokong dana sehingga fasilitas pembelajaran Nusa Indah meningkat. Dan ‘para tokoh bangsa yang masih kecil’ ini dapat berkembang optimal.*