Spread the love

Sudah dibaca 853 kali

Suasana gedung Bioskop Buaran Teater 1 agak gelap menjelang pemutaran film Spiderman 3. Aku duduk di bangku I 13, diapit dua pasang muda-mudi. Sesekali aku menyisir pandang sekeliling; banyak bangku tak terisi. Aku berpikir, pada kemana orang-orang yang memegang karcis? Bukankah karcis masuk untuk pemutaran film gelombang kedua sudah habis terjual? Ini saja aku membelinya setengah jam sebelum pemutaran film gelombang pertama—aku datang terlambat dan terpaksa membeli karcis gelombang kedua karena karcis untuk gelombang pertama sudah habis.

 

Beberapa menit sebelum film diputar, aku mengirim pesan layanan singkat (SMS) iseng ke tiga teman. Isinya begini: “Sst…tenang, sebentar lagi Spiderman 3 diputar. Alow…, seperti biasa si jomblo sendirian. Duh, aku diapit dua pasang muda-mudi yang lagi bermesraan. Bagaimana ini? ;=)”.

 

Begitulah. Tiap aku nonton film bioskop di Buaran Teater, Pondok Kopi, Jakarta Timur, aku selalu sendiri. Maklum tidak punya pacar. Biasanya aku nonton Senin dengan harga istimewa alias nomat (nonton hemat); dari harga biasa Rp 15 ribu menjadi Rp 10 ribu. Nonton di gelombang pertama sekitar pukul 14.00. Aku masih ingat, film pertama yang kutonton setelah sekitar 10 tahun tak menjamah bioskop adalah Lord of The Rings 3.

 

Beberapa lama kemudian adikku yang sedang berada di rumah menjawab SMS: “Kasiaa…an deh lho..oo!”. Aku tertawa. Temanku yang lain menjawab dengan sebuah kesedihan. Ia sedih karena anaknya yang baru berusia setahun sedang terserang sakit serius—flek paru-paru. Kepalanya juga benjol lantaran terjatuh dari bangku lalu didekap demam. Ia merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik. Ya Tuhan, aku merasa bersalah padanya. Kemudian aku membalas SMS-nya agar ia sabar dan tidak perlu terus bersedih.

 

Sebuah SMS curahan hati (curhat) dari temanku di Lombok, Nusa Tenggara Barat, masuk. Ia berkata bahwa Senin 7 Mei itu merupakan hari yang melelahkan. Tugas-tugasnya sebagai guru Bahasa Indonesia membuatnya lelah. Aku menghiburnya lalu mengirimkan SMS itu. Menjawab dia, “Wah, enak bisa nonton. Istighfar aja!”.

 

Spiderman 3 tayang. Aku membetulkan posisi duduk. Serius. Tiba-tiba suasana gedung riuh. Orang-orang berdatangan mengambil posisi duduk sesuai karcis. Deretan bangku kosong di belakang tempat dudukku diisi oleh satu keluarga yang memiliki banyak anak! Aku jadi teringat saat nonton Superman Returns beberapa waktu lalu. Aku diganggu oleh beberapa anak kecil yang berlarian ke sana kemari. Dan benar saja, saat film diputar, seru-serunya, beberapa anak di belakangku gaduh, menendang-nendang bangkuku. “Grr…”

 

Sebuah SMS masuk. Balasan terhadap SMS yang kukirim padanya. Ia baru saja megikuti seminar jurnalistik dan mendapatkan sebuah buku teranyar karangan Moammar Emka—penulis buku best seller Jakarta Under Cover—setelah sebelumnya dikerjai dulu olehnya. Satu kalimat darinya kutuliskan di sini, “Kalo ada orang bermesraan, gangguin aja, he..he…Jadi setan beneran”.

 

Aku mengulas senyum kecil usai membaca SMS-nya. Kulihat lagi sepasang muda-mudi di samping kananku. Yang lelaki sibuk meraba wajah si perempuan sambil berusaha memeluk dari tempat duduknya, sementara si perempuan menujukan pandangannya ke layar film. Kukirimi lagi temanku sebuah SMS. Isinya tentang agresivitas muda-mudi itu yang mulai hangat di pertengahan film. Temanku membalas, “Haha..Mas ini aneh deh. Mau nonton orang berpelukan atau nonton Spiderman 3?” Aku tidak membalas SMS-nya. Hanya tertawa karena ia memang berkata benar.

 

Terus terang saja aku merasa terganggu dengan aktivitas dua pasang muda-mudi di samping kanan-kiriku. Tapi aku tidak punya alasan baik kenapa aku harus terganggu oleh mereka. Tapi memang aku tidak mujur hari itu.

 

Sebelum-sebelumnya aku nonton di antara anak-anak sekolah yang biasanya bersama rombongan sekelasnya. Ya, bioskop Buaran dekat dengan beberapa sekolah. Tarifnya terjangkau kantong dan gedungnya lumayan bagus walau tidak semegah bioskop 21.

 

Soal asmara, aku orang yang sangat cuek. Terlebih bila berada dekat dengan orang yang sedang memadu asmara atau pacaran. Bioskop tempat nonton film dengan beragam motivasi, dan aku termasuk orang yang menikmatinya sebagai hiburan dan menambah daya imajinasiku. Yah, uruslah kepentingan masing-masing, pikirku. Hanya saja aku memang selalu iseng bila melihat orang pacaran. Sekadar melihat aktivitas mereka saat memadu kasih, terlebih di tempat gelap macam bioskop. Dan aku menarik kesimpulan, motivasi dua pasang muda-mudi berbeda saat memasuki gedung bioskop. Yang mudi benar-benar ingin menonton dan menikmati traktiran cowoknya, sementara yang cowok ‘menikmati’ kesempatan duduk di samping cewek yang serius menujukan pandangan ke layar film.

 

Soal pacaran, barangkali aku orang paling kasihan. Aku tak pernah merasakannya. Bukan karena tidak bisa atau tidak laku, namun memang tidak ingin saja. Sayang, gairah muda dihabiskan untuk menjalin asmara. Nanti saja kalau sudah menikah, pikirku.

 

Tapi bukan berarti aku tidak tahu soal dunia asmara. Dulu, waktu masih kuliah, aku sering jadi tempat curhat beberapa teman yang gagal atau sedang menjalin asmara. Kebanyakan mereka memiliki jam terbang tinggi dalam berpacaran—bisa lebih dari lima kali. Aku membantu sebisanya. Tepatnya, aku menggali seluk-beluk dan pernak-pernik kisah mereka dan merekamnya dalam ingatanku untuk dijadikan bahan menulis. Bagaimana aku bisa menulis perihal cinta dua manusia kalau merasakannya saja tidak pernah? Bagaimana merasakan sakit hati, patah hati, cemburu, gelisah, bergairah, senang, sedih. Maka aku memerlukan berada di dekat mereka untuk mengetahui segala permasalahan yang dihadapi.

 

Spiderman 3 sendiri ternyata mengumbar banyak adegan ciuman. Sialan! Saat adegan ini berlangsung, suara-suara riuh menggema mengisi ruangan. Intinya berteriak, “Seru! Teruskan!”. Brengseknya, saat jeda menjelang adegan berciuman, beberapa anak kecil di belakangku teriak kompak dengan nada bersemangat, “Cium! Cium! Cium!”. Yah, dilematis juga. Film ini jelas-jelas ditujukan untuk remaja, tapi orang tua mengajak anak-anaknya ikut menonton. Film superhero memang menarik minat semua kalangan usia, dari anak-anak hingga orang tua. Namun tetap saja kehidupan orang dewasa yang dimunculkan. Terlebih film-film Hollywood tak pernah lepas dari adegan seks dan kekerasan.

 

Hari itu aku pulang dengan perasaan lega. Adegan laganya bagus. Yang kusayangkan, kerja-kerja kewartawanan Peter Parker sebagai juru foto tidak ditonjolkan. Padahal, salah satu motivasiku menonton film-film seperti itu adalah karena profesi jurnalistik yang disandang para tokohnya, seperti Clark Kent dan Louis Lane dalam Superman.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 16 Mei 2007.